Ketidakberdayaan Pilihan: Sikap terhadap Meninggalnya Calon Mapala Sebuah Universitas

Pertama-tama aku harus mengucapkan sedalam-dalam duka dan bela sungkawa terhadap 3 korban meninggal Mahasiswa UII Jogja. Dalam acara The Great Camping (TGC) di lereng selatan Gunung Lawu. Pada 13-20 Januari 2017, kemarin.

Entah aku bingung diawal penulisan artikel ini. Aku tidak seharusnya semurka ini. Tapi aku tak bisa menyembunyikan perasaan amarah yang meledak-ledak mengganggu kesadaran otak.

Tidak Belajar dari Sejarah

Aku tak sampai kepikiran, kejadian serupa, sejenis ini kembali terjadi. Di malang, jakarta, sumatra, kalimantan, jogja, solo. Harus berapa lagi manusia yang harus merenggut nyawa agar perpeloncoan disegala lini pendidikan bisa dihapuskan.

Harus diberi contoh kematian yang mana lagi, agar para senior itu paham dan mengerti betul bagaimana pendidikan seharusnya.

Ya memang, Indonesia punya sejarah kelam tentang pendidikan. Pendidikan Belanda, yang mendoktrin pribumi selalu rendah. Atasan selalu benar, dan junior selalu salah. Anak buah selalu tertindas. Anak baru yang mau gabung organisasi kita-kita, harus terlebih dulu pengaderan. Mengatasnamakan ’seleksi tunas muda yang berbakat’. Padahal tak lain itu hanya untuk memuaskan nafsu balas dendam tingkah seniornya dulu.

Apakah rantai kebodohan itu akan kita teruskan dalam rangka kesenangan tak beralasan. Tujuannya apa sih? Mau bergabung dengan organisasi Mahasiswa Pecinta Alam. Ya mbok, mending ada di luar ruang, outdoor, mempraktekkan bagaimana survive di alam. Tentang tali temali, membuat bivak, menyalakan api, menggunakan alat sederhana penunjuk arah, tools ketika tersesat, mengenali tanaman yang bisa dimakan ketika terdesak. Lebih manfaat.

Kemerdekaan Memilih

Banyak lagi kegiatan positif lainnya. Kenapa harus perpeloncoan. Terkadang, mahasiswa yang bersangkutan juga harus menjadi sasaran tembak. Harus dikorek kesalahannya.

Ada beberapa case, mahasiswa tidak memiliki pilihan lain. Saking senengnya ingin ikut-ikut tren, mapala itu keren. Petualang. Lagi hits dimana-mana anak muda ke gunung, laut, hutan, dan menjelajah tempat-tempat wisata tersembunyi.

Akhirnya memutuskan untuk ikut organisasi kampus pecinta alam.

Sebagai orang terpelajar, mahasiswa sudah seharusnya menilik, bagaimana organisasi itu didirikan. Apa visi misinya? Ada kebaikan kah disana? Bagaimana orang-orangnya? Struktur organisasi? Kejelasan target tahunannya? Nilai plus bagi saya apa? Dan bagaimana mekanisme recruitmentnya.

Oh sudah tau, akan ada diksar yang berat disana. Terus kenapa ikut saja? Padahal kalau tujuannya untuk mencari ilmu dari alam, tadabbur alam, menjelajah alam. Tidak perlu ada diksar yang begitu berat. Cukup item survival dan keypoint yang harus ditaati ketika berada di alam bebas. Cukup itu saja.

Kita ini mau senang-senang di alam. Tidak untuk ditindas oleh orang lain. Kenapa milih petualang yang dikekang oleh organisasi. Harus ini itu, banyak aturan. Pelajari sendiri, atau berteman dengan adventurer  expert / master. Kemudian jalan sendiri atau bikin komunitas yang mengakomodir tujuan kita. Lebih nyaman dan bersahaja.

Kita ini manusia merdeka. Independent. In berarti tidak, dependent artinya tergantung. Jadi independent artinya tidak tergantung orang lain. Langkah yang kita pilih tidak diintervensi dan ditekan oleh orang lain. We flight like a bird.

