Pacaran, menurutmu bagaimana?

Aku harap tulisan ini menjadi penting untuk kaum muda mudi. Terutama yang sedang aktif-aktifnya hormone testosteron dan ovum. Ketika syahwat telah menghinggapi. Dan baik dan buruk telah teridentifikasi.

Disclaimer: tulisan serius, yang nggak serius, ke laut aja!

Pertama sekali, aku bercerita tentang pandangan orang tentang pacaran. Dan tentang gaya hubunganku dengan calon istriku kelak, #amiin.

Agar tidak bingung, sebelum ngalor-ngidul. Aku sekarang bekerja di bidang otomotif. Aku bagian Quality. Lawanku adalah semua departemen terutama engineering dan produksi.

Aku kenal cewek cantik 8 bulan yang lalu. Dia cantik dan tidak neko-neko. Sederhana. Awalnya biasa saja, lambat laun aku jatuh cinta. Dan semoga dia begitu, tapi rasanya memang begitu.

Status kami belum menikah. Tapi orang lain menilai kami pacaran. Well, I don’t care what people say.

But, ada yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Banyak orang menyayangkan perlakuanku kepada cewek yang sama-sama saling sayang. Aku cuek, tidak romantic, tidak perhatian, tidak membahagiakan pasangan dengan makan bareng, suap-suapan, ke café, ngobrol, nonton, makan malam bareng, jalan ke gunung dan menyusuri pantai berdua. Ala muda mudi modern yang lagi kasmaran begitu deh.

Kata orang, “Bagaimana kamu bisa menikmati jerih payahmu bekerja? Uangmu habis untuk belanja-belanja keperluan pribadi. Kamu tidak menyisihkan untuk kesenanganmu”. Dan banyak deretan hujatan dan kecaman yang aneh-aneh.

Aku hanya diam. Kemudian senyum tipis.

***

Yang aku lakukan pertama kali merespon itu adalah meminta maaf kepada dia, calon kekasih halalku, bahwa “Kita sedang berpuasa ya, saying.. Yang haram-haram memang begitu menggiurkan sekarang. Tetapi bukankah makan akan lebih terasa nikmat setelah kita puasa?”

Aku berusaha meyakinkan dan memantapkan hati bahwa jalan kita selaras seirama. Dan Alhamdulillah responnya positif. Dia mau di’gantung’ dan bertekad puasa.

Adakah dari sikapku sejauh ini yang tidak islami? Kami menjalani hubungan yang belum halal. Ya kita harus jauhi itu semaksimal mungkin.

Bisa jadi kemarin kita sedang khilaf, ada masa menjalin kedekatan. Tetapi demi kehormatanmu dan kesucian cinta dalam agama ini, aku rela berpuasa dalam pandangan dan kemaluan.

Aku tahan nafsu ini sekuat tenaga. Dan aku mendapatkan pundi-pundi kekuatan dari pasanganku. Kita saling mendukung demi hubungan yang islami.

Terkait omongan orang, “We say masa bodoh”. Apapun kata orang, baba’in. sakarepmu. We fight for our struggle in.

Satu-satunya ikatan yang menghubungkan kita adalah perjuangan masa depan. Sebuah janji sekaligus jaminan bahwa keseriusan hubungan ini layak dipertimbangkan. Tugas, hak, dan kewajiban saling dipahami. Goal kita adalah keberkahan hidup.

Mengarungi samudra dengan bahtera keluarga menuju ridha Allah, jannah insyaAllah.

***

Karena cinta adalah soal perasaan yang putih, jernih, dan suci. Jika dilampiaskan ke arah yang benar, ia akan berkah. Ia akan membawa kebaikan. Fitrah sebagai manusia.

Bukan kah agama ini menuntun kita menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia. Manusia yang beradab. Melangsungkan kehidupan dengan teratur dan berimbang.

Bukan malah seperti agama lain yang semakin suci orangnya maka semakin tidak manusia dia. Mengeclaim bahwa pernikahan adalah sifat kebinatangan. Bodoh! Kalau semua manusia mengikuti jalan fatwamu, musnahlah seluruh manusia di muka bumi, karena sibuk dalam agama tetapi melupakan sifat dasar manusia.

