Sikap terhadap Ahok & Al-maidah

Kepada media, aku sudah punya sikap.

Prinsipku hanya menyerap ”what” dari unsur berita yang ada. Ketika ada suatu informasi, misalnya: Ahok melecehkan islam dengan menganggap Al-Maidah ayat 51 adalah kebohongan. Bla.. blaa.. blaa..

Televisi, koran, radio, dan media sosial gempar olehnya. 5 W 1 H bertebaran dengan berbagai versi. Sudut pandang yang dipakai beda. Ibarat kita sedang melihat lemari, bagian depan bagus terias oleh aksesoris dan kaca yang imut. Belum tentu orang lain sepakat kalau lemari yang sama dilihat dari belakang penuh dengan debu dan sarang laba-laba.

Bahkan banyak yang menghujat, mengejek, merendahkan, memarahi, menghakimi, hingga melenceng pada pelengseran sebagai gubernur. Ada yang terlalu jauh mengarah pada perang politik menyambut Pesta Akbar Demokrasi 2017 dalam bentuk Pilkada itu.

Ada yang lebih jauh lagi menarik kebelakang dan khawati, bahwa dominasi China mungkin sedang turun, jangan-jangan dominasi Amerika dan sekutunya menguat kembali.

Netizen riuh bak buih ombak di lautan luas. Tak ada habisnya. Tak henti-hentinya. Dengan analisa dan pengetahuan yang sempit, komentar sarkas mereka lontarkan. Dangkal sekali. Ironisnya, komentar ngawur netizen sekarang mulai jadi bahan bikin berita di media media kentir Nasional. Kacau.

Mereka tak sempat untuk berpikir jernih menelaah peristiwa yang terjadi, possibility kesalahan peerjemahan maksud dan tujuan, ataupun tentang cakupan sebab akibat yang lebih jauh.

Tau A, tembak yang B. Berdasar dari sumber A, salahkan yang B. Adu domba media sebagai penyedia 5 W 1 H yang telah diolah di dapur redaksi sesuai dengan kepentingan sangat mencolok.

Apa yang terjadi?

Stand saya: Hanya melihat ”what is the issue?”

Tidak perlu melihat analisis yang dibikin oleh media-media. Karena mereka dapat dari narasumber yang belum tentu valid dan faktual. Belum lagi polesan redaktur. Pengaruh kepentingan dan visi misi media tersebut. Condong ke parpol apa. Dan masih banyak yang lain.

Aku tidak percaya pada why when who where how dari sebuah berita yang disajikan di media cetak atau elektronik. Aku cukup what saja. Dan akan aku identifikasi sendiri masalahnya. Kemudian mencari pembanding untuk tahu analisanya. Dan action atau sikap yang aku ambil, otentik dari sudut pandangku sendiri.

Suci, bersih, jernih tak tercampur oleh kepentingan apapun. Murni opini pribadi. Dengan begini aku tidak akan terombang-ambing oleh simpang siurnya issue dan topik yang setiap hari di blow di media. Yang kadang untuk menutupi kasus yang lain. Tren berkata demikian.

Balik lagi ke Ahok. Karena pembicaraan di masyarakat mulai memanas. Kupingku mulai risih dibuatnya. Di kantor, di warkop, di rumah, di kosan, bahasannya Ahok dan Al-maidah.

Aku ngefans dengan cara memimpinnya, tetapi untuk kesalahannya menghina pedoman hidup orang muslim, saya sepakat untuk memberi pelajaran pada Ahok tentang bagaimana toleransi dan harga diri.
Aku ngefans dengan cara memimpinnya, tetapi untuk kesalahannya menghina pedoman hidup orang muslim, saya sepakat untuk memberi pelajaran pada Ahok tentang bagaimana toleransi dan harga diri. (gambar dari VASnews)

Aku tidak suka nonton TV. Aku ketinggalan update tentang itu. Oleh karenanya, aku nonton satu potong video Ahok ketika pidato di depan masyarakat yang kemudian bilang, ”jangan mau dihobongi oleh Al-Maidah 51” kurang lebih demikian. Paragraf lain aku buang ke tong sampah. Tidak aku perhatikan isi beritanya. Cukup itu saja yang ku tau.

Toleransi dan Surah Al-Kafirun

Kebetulan aku sedang ada di kampung halaman. Adikku tiba-tiba tanya, ”Kenapa sih ahok itu kok dicerca banyak orang? Kan dia agamanya non islam, ya biarin aja menganggap islam salah. Kan lakum diinukum waliyadin? Toleransi. Ngapain kita demo?”

