Kata mereka: Sebuah Refleksi tentang Riwayat Pekerjaan

Banyak hal yang telah terjadi. Selama hampir satu tahun aku bekerja. Mulai maret 2016 hingga penghujung Februari 2017. Betul kata orang jika pengalaman bekerja hanya 1 tahun, dapat apa?

Dari yayasan amaliyah astra
Dari yayasan amaliyah astra

Aku merasa belum terisi cukup ilmu di percobaan pertama bekerja ini. Apa yang aku lakukan tidak berdampak pada sistem kualitas perusahaan. Apalagi kepada kelancaran bisnis. Oh noo.. Output produksi kerjaku belum membekas kesan yang indah. Remuk iya.

Sekedar ingin merefleksikan saja. Sudah ngapain aja aku lulus hingga sekarang. Pekerjaan awalku di jakarta. Berbekal 5R yang aku dapatkan ketika magang dan tambahan inisiatif, aku mencoba berkembang.

Aku bergerak memperbaikan kondisi. Pelopor penataan beberapa site di gudang. Mengatur sedemikian rupa kiriman, surat jalan, inspection report. Barang serta administrasinya.

Beberapa masalah menghadang. Mereka membuat aku semakin tangguh. Menentukan prioritas, handling customer call, dan fisik. Berangkat pagi buta, pulang larut malam. Sudah kebal. Dan aku bersemangat terhadap itu semua.

Pekerjaan yang memerlukan fisik yang prima. Sedikit sekali menggunakan otak. Kadang, iseng, aku menciptakan sistem-sistem yang kreatif guna mempermudah aktivitas sebagai inspector.

Pulang ke gresik, aku dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Tanggung jawab tentu lebih berat. Job desc makin berjibun. Monitoring atasan semakin mengekang. Deadline yang berpacu dengan waktu.

Aku menjalani hari-hari dengan penuh perjuangan. Customer complaint harus dihandling sedemikian mulus for customer satisfaction. Sementara di internal, harus juga jalan. Pushing to tighten the quality level.

Berperang melawan rekan-rekan kerja yang ketika melakukan pertemuan mereka membangun benteng dan pagar. Bahkan ada pula yang membawa pedang, sengaja untuk membunuh lawan bicara.

Semangat boleh menggebu-gebu, tetapi team haruslah support. Aku belajar banyak hal ketika harus menghandle banyak hal pada line produksi tertentu.

Kini, 2017, sudah hampir 1/12 tahun terlewati. Aku masih belum merasakan resolusi itu. padahal job desc sudah bergeser. Langkah normatif sudah ditentukan. Tinggal management kontrol terhadap langkah strategis yang diambil haruslah berjalan juga.

Kata bosku, ”kamu sudah saya kasih pekerjaan sesuai dengan passionmu, harusnya kamu mengerjakan dengan senang hati. Tapi saya belum melihat itu padamu”

Ah betapa menusuk pernyataan itu. Tetapi bosku juga bilang, ”Boleh jadi aku tidak bisa sekarang, tetapi besok aku akan lebih bisa dari anda”

Banyak pelajaran yang aku ambil selama ini. Tentang bagaimana perusahaan bisa berjalan. Secara garis besar, bagaimana rule-rule membuat perusahaan. Tentang pola pikir quality, engineering, purchasing, produksi, ppic, gudang, accounting, personalia, dan SHE.

Sistem kualitas. Dimana prosedur harus sesuai aktual yang dikerjakan. Dan setiap hasil pekerjaan itu harus dicatat. Konsistensi jaminan proses yang bermuara pada konsistensi Finish Good.

Dan sekarang aku disodori dengan pilihan pengalaman kerja yang akan fantastis di 2017 dan janji menggiurkan di 2018. Tentang Heat Treatment, Product Development, Supplier Development, Company Quality Performance, Quality Assurance Engineer, Hazardous Material, dan Customer issue request. Aku bangga ketika bisa menuntaskannya di akhir tahun ini. Semangat!

Tetapi dalam bekerja tak jarang aku menemui hambatan, rintangan, dan tantangan. Salah satunya rekan kerja. Karena kerja tidak hanya soal menyelsaikan apa yang ditugaskan pada kita. Tetapi kelancaran itu dapat ditunjang oleh rekan kerja yang kompak dan saling support.