Mereka mungkin berdalih, tidak tahu kalau seberat itu. kalau aku yang emoh dipelonco, akan angkat tangan. Aku tidak sudi diperlakukan begitu. Aku meninggalkan forum saat itu juga.

Itu kalau lagi strength. But in other cases, kita sering kali tidak berdaya menghadapi tekanan dari luar. Pengaruhnya terlalu besar. Kita dijajah dan ditindas sehina-hinanya. Arah kita, tujuan hidup, langkah kaki, aktivitas sehari hari, belajar di kampus, di sekolah, dipekerjaan, di sebuah negara, semua ditentukan atasan. Kita tidak sepenuhnya bebas berdiri diatas kaki sendiri. Kaki kita diikat dan dicincang dalam tali kekuasaan. Misalkan: junior yang mau osis, harus mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS) yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pengenalan sekoah. Masuk himpunan kampus juga begitu: tidak punya alternatif lain selain ikut proses ospek kampus yang tidak manusiawi. Di pekerjaan, kita tidak berani sedikitpun melawan bos yang menghalangi atau mempersempit waktu kita untuk ibadah jum’at dan lima waktu. Sedikitpun tidak protes terhadap tempat ibadah yang fasilitasnya kurang, aksesnya buruk, dll. Toilet yang tidak sesuai dengan istinja’ ala rasulullah.

Sikap Birokrasi yang Lembek

Tindakan preventive apa yang telah dilakukan atas kejadian yang telah terdahulu terjadi? Adakah audit? Sampling cek? Bukti checksheet bahwa SOP telah dilakukan dengan tepat dan tidak menyalahi aturan.

Apakah ada evaluasi kegiatan tersebut sesuai dengan visi misi kampus? Contoh sebagai kampus islami, aku yakin harus ada nilai islam disetiap kegiatannya. Apakah itu telah tercantum dalam item kegiatannya? Misalnya ketika masuk waktu sholat, apakah kegiatan dihentikan dulu, sholat dulu baru kegiatan lagi. adakah nilai-nilai cinta rosul didalamnya. Materi yang diajarkan dalam diklat apakah sudah ditelaah keefektivannya?

Apakah menunggu gugur beberapa nyawa, barulah melakukan investigasi? Lambat lagi. Tidak tercermin sikap manusia yang sedang kebakaran jenggot. Dengan santainya menjawab kepada wartawan, akan membentuk tim, atau segara corrective action normatif lainnya.

Preventive-nya mana? Setelah ada kejadian di universitas lain yang sama mengenaskannya, to do list apa yang telah dilakukan. Menyikapi ini itu.

Kok baru membekukan kegiatan diluar kampus, setelah nyawa 3 terbang sia-sia?

Kalau aku jadi rektor, yang pertama aku lakukan pasti meminta maaf kepada pihak keluarga korban yang dalam kesedihan mendalam. Kedua, melaporkan pada polisi, tangkap saya, penjarakan saya, saya bersalah, karena penanggung jawab tertinggi kegiatan tersebut adalah saya. Dan disetiap malam, saya akan menyesali perbuatan saya itu. *(Note: Tapi insyaAllah saya tidak akan ttd proposal kegiatan bodoh semacam itu, jadi tidak akan ada penyesalan itu)

Bagaimana tidak? Anak satu-satunya yang diharapkan agar menjadi generasi penerus keluarga. Bercita-cita suci untuk menimba ilmu di kampus islam. Mengidamkan masa depan bagai anaknya. Kok malah mati konyol dipelonco sama senior di kegiatan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan bidang yang dipelajari di kampus.

Aku tidak sampai hati melebarkan ini semua pada possibility kebodohan berjamaah yang dimiliki sistem pendidikan di Indonesia ini.

Untuk gabung dengan organisasi kampus saja, harus melalui tahap ditendang, dipukul pakai rotan, pakai botol kaca dan plastik, disuruh kehujanan tanpa mantel, diceburkan kolam, disuruh hanya membawa senter, perbekalan minim, makan pelepah pisang, air yang sangat terbatas, beban berat dipunggung, tidur kehujanan beralaskan tanah dan hanya terlindung oleh bivak, di ketinggian, temperatur rendah dan dingin.

