Hujan Yang Kunantikan (Gowes Lumajang – Banyuwangi Part 3)

Kemarin, aku hanya bisa duduk manis menatap langit menangis. Tatapan jauh kepada rintik hujan. Hanya bisa menikmatinya dari balik jendela kos. Hanya bisa menjulurkan sedikit tangan untuk sekedar merasakan satu persatu tetesan air yang alam berikan.

Sekarang, dimensi ruang dan waktu mengirimku pada suatu koordinat yang mendukungku untuk merealisasikan imajiku tentang hujan.

Mendung gelap menutupi biru jernih langit siang itu. Gumpalan hitam kian pekat mengisyaratkan ketakutan di lereng bukit sana. Aku sangat bersemangat olehnya. Penantian yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.

Inilah rintik hujan yang aku cari. Tanjakan berkelok ringan mengular memanjang mengakar mengikuti lereng Gunung Baluran. Meluncur mulai dari persimpangan Desa Sidomulyo, Situbondo. Mungkin masih masuk daerah Asembagus.  Ini adalah satu-satunya jalan raya yang bisa dilewati untuk menuju Ketapang Banyuwangi via Pantura. Jalan yang seram dan menantang. Terlebih ketika hujan begini.

p_20170101_150514

Permulaan ini didominasi dengan semak yang menghijau. Hanya setinggi pinggul orang dewasa. Tumbuhan besar jarang. Satu dua ditemukan diselemparan pandang.

Butir-butir air hujan tidak begitu keras. Gerimis pilu yang gemerciknya membuat orkestra alam yang merdu. Air mengalir di jalan-jalan. Kayuhan makin berat. Ban terasa kempes, padahal fully air compressed. Aku bergegas melibas tanjakan ini menggunakan 52T for front and 34T for rear gear (superlow gear). Bertolak menjauhi teman sepedaku. Dia melambat, langkahnya berat, sepeda jadul (red: jaman dulu), shifter gear ratio yang kurang mendukung.

Pintu hutan terbuka untukku. Tetumbuhan lebat melingkupi. Dedaunan rimbun menutup cakrawala. Pohon berkayu berbatang besar berjajar rapat dan tak beraturan. Warnanya coklat tua. Entah sudah sobek berapa kali kulit kekarnya itu.

Pohon jati yang kokoh berdiri. Pohon asem yang tegar. Dan pohon mahoni yang rimbun. Serta beberapa pohon yang kering dahan dan rantingnya. Lumut dan benalu merambat bergelantungan diantaranya. Semak belukar yang penuh sesak. Daun-daun kering bercecer di jalanan.

Kini hujan tak mau kalah. Deras dengan angin begitu kencang. Petir menyambar di ubun-ubun bumi. Menimbulkan sensasi yang tak bisa didefinisikan menggunakan kata-kata. Aku begitu ceria menyambutnya.

Keceriaan dan ketenangan oleh karena kedamaian yang dirangkai oleh khasanah keberagaman alam yang saling bersinergi dalam fenomena bernama hujan. Namun manusia sekarang banyak dihantui ketakutan, kecemasan, dan putus asa yang didapuk oleh karena banjir bandang, badai dan angin puting beliung, serta tanah longsor.

Siulan burung yang ingin dihampiri. Lantunan hujan yang menghentak bumi. Melubangi aspal-aspal. Mengikis tanah berlumpur. Krotok-krotok ’genteng kepalaku’ (term untuk menjelaskan helm jamur yang ku pakai) berbunyi keras. Atap kepalaku bocor. Inilah bulir air seukuran jagung dan senandung alam yang aku nantikan.

Air membasahi tangan dan wajah. Meresapi punggung dan tas. Hingga sela yang tak terjamah sekali pun. Aku basah kuyup. Aku rasai dingin dengan seksama. Aku atur reflek dan respon diri terhadap yang alam berikan. Inilah hujan yang aku tunggu-tunggu.

Air mengalir di sela-sela cekungan di wajahku. Bercampur padu dengan keringat yang keluar dari pori-pori kulitku. Aku sesapi semuanya. Entah itu asin keringat atau asin asam sulfat akibat hujan asam efek polusi dunia global yang penuh keserakahan itu.

Aku datang untuk menyatu dengan alam. Aku hirup dalam-dalam Si Oksigen basah penuh uap yang lembab. Menjamah alam dengan segala keridha-an cinta. Mencairkan jiwa. Menyucikan kalbu. Dibasuhnya kotoran hati, kekalutan jiwa, kegetiran akan masa depan. Damai dan tenang. Otak dan pikiran menjadi fresh kembali.

Begitupula dalam analogi hujan ini. Dibasuhnya daun hijau penuh debu menjadi suci kembali oleh air-air dari langit. Air yang terbentuk secara alamiah. Melalui semua evaporasi entitas alam yang mengandung air. Kondensasi uap air oleh karena kelembaban, angin, dan suhu di atmosfer. Tiupan angin yang memperbesar dan mengelabukan awan. Dan jatuh ke bumi karena kejenuhan kadar air yang ada.

Ketinggian yang kucapai sudah 250 m diatas permukaan laut. Kabut menyelimuti, membuai mesra diriku yang merasa kurang kasih sayang ini. Jarak pandang terbatas. Hanya lampu sepeda kecil nan temaram yang samar terlihat dari kejauhan.