Aku geli dibuatnya. Adikku masih Maba di Unej Jurusan Pendidikan Matematika. Dia sudah melontarkan pertanyaan se-kritis itu. Sambil bermain dengan bolpoin yang menari diatas kertas laporan praktikum fisika dasar, dia iseng-iseng memulai pembicaraan serius.

Aku dan dia sepertinya kangen untuk bicara serius ala anak muda yang bersemangat memperbaiki kondisi bangsa. Ah apalah ini semua.

”Pertama didefinisikan dulu apa itu toleransi dan maksud ayat terakhir surah Al-Kafirun itu dulu. Kalau orang islam bilang secara blak-blakan di depan jamaah gereja kristen, ngapain kamu nyembah patung, apakah dia bisa menyelamatkanmu? Sebagai orang kristen normal, pasti mereka marah. Itu bukan toleransi. Itu adalah menyakiti perasaan orang lain.”

”Toleransi adalah saling menghargai, menghormati, dan mengasihi antar umat beragama. Maksudnya bagiku agamaku, bagimu agamamu itu dalam konteks keyakinan. Terserah kamu mau nyembah apa dan siapa, tapi dengan catatan jangan menyalahkan terhadap keyakinan orang lain”

Kita boleh menganggap agama kita paling benar, keyakinan orang lain salah. Tapi jangan tiba-tiba pidato didepan khutbah jum’at dan bilang, ”Islam itu salah, tidak jelas yang disembah apa, agama bikin perang terus, nabi nggak bisa baca, main poligami kenapa diikuti?”. Kita (umat islam) perlu menyisingkan lengan, menghunus pedang dan menyatakan perang atas dasar harga diri umat Islam kalau ada kejadian semacam itu. Itu adalah pemicu perang. Itu peletuk pertumpahan darah.

Siapa yang salah atau apa yang salah?

Jadi aku tidak menyalahkan, ada aksi demo besar-besaran menentang Ahok yang telah terpeleset lidahnya mengatakan Al-maidah 51 itu sebuah propaganda palsu. Saya setuju dan memberikan dukungan terhadap aksi itu. Tapi ada yang salah dengan aksi damai itu. Salah yang cukup fatal.

Kebanyakan kita mencari ”siapa yang salah, bukan apa yang salah?”

Premis dari pernyataan itu adalah:

  1. Kita anggap semua yang diperbuat ahok adalah kesalahan dan kesesatan
  2. Tidak ada prilaku satupun yang benar dari prilaku ahok
  3. Kebijakan pemerintahan ahok salah karena dia kafir
  4. Ahok tidak layak jadi gubernur, sangat harus dilengserkan
  5. Ahok harus dihukum seberat-beratnya atas dalih penistaan agama
  6. Ahok lahir ke dunia salah
  7. Ahok lahir di jakarta salah

Dan banyak lagi potensi kesalahan yang mungkin terjadi. Oh kacau jadinya. Padahal yang salah bukan Ahok, tapi tindakan Ahok ketika bicara pada masyarakat Kepulauan Seribu detik dan menit itu saja.

Kebijakan pembersihan kota, pembenahan tata kota, kebijakan kereta cepat, kebijakan pemindahan ke rusunawa, penataan kedisiplinan pemerintah kota jakarta, penataan pasar tanah abang, dan pasar senen, pemberantasan area lokalisasi kemaksiatan zina kalijodo. Itu kebijakan benar dan baik. Sesuai dengan tuntunan islam lho. Pekerjaan itu islami lho.. Memberantas perbuatan zina.

Kalau ditarik lebih jauh lagi. Demo pembelaan islam itu benar. Tapi aksinya ada yang salah. Misalnya pelengseran Ahok dan tidak meneruskan kebijakan baik dari Ahok, karena Ahok kafir dan menistakan agama maka dia harus lengser dari jabatannya dan kebijakannya dihentikan dan digantikan dengan kebijakan baru penggantinya. Apa hubungannya?

Dengan terminologi apa yang salah kita tak akan benci Ahok. Kita akan benci Ahok berbuat kesalahan fatal. Kalau Ahok tobat dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Harusnya kita masih tetap bisa bersahabat dengan Ahok. Kebanyakan orang menjauhi dan mengucilkan dan tidak mau berteman lagi ketika seusai bertengkar.

Terminologi apa yang salah menyajikan ending yang lebih indah. Kita akan mendukung prilaku islami Ahok, dan mengkritik ketika Ahok berprilaku tidak islami. Tak hanya Ahok yang non islam. Pejabat islam pun kita bisa kita pertanyakan lagi, ngakunya muslim, tapi kok pekerjaannya tidak islami? Tanya ke koruptor islam seperti itu misalnya.