Bodoh. Sungguh bodoh. Bodoh karena tidak realistis sama sekali. Mana ada camping model begitu. Realitanya, kalau ndaki, kita bakal membawa perbekalan banyak, tenda, sleeping bag, matras, kompor, logistik, jas hujan, senter, dan barang kecil perlengkapan survive lainnya. Nggak masuk akal kalau intriknya biar kuat, biar bisa survive, dan kerjasama tim. Bodoh. Bukan begitu.

Di akhir investigasi yang dikeluarkan kampus, semoga tidak akan terdengar, ”ini kesalahan mahasiswa, sedang tidak fit, dipaksakan ikut kegiatan”, dengan mimik wajah tak bersalah. Jangan! Jangan sampai ada. Mimpi buruk masa depan apalagi yang akan aku temui nanti di kemudian hari.

Kalau toh ada yang bilang, mahsiswa sedang dalam kondisi fit. Ada surat sehat dari dokter. Apakah ada yang menjamin surat dokter merepresentasikan kondisi kesehatan pasien secara akurat. No, kebanyakan surat sehat hanya ”dibeli dengan harga murah. 20ribu”. Kita tulis sendiri kondisi kesehatan kita. Dokter bilang, ”punya riwayat penyakit apa?”, kalau kita jawab, ”tipus, db”. Ya sudah gitu saja, tidak dicek betulan. Lah bayar sedikit begitu mau cek yang aneh aneh. Itulah dalihnya. Palingan kalau ada benar-benar cek, Cuma tensi saja. Bahkan identitas berat dan tinggi saja, rumah sakit enggan mengecek. Sekali lagi kita isi sendiri.

Bahkan di era rantai kebodohan massal dimaklumi sebagai kebenaran, menggebu-gebunya anak muda ingin berpetualang mengalahkan surat sehat itu sendiri. Semua bisa diatur. Bahkan ijin dari orang tua pun bisa dipaksakan ada bubuhan tanda tangannya.

Kenapa pelonco?

Di tulisan ini, aku sepertinya langsung judge: perpeloncoan yang terlalu kejam menyebabkan peserta diksar meninggal. Aku tidak memberikan sedikit ruang untuk menilik potensi lain. Karena sudah tidak mungkin ada faktor X lain yang menyebabkan ini semua. Pasti pelonco berlebih.

Kenyataan:

  1. Karena kurang sehat. Bakal tambah lebar lagi. Kenapa orang kurang sehat diijinkan ikut kegiatan berat
  2. Karena cuaca buruk. Tidak masuk akal.
  3. Karena calon tidak kuat beban berat. Kenapa diikutkan?

Secara logis, mana ada orang yang kelebihan beban, sedang dalam tekanan mental dan fisik, di lingkungan yang sulit pula, dan kelelahan mau saja dipukuli. Kalau manusia normal, bakal berontak. Nyatanya kebiadaban itu tetap mengalir.

Aku berusaha menyampaikan ini secara berimbang. Menyasar setiap potensi kegagalan sistem yang ada. Ingin tidak berpihak. Mohon maaf sebelumnya kepada berbagai pihak.

Advertisements

2 thoughts on “Ketidakberdayaan Pilihan: Sikap terhadap Meninggalnya Calon Mapala Sebuah Universitas

  1. Sebagai pecinta dan penikmat alam, aku setuju sekali dengan panjenengan. Kalau alam dan kekurangan fisik para korban yang justru disalahkan, apa gunanya komunitas dan team? Kalau aku jadi rektor dan tidak memihak sudah aku panggil semua panitia, interogasi semua. Tidak ada yang mengaku, tuntut sekalian skorsing bonus ancam cabut gelar akibat kelalaiannya tidak dapat menjaga rekan-rekannya.

  2. Yea, because they’re son of a bitch. What else ?
    Gue gemes segemes-gemesnya. Gue pengen tau nama orang-orang yang nyiksa juniornya itu, gak pake sensor dan inisial. Plus dihukum mati, biar komplit penderitaan dunia akheratnya.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s