Padahal, Allah bilang pada malaikatnya, “Inni jaa’ilun fil ard’I khalifah…”, manusia adalah khalifah, pengganti Allah dalam mengurus bumi. Pemimpin bumi. Pengolah bumi. Dan penduduk bumi yang bebas memanfaatkan hasil bumi sebagai sumber kehidupan. Hidup yang berpasang-pasangan, dan bahagia setelah kemudian. Happy ever after bahasa inggrisnya.

***

Perihal tingkah bodoh mainstream pemikiran orang modern. Yang mengatasnamakan kesenangan sesaat, kenikmatan fana, dan keterbatasan etika. Aku mengumpat kebodohan untuk mereka.

Bodoh! Jika kamu disodorkan dua permen. Pertama permen yang terbungkus rapat oleh plastic penutup. Kedua permen yang terbuka di atas trotoar terminal. Kamu pilih yang mana? Pasti pilih yang terbungkus.

Itulah analogi bagi akhwat dan ukhti yang menjaga dirinya dari orang yang belum halal baginya. Ilustrasi yang tepat bagi siapa saja wanita yang menutupi auratnya untuk orang yang haram bagi mereka melihat. Gambaran tepat untuk seseorang yang berpuasa demi menahan pandangan dan kemaluan mereka.

Satu lagi, pacaran adalah hubungan tanpa ikatan bro. Tanpa ada tanggung jawab, kewajiban, dan hak. Cowok bebas mutusin ceweknya. Cewek bebas gandeng cowok lainnya. Tanpa merasa bersalah dan bingung terhadap amanah di ubun-ubunnya.

Kehormatan direnggut. Dijual murah setara dengan coklat di hari valentine, kecupan neraka, maksiatnya berpelukan, pedihnya pandangan setan, dan sakitnya tertusuk paku di atas kepala. Bohong, bila lawan jenis sedang berkhalwat dan berikhtiat laki perempuan tidak timbul zina. Sulit magabro. Apalagi di dunia yang serba viral dan easy to access ini.

Aku Tanya sekali lagi, ukhti? Apakah jika kamu sudah pacaran, terus kecup-kecupan, sayang-sayangan, kemudian putus, kamu merasa terhormat?

Ataukah kamu lebih merasa terhormat apabila ada cowok lewat bersiul siul menggoda tetapi kamu cuek dan berdalih bahwa setan sedang beraksi. Diam dan menjaga pandangan. Lebih baik mana? Jawablah!

Lebih merasa dihargai mana, dinikmati sekarang, atau setelah halal nanti? Setelah kewajiban dan hak telah terpenuhi secara seimbang. Setelah semua resmi secara agama dan hukum. Setelah ketentuan Allah dijalankan.

Intinya, yang haram bukan pacarannya, tetapi zina dan maksiatnya.

Hm.. Entah aku gagal paham bagi kalian para muda-mudi yang mengejar kefanaan dunia ini. Meninggalkan Al-Qur’an dan hadist. Harus disodorkan ayat yang mana lagi agar segera sadar akan hal ini?

Lha wong kita belum benar-benar beriman pada Allah, kitab, malaikat, rasulullah, hari akhir, dan qada qadar sih. Makanya kita berana menentang aturan Allah. Naudzubillah..

Semoga kita semua dijauhkan dari maksiat dan diberi kenikmatan dalam beribadah mendekatkan diri pada Ilahi. Tiada tuhan selain Allah, nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Bismillah..

Good Night.

Advertisements

12 thoughts on “Pacaran, menurutmu bagaimana?

      1. Hahah ada email ga bro? Aku terinspirasi banyak hal dr tulisan dan cara berpikirmu, siapa tau kita bisa komunikasi lbh intens 2 arah dan saling sharing aja sih. Siapa tau ane bisa berkunjung ke daerahmu dan memperluas silaturahmi. Would you?

  1. Udah jrg cowok yg mikir kyk gini. Ngehormatin cewek yg dekat sm dia. Ini kategori cowok so sweet sy. Smga jlnnya dipermudah spy cpt nikah Mas ya… ^^

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s