Dalam belaian ibu pertiwi, tanah air yang aku cintai ini, dibalut kabut, terbesit lamunan yang liar. Alam bilang, ”Manusia itu dzalim! Pertumpahan darah, persaingan tidak sehat, dan perusakan masif yang diakomodir dengan kesucian ilmu dan kewibawaan jas kantoran”

Aku bilang, ”Kita memang dzalimul linafsih, kamu tak akan merugi bila kami lalim. Karena kamu selalu inline dengan hukum Tuhan. Sedang aku merugi besar karena ulah bodohku sendiri”. Kini aku masuk dalam terminologi bercumbu dengan alam dengan sebenar-benar kenyataan. Bermain dan saling mencurahkan keluh kesah masing-masing.

Aku jadi ngomong sendiri tentang misi penaklukkan alam. Tidak. Aku yang takluk. Apalah diri ini dibanding kedigdayaan alam dan kemaha-besaran Allah. Yang bisa ku usahakan adalah menaklukan diri sendiri. Menaklukkan diri untuk dapat beradaptasi di medan yang alam tawarkan untuk kita. Jika kalah, terseleksi lah kita menjadi catatan extiction di sejarah dunia / akhirat.

Sekelebatan aku lihat sepeda temanku dibopong diatas sepeda. Ditengah tenaga yang masih tersisa. Aku menguatkan diri. Jangan aku menyerah begitu saja seperti temanku itu. ”Woi, dasar kau lemah!”, aku mengumpati temanku yang terus saja melaju ditengah perjuanganku menelekui setiap jengkal jalanan ini.

Hingga bayangan alam bawah sadar itu terbangun. Aku sadar. Saking derasnya hujan. Pohon-pohon bergoyang. Beberapa diantaranya roboh. Sepeda motor kehabisan daya dan kehangatan. Masuk angin. Truk-truk besar tumbang di jalan terjal ini.

Air limpasan meluber dan dimuntahkan dari perut hutan keluar ke jalan-jalan. Banjir bandang lokal terjadi. Alirannya tipis (area A luas) tapi masif (kecepatan v tinggi). Rekayasa saluran air yang dibikin tak lagi mampu menampung debit (Q = v x A) yang mainnya keroyokan begini (selain karena mampet oleh daun daun kering yang menyumbat). Air coklat kemerahan menghiasi aspal abu-abu kelam. Menyerbu menakutkan menuju jurang di sisi kanan jalan.

Aku jadi ingat kalimantan yang penuh dengan rawa, gambut, dan hutan hujan tropis.

Di antara himpitan hutan yang rimbun, aku terus bergeser. Banyak sekali pengendara motor yang berhenti berlindung di bawah pohon, gubuk-gubuk tak berpenghuni, di balik mantel yang di pakai, dan ada yang bahkan meninggalkan istri dan anak mereka sendiri untuk pipis berdiri di pohon pinggir jalan / BAB di sungai yang tak mengalir. Mereka berada dalam ketidak-menentuan langkah. Mereka tak bisa melanjutkan perjalanan hanya karena takut basah. Takut hujan. Takut migren. Takut masuk angin. Dan segala gejala penyakit yang katanya diakibatkan oleh hujan. Atau Ketakutan akan batu ginjal atau kencing batu karena menahan kencing barang 10 menit saja sehingga dapat instinja’ yang lebih bermartabat.

Aku bukan mereka. Hujan tak menghalangi jalanku. Bagiku hujan adalah teman. Aku malah bersemangat mengendarai sepeda onthel-ku. Dengan kayuhan yang semakin lama dikuatkan oleh alam. Aku benar bisa merasakan energi alam yang murni dan suci. Aku setegar rumput yang tidak mau terhempas begitu saja oleh banjir.

Setiap kumpulan komunitas orang yang ada. Setiap sorot mata yang berpasangan. Tertatap menuju pada poin fokus diriku dan sepedaku. Orang gila yang mana lagi, ketika hujan makin besar, kuda-kuda sepedanya tak getir sekalipun.

Hmm.. Terkadang, mereka menyemangati. Adapula yang mengejek. Aku tak ambil pusing, aku bahagia dan tidak menyalahi perintah / larangan Tuhan. Itu saja cukup. Komentar orang, terserahlah.

Ah intinya aku senang hari ini.

Kebusukan akal bulus manusia yang dihapuskan oleh Aroma khas tanah tanah setelah hujan dan wewangian segar tetumbuhan basah setelah hujan reda. Aku sudah sampai di jalan menurun menuju pintu gerbang Taman Nasional Baluran, Banyuwangi.

Disaat injury time, kegentingan tentang hal yang paling membosankan dalam perjalanan mencapai puncaknya. Aku dapati temanku, di belakangku dengan tanpa bersalah, dia berkata, ”Sepedaku putus rantainya. Di awal pertemuan dengan tanjakan. Sebenarnya aku tak mau ditumpangi sepeda. Tapi orang lain kasihan melihatku. Beberapa aku tolak. Tapi akhirnya ada yang memaksa hingga aku terpaksa mengiyakan”

”Sekarepmu, sekarang terserah, mau masuk hutan lagi, atau kita sudahi petualangan ini”, cerocosku di depan mukanya.

Bersambung..

Catatan perjalanan, Lumajang – Banyuwangi via Puger, Jember dan Bondowoso, Situbondo

31 Desember 2016 – 2 Januari 2017

Advertisements

5 thoughts on “Hujan Yang Kunantikan (Gowes Lumajang – Banyuwangi Part 3)

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s