Hidup bukan begini

Di siang bolong ini, aku ingin menceritakan sebuah term yang aku pegang sebagai prinsip. Aku berharap ini tak gugur dipertengahan jalan. Atau salah ambil jalan ketika di persimpangan.

ilustrasi foto dari pinguinshowtime - WordPress.com
ilustrasi foto dari pinguinshowtime – WordPress.com

Term bahwa aku menjalani hidup sekarang dengan:

  1. Penuh beban dan perjuangan
  2. Nikmat dan penuh gelegar semangat
  3. Tidak sesuai dengan kehendak hati

Ya. Aku menjalani hidup yang sama sekali berbeda dengan keinginan dan ideologi yang saya anut. Keinginan berlawanan dengan aktual hidup. Tetapi aktual hidup masih tetap dapat dinikmati dengan penuh semangat.

Bagaimana bisa, sesuatu yang bertolak belakang bisa dinikmati?

Begini ceritanya. Aku menjalani hari-hari sebagai pegawai di perusahaan komponen otomotif. Jam kerjaku normal 7.5 jam sehari. Dengan waktu istirahat 1 jam. Berangkat jam 7.30 pagi dan pulang jam 17.30 sore. Rata-rata begitu. Tak jarang pula pulang jam 19.30 malam. 12 jam bekerja. Itupun kalau selesai pekerjaan. Itu bisa jadi belum selesai.

Aku sedang bermuhasabbah. Apa yang menyebabkan ruang waktu menjadi sedemikian sempit. Hingga waktu untuk bernafas bebas saja sulit di dapat. Bangun, mandi, kerja, pulang, leyeh-leyeh, tidur. Begitu seterusnya. Entah sampai kapan.

Apakah aku yang salah dalam mengelola waktu. Atau kerjaku lamban. Atau aku memang malas dalam menaati perintah atasan.

Padahal aku selalu berusaha maksimal untuk mengerjakan dengan baik. Secepat mungkin.

Hidup bukan hanya untuk kerja tetapi juga untuk Allah, diri sendiri, dan keluarga. Sepertinya, hidupku unbalanced. Kerja terus dikejar deadline dan kecepatan bergulirnya perubahan di luar. Sekali lagi ku bilang, “Hidup bukan begini”

Tapi dalam perjalanan menemukan penyebab, aku mengajukan hipotesa pada diriku sendiri. Kemungkinan besar, aku terjebak dalam perfeksionis. Semua-semua harus sempurna, tanpa cacat.

Nyatanya banyak pekerjaan yang berlubang, kotor, dan penuh kesalahan. Tetapi bisnis tetap berjalan. Di pertengahan jalan, seniorku bilang, “Jangan dipikir sulit, submit saja dulu. Kalau ada feedback barulah kita respon”

Mungkin memang term itu yang paling dekat dengaku saat ini. Aku terlalu fokus mendapatkan yang terbaik. Sehingga pekerjaan kecil yang lain berantakan.

Kemudian, aku juga terbesit tentang kegamangan jalan yang ku tempuh. Aku menghadapi jalan yang berliku dan tak tentu arahnya. Samar oleh kabut yang dingin menerkam jiwa.

Kesuraman apalagi ini. Benar saja suram. Lha wong aku belum menetapkan target dalam bekerja. Planning-ku acakadut. Kadang tak ada sama sekali. Aku mengalir seperti air ke kubangan lumpur. Menjijikkan.

Yang terus kupegang sebenarnya baik, yaitu inline dengan kehendak Allah. Goalnya dan pengali akhirnya adalah satu. Tanpa kesia-siaan sedikitpun. Itu sudah tepat menurutku.

Tetapi ada yang keliru. Bahkan salah kaprah. Dalam hidup tentulah harus ada rencana dan target-target yang hendak dicapai. Tanpa input dan output yang jelas, jalan akan selamanya remang-remang. Aku masih dalam tahap remang-remang itu. Hiks.

Semoga hari esok kan lebih baik.