Pemimpin islam yang dzalim atau pemimpin kafir yang adil?

Ini pertanyaan sungguh membolak-balik logika dan pemikiran. Puyeng dibuatnya. Tapi dengan awalan di paragraf sebelumnya. Kita sebenarnya sudah punya konklusi.

Bahwa tidak penting identitas muslim kafir seseorang. Itu hak Allah untuk judge kita sebagai hamba-Nya atau malah musuh-Nya. Kita tidak sepantasnya bilang orang lain kafir, sedangkan kita aman sudah muslim. Kata siapa? Apakah Allah telah mengabarkan itu pada kita?

Sekali-kali jangan bangga, bahwa di KTP kita sudah tertera Agama Islam. Itu tidak bisa jadi tiket masuk syurga, bro. Please.. Surga tidak semurah itu. Perjuangan, keringat, dan kucuran darah yang terus menerus menetes hingga akhir hayat lah yang menjadi tolak ukur. Dengan niatan semoga Allah ridho pada kita.

So, balik lagi. Lebih baik mana pemimpin muslim yang dzalim atau pemimpin kafir yang adil?

Jawabannya tidak mungkin ada pemimpin muslim yang berprilaku dzalim. Kalau dia sholat dengan benar pasti ia akan berprilaku baik dan menghindari perbuatan keji dan mungkar. Kalau ada pemimpin ngaku islam tapi berbuat dzalim, kemungkinan dia tidak muslim saat itu. oleh karena itu, setiap kali sholat kita selalu berdoa, ”ihdinas shiratal mustaqim” tunjukilah jalan yang lurus. Karena setiap hari kita kadang melakukan hal yang tidak lurus (melenceng dari tuntunan islam)

Dan sebaliknya, tidak ada pemimpin kafir yang adil. Lah orang kafir kok adil, tidak mungkin, lah kepada keyakinan yang ia anut saja tidak dapat proposi. Mana bisa adil? Menentukan jalan hidup yang benar dan salah aja tidak becus, kok dinyatakan adil? Karena adil adalah prilaku islami. Toh kalau ada persepsi lain bahwa kemungkinan pemimpin yang dianggap kafir itu menurut Allah sedang berposisi Islam karena perbuatan adilnya itu, itu semua otoritas Allah. Wallahu’alam.

Kita sama-sama murid, (jika dunia fana ini diibaratkan suatu kelas belajar), kok sesama murid mau saling memberikan report. Ya sang guru lah yang berhak. Sesama manusia cukup saling mengingatkan untuk giat belajar agar lulus ujian. Kebanyakan sekarang, saling menuduh kafir, bid’ah, neraka, dan musyrik. Mereka berlagak seperti Tuhan.

Sekali lagi

Bagiku agamaku, bagimu agamamu.

Kita tidak perlu ikut campur terkait keyakinan. Tapi dalam hal muamalah sehari-hari kita boleh hidup berdampingan dan saling bantu antar beda agama. Kerjasama dengan agama non-islam, saling menghormati, saling membantu misal saudara non-islam sedang kelaparan. Toleransi itu ketika orang kristen natal, orang islam menjaga keamanannya. Jangan malah dibom. Minimal tidak membuat jalannya ibadah orang lain terganggu. Itulah toleransi yang dimaksud.

Betapa indahnya dunia kalau toleransi antarumat beragama dapat terjalin dengan baik. Yang kristen menjaga keamanan idul fitri. Yang islam menjaga keamanan natal. Begitu seterusnya. Jika ada hajatan syukuran nikah, tetangga non muslim diundang untuk makan-makan.

Bukankah pernah ada riwayat bahwa Rasulullah saking lembut hatinya, saking baik hatinya, Beliau menyuapi seorang yahudi buta dipinggiran pasar yang setiap harinya mencelanya.

Ah, orang kita harus lebih tenggang rasa. Memperluas jarak pandang. Nerimo dan menganalisa lebih dalam sebelum komentar. Apalagi yang menyangkut nama baik orang lain. Menghujat contohnya. Terlebih ada aksi nyatanya.

Itu sikapku. Kalau kamu?

CMIIW.

Inilah energi malam yang tersisa.

Selamat malam

Advertisements

19 thoughts on “Sikap terhadap Ahok & Al-maidah

  1. Dulu sempat terbersit seperti pertanyaan adil kmu fidh. Kenapa kita tidak pernah merasakan menjadi yg di posisi Ahok? Ahok mendapat tekanan disana sini karena statusnya sbg pemimpin non muslim. Sebagai manusia pasti memiliki batas, dan aku menilai Ahok sudah di ubun-ubun kesal dengan hujatan orang-orang, yg mengatakan bahwa pemimpin non muslim itu haram lalalaa. Dan apesnya Ahok salah ngomong. Nah merajalelalah kesempatan untuk lebih menjatuhkan Ahok.