Kata orang:

Aku individualis

Ya, untuk hal yang aku tidak suka dan tidak sanggup menghandle, aku memilih menolak. Aku sulit berbicara didepan umum. Aku memilih bekerja inline. Tetapi hambatan dari luar, komentar, dan cercaan terus menghujam. Untung, aku punya rumus ”kita berbuat baik maupun buruk, orang akan berkomentar, So, Why we so serious to think about what other people say?”

Aku sulit beradaptasi dan berbaur

Ya, aku malas menghabisakan waktu yang tidak bermanfaat untukku. Aku selalu mengutamakan pekerjaan diri sendiri dulu. Aku memilih fokus. Aku memilih tidur ketika siang hari daripada ke warung kopi. Aku tidak banyak berbaur dengan rekan kerja sepulang kerja. Karena buat apa berbicara yang kurang ada manfaatnya. Mending pulang, leyeh leyeh di kosan, baca buku, menikmati hidup sendiri, dan menelpon calon istri. Lebih berdampak.

Tetapi sejatinya, aku sosialis kok. Hanya terhadap teman teman pilihan. Teman yang saling mengingatkan kebaikan. Bukan yang menjauhkan pada sholat, bermusik, berbicara kotor dan sia sia, menggunjing orang, membahas pekerjaan.

Terkesan pilih pilih. Iya, teman harus dipilih selektif. Tetapi menolong orang jangan selektif. Semua orang yang butuh bantuan kita, tidak perlu dipikir panjang, langsung eksekusi. Aku selalu kagum pada rekan kerja yang ketika fokus mengerjakan sesuatu, ada gangguan permintaan orang lain, dia mau menghentikan kerjaannya sebentar, dan memenuhi permintaan itu dengan riang gembira.

Aku banyak tidak mengerti

Kadang disajikanlah dihadapanku sebuah term tetang metallurgy. Aku tidak bisa jawab. Keterbatasan ingatan dan pengetahuan. Sial. Aku masih harus terus belajar. Dan pelan-pelan aku rangkai ilmu ini menjadi barang yang komprehensif dan kebermanfaatnya menembus masanya.

Terlalu serius dalam bekerja

Lah namanya hidup ya harus serius, pikirku. Kenapa harus sering bercanda. Hidup tidak sebercanda itu. Kadang ada yang bilang, mending aku yang banyak bercanda tetapi kerjaan selesai.

Aku akui aku bekerja sangat lama. Kenapa? Aku perfeksionis. Dan dalam hati aku membatin, ”iya kerjaanmu cepet selesai karena kamu kerja ga pake ati, asal selesai, hasil yang jelek, dan sekadarnya”

Sedang aku kerja pakai pikiran, hati, dan tenaga yang terfokus agar hasil maksimal, no mistake.

Sekedar refleksi dan pikiran aneh-aneh dan unek-unek.

Semoga ada manfaatnya.

Selamat malam.

9 Februari 2017

Advertisements

6 thoughts on “Kata mereka: Sebuah Refleksi tentang Riwayat Pekerjaan

  1. Kalau bisa menikmati kerjaan biasanya hasilnya selaras, semakin bagus. Tapi sebaliknya, jika ada tekanan yang dirasa kurang bisa dihanddlesendiri sebaiknya langsung berbicara dengan orang yang lebih pengalaman untuk meminta sedikit nasihat.

  2. Pekerjaannya menarik nih, penuh tantangan.
    Lingkup kerjanya di bidang kualitas dan produksi ya Mas?
    Menurut saya, bekerja di bidang tsb memang harus banyak berbaur, berbicara di depan umum. Pengalaman saya di awal masa kerja dahulu, saya tidak bisa banyak bicara di depan umum atau di meeting. Secara gak sengaja saya menemukan solusinya setelah “dipaksa” terlibat di bidang training, dipaksa jadi trainer. Ini akhirnya membentuk semacam percaya diri dan mampu berbicara dgn lancar di depan umum.
    Hanya sumbang saran saja Mas…

    Salam,

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s