Rintik Hujan: Sorot Lampu Jalan yang Layu

Malam berproses begitu berat. Sejenak senyap tanpa suara. Kehadiranku di jalan ini bukan tanpa alasan. Ada barang jam setengah sembilan malam.

Jalan ini sudah sepi. Aktivitas mati. Di bunuh oleh gerimis yang malas-malas keluarnya. Tak kunjung reda. Rata dan lama.

***

Secangkir dua cangkir sudah aku habiskan waktu ini. Tak tentu arah pembicaraannya. Namanya juga nongkrong. Gorengan dan gado-gado kata tak jelas jenisnya, tapi rasanya nyata di lidah. Kami begitu menikmatinya. Hingga terkadang, tak sadar, lidah kami juga termakan. Terkunyah, dan habis tertelan masuk ke usus. Bangkai saudara pun gurih dilahap hingga berebutan.

Asap vapor dan rokok berlomba-lomba mengudara. Mengepul bergantian diantara mulut-mulut kami bak lokomotif batu bara tahun 80-an. Pecandu berat rokok. Yang katanya, ”Kami sulit berpikir, konsentrasi ambyar, dan lesu kalau tidak merokok dulu”.

Aku menyebut mereka, hidup tanpa pegangan. Akan begitu terus kecanduan dan ketergantungan barang yang tak jelas manfaatnya. Aku gagal paham terhadap orang-orang yang menyempatkan ke warkop setiap pagi, siang, dan malam itu. Mau mendirikan mahzab baru untuk menyaingi dzikir pagi dan sore yang diajarkan Rasulullah. Naudzubillah.

***

Balik lagi ke jalan. Aku menyudahi agenda rumpi-rumpi pemuda ”perkasa” di tempat kerjaku. Aku melajukan motor sekencang-kencangnya. Menerobos hujan. Membelah genangan air. Semangat segera leyeh-leyeh di kamar kosan yang daritadi sudah melambai-lambai ingin ditemani pemiliknya.

Aku berjalan menembus lurusan jalan Veteran menuju arah Alun-Alun kota. Jalan pangsud tujuanku. Mendaki bukit tipis di ujung Wisma Ahmad Yani, dekat Kantor Semen Gresik itu.

Namun, kecepatan motor seolah-olah bernilai negatif. Waktu melambat. Padahal aku tidak sedang melaju dengan kecepatan cahaya. Ada sesuatu yang terbesit dalam dada ini.

Jiwaku meronta. Fabiayyialaa i rabbikumaa tukadzibaan..

Aku teringat perutku. Kenyang oleh untaian mie goreng instan. Telah masuk tak tersisa dari piring menuju perut. Tanpa perintah, lidah membantu mie tersebut dikecap oleh gigi. Halus, kemudian masuk kerongkongan. Mekanisme otomatis peristaltic ini yang mengantarkan makanan plus enzim pencacah makanan masuk ke dalam lambung. Kemudian mengenyotnya hingga menjadi semacam bubur. Dan diserap sari patinya oleh usus halus dan airnya oleh usus besar. Dan sisa yang tidak diperlukan tubuh dikeluarkan melalui anus.

Betapa tidak bersyukurnya diri ini. Begitu besar nikmat Allah. Sama sekali aku tidak memberikan perintah khusus pada tubuhku untuk melakukannya. Tetapi semua otomatis. Pemberian tuhan.

Karena keotomatisan itu sebenarnya kita terlena. Segalanya otomatis sehingga terlupakan. Bahwa setiap saat, malaikat Allah menjaga gerak-gerik kita. Mengatur semua-semuanya. Pencernaan, telinga untuk mendengar, mata untuk melihat dan mencatat, “untuk digunakan sebagai apa nikmat yang Allah berikan pada si Fulan ini?”

Dengan alat indra, aku bisa menikmati indahnya dunia. Dingin udara dan basah gerimis hujan yang ada. Suara sentuhan air pada aspal yang menggelikan. Terpercik diantara genangan yang terbentuk di cekungan-cekungan jalan. Suara motor yang berisik. Dan melihap layunya sorot jalan yang sendu kekuningan itu.

***

Pernah suatu ketika. Suasana gerimis juga. Pulang kerja juga. Larut malam. Aku bergegas pulang melalui jalan yang sama. Aku berniat beli nasi goreng di pertigaan pangsud menuju Jalan Proklamasi, tempat sekolah berbagai jenjang berada.

“Mbak, Bungkus nasi goreng ikan asin satu porsi”, aku tegur pelayannya. Dia lagi focus sama telponnya. Ketika selesai, aku ulangi lagi, “Nasi goreng ikan asin satu ya, mbak”.

“Iya..”, cuek bebek.

Aku duduk dengan posisi jas hujan dan helm yang masih menempel di badan. Di awal, aku sudah merasa risih dengan pak tukang parker. Aku berhentikan sepeda motorku di depan swalayan, tepat di samping penjual nasi goreng. Ah, ga tau lagi hemat ta? Nasi goreng 13.000 rupiah, plus 2 ribu parker. Sama aja dengan nasi plus teh manis anget, kalau aku marung, pikirku aneh-aneh.

Tak terasa, mbanya bersahut, “Nasi goreng ikan asin!”

“Saya neng”, sambil aku kasihkan uang yang baru ku ambil dari ATM tadi.

Tak lupa 2ribu aku sematkan pada tangan tukang parkir. Orang yang ketika sepeda telah terpakir hilang, kemudian ketika mau diambil sepeda tiba-tiba muncul. Menyodorkan tangan, mirip pak ogah.

Tetapi, yang ini beda. Terlintas yang tak biasa di tangannya. Ku pikir pakai gelang. Aku perhatikan sekali lagi.

Ternyata tangan kanannya tidak sempurna. Hilang mulai pergelangannya.

Aku buru-buru pulang. Melepas penat. Seragam dan tetek bengek lainnya. Rebahan dan makan bungkusan nasi yang sudah ku beli tadi.

Makan dengan seksama. Merenungi apa saja yang telah terjadi hari ini. Dan fokusku terpecah menjadi banyak. Konsentrasiku buyar. Tertuju pada suatu ending of the day.

Aku makan dengan jari-jari. Menggerakkannya dengan otot dan mekanisme syaraf yang terhubung melalui pergelangan tangan. Dan selalu syncron dengan otak selaku prosesor dalam tubuhku.

Ah.. betapa aku tidak bersyukur. Tangan ini, jemari ini, masih bisa makan dengan tangan. Alhamdulillah. Lihat orang di luar sana yang tidak seberuntung saya.

lihatlah kebawah jika ingin bersyukur

Ya allah, berikan kekuatan hati ini agar bisa lembah lembut dengan orang, menerima dengan penuh antusias nasihat kebaikan, dan berbaik sangka pada orang. Semoga hati ini selalu tergetar untuk menyukuri semua-semua yang telah Engkau berikan.

***

Betapa senangnya aku hari ini. Bekerja inline dengan apa yang aku kehendaki. Sejalur dengan materi kuliahku dulu. Kimia. Masa lalu yang indah ketika masa abu-abu putih dulu.

Rintik hujan malam jum’at 16217

Advertisements

3 thoughts on “Rintik Hujan: Sorot Lampu Jalan yang Layu

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s