    Singkat cerita, aku kasihan sama Ahok. Bukan aku tidak membela Islam, jika Allah saja Maha Pemaaf, kenapa kita tidak memaafkan saja perilaku Ahok, toh dia pasti sudah kapok dengan kesalahannya (sudah diusut secara hukum). Aku geregetan sama orang-orang yg masih saja ngeyel dan menghujat.. Setiap manusia pasti khilaf, dan itu mengapa ada toleransi dan saling memaaf. Inti masalahnya “karena Ahok bukan nonmuslim” itu saja. Tapi akhirnya menjadikan banyak kepentingan manusia ikut andil di dalamnya… Huffft..

    1. Pertama, yg harus kamu punya adalah marwah atau murulah dlm bahasa arab, yg bhs indonesianya kurang lebih ttg harga diri umat islam. Kalau ada yg mencela islam, alqur’an, tuhan, dan rasul maka kita harus tidak tinggal diam. Kalau ada yg melempar alqur’an di got atau di wc, kita harus marah besar kepada kesalahan orang itu. Kalau ada yg melukis wajah rasul, kita wajib meniadakan itu. Tapi kalau orang itu sudah minta maaf, menyadari bahwa dirinya salah, dan janji tidak akan mengulangi, kita wajib memaafkan dan tetap bersahabat seperti sediakala.

  2. Alhamdulillah,. terus terang saya penasaran apa aja yang mau disampaikan dalam tulisan ini,. hehe..
    Ya benar sih bahwa pemberitaan di media itu -tidak bisa dipungkiri- penuh dengan kepentingan. Makanya kita juga harus check and recheck, teliti, hati-hati dalam menyimpulkan sebuah permasalahan. Satu hal juga yang mungkin kita harus ingat, bahwa ketika kita bisa berprasangka baik kepada -yang terlapor sebagai penista al-Quran-, maka ada yang jauh lebih berhak untuk kita berprasangka baik kepada mereka. Ya, saudara kita, terlebih guru-guru kita.

    Untuk istilah kafir dan muslim, sebenarnya ini bahasan tauhid. Umat muslim pun kafir. Kafir kepada siapa? Kafir kepada taghut (sembahan2 selain Allah). Maka muslim adalah orang-orang yang berserah diri hanya kepada Allah. Maka kadang saya agak bingung juga, wong bukan islam kok ngga mau disebut kafir. Kan maksudnya kafir terhadap islam,. perihal dia beriman kepada agama dia (selain islam) ya itu pilihannya, dan umat muslim wajib menghormatinya.

    maaf jadi lebar kemana-mana,. hehe. terimakasih sudah share tulisannya 🙂

    1. Yes. Terlepas dari bahasan muslim, kafir, Allah, dan taghut. Poinya adalah kita harus menghormati dan mengasihi sesama manusia. Ga peduli kepercayaannya apa, ga peduli ia akan balas baik atau jelek. Soal begini aku jadi ingat riwayat ttg nabi selalu menyempatkan menyuapi makan orang yahudi dipinggir pasar yg setiap hari mencelanya. Teladan yg sempurna. Semoga cinta pada nabi diikuti dg sungguh2 mengikuti ajaran dan akhlak yg dicontohkannya. Aamiin.
      Semangat untuk berbuat baik 🙋💪

      1. Aamiin,. Sepakat mas, berbuat baik kepada siapa saja.. 🙂
        tapi juga tetep, kepada saudara, apalagi guru, ulama,. kita harus berbaik sangka juga mendukung mereka.
        InsyaAllah ustadz2 kita sangat mengerti dan memahami persoalan yang ada. Tentang akhlak dan memaafkan, Allah memberi 2 pilihan. Kalau dengan memaafkan justru kedzaliman tidak berhenti, kebaikan jauh dari harapan, dan ada hak-hak yang terabaikan, justru yang lebih utama untuk diambil adalah jalan qishash atau jalur hukum..

        maaf komennya jadi panjang,. hehe
        semangat untuk berbuat baik mas 😀

  3. Salam kenal mas hafidh Friand, saya suka dengan pandangan anda yang terbuka. Agaknya isu SARA menjadi alat yang cukup ampuh untuk menjatuhkan lawan ( dalam hal ini lawan politik ) namun imbasnya adalah nama kelompok yang dicatut untuk melakukan aksi tersebut ( dalam hal ini agama islam ) menjadi jelek. Banyak diantara rekan yang seiman dengan saya mempunyai anggapan negatif terhadap agama tersebut, padahal saya yakin itu hanyalah kelakuan beberapa oknum saja.

    Agaknya toleransi hidup beragama dari waktu ke waktu semakin luntur, orang dengan mudah bicara yang mengolok agama lain seperti kafir, babi kristen dll. Dalam hati saya berfikir, orang tersebut mengaku beriman tetapi mulutnya sering untuk menyakiti orang lain. Duhhhhh……

    1. Ya kurang lebih seperti itu. Yang harus kita lakukan sekarang adalah lebih tenggang rasa, toleransi, dan lebih banyak bermuhasabah introspeksi diri, “sudahkah diri benar?” daripada lebih banyak menilai orang yang sebetulnya bukan tugas kita.

      Semoga apapun telah terjadi menjadikan pelajaran bagi kita. Aamiin.

  4. Hafidh Frian menulis:

    Betapa indahnya dunia kalau toleransi antarumat beragama dapat terjalin dengan baik. Yang kristen menjaga keamanan idul fitri. Yang islam menjaga keamanan natal. Begitu seterusnya. Jika ada hajatan syukuran nikah, tetangga non muslim diundang untuk makan-makan.

    Saya lihat Anda cukup fair menulis opini Anda ini di atas. Nampaknya Anda bukan muslim abal-abal. Terima kasih atas ulasannya.

    Terkait kasus Ahok, walaupun Anda sempat memberi judgmen pribadi (terkait ucapannya itu) dalam ulasan Anda di atas, tapi kita tunggu saja sidang terbukanya nanti. Semua kita bisa melihatnya, apakah keadilan di negeri ini sedang dijalankan atau sebaliknya. Membuat asumsi pribadi boleh, sepanjang tidak memaksakan kehendak. Keputusan pengadila nanti harus kita terima, apapun itu. Indonesia perlu belajar tentang penegakan hukum.

    Salam Kenal

    1. Thanks for coming and being a part of development of this term. Yup islam sudah benar dari sediakala ketika Allah turunkan. Islam tidak butuh pembelaan pemeluknya. Islam tidak akan pernah hina karena kebenaran dan kesucian serta otentik dari Tuhan lah yg menjadikannya demikian.

      Apalagi, Dalam banyak kasus, muslim dewasa ini malah menjelekkan martabat diri sendiri dg cara demo kekerasan dg dalih membela islam.

      Padahal islam tak butuh pembelaan kita, harusnya yg dibela adalah harga diri sebagai muslim. Rasulullah tidak pernah menantang perang musuhnya. Rasulullah perang ketika didesak oleh lawan yg mengangkat senjata. Apakah rasulullah diam, ketika anak panah dari musuh mengarah pada umat muslim. Beliau perangi. Tetapi sering disinggung, bahwa kalau musuh lemah, lebih baik dimaafkan. Wallahu alam. Semoga hati kita dilembutkan selembut untaian cinta rasulullah.

      Salam kenal.

      1. Kalau Islam adalah kebenaran, maka tak perlu dibela. Apa yang Anda sampaikan di atas benar. Namun sayangnya ada pihak-pihak yang menamakan diri Pembela Islam, tapi tindakannya kurang islami. Saya kasihan dengan orang-orang yang demikian. Mengatasnamakan agama untuk membela Tuhan, tapi kemudian justru “menista” agama itu sendiri.

        Saya non muslim, tapi saya sangat menghargai Islam dan perbedaan. Saya punya banyak teman muslim. Bahkan saya punya saudara kandung yang muslim. Dia sekarang seorang muslim yang taat. Kami saling menghargai satu sama lain. Setiap kali hari raya agama kami masing-masing dirayakan, kami saling berkunjung dan mengucapkan selamat, walaupun bentuknya tidak selalu sama seperti pada umumnya (secara verbal).

        Sebagai orang yang bertuhan, sudah semestinya kita tidak menabuhkan genderang perang, apalagi hanya dengan alasan yang “sepele”. Memaafkan jauh lebih baik ketimbang mendendam. Semoga damai dan cinta kasih selalu ada buat kita semua di negeri ini.

      2. Yes we must. Agama itu dapur kita. Yg harus kita rasakan ditengah masyarakat adalah output dari insan religi kita. Output dari orang yg beragama adalah berbuat baik, saling menghormati, menghargai, menyayangi, membantu dg sesama, right? No religion yg menganjurkan berbuat kerusakan. Kalaupun ada, dia adalah kesesatan, perlu dibasmi.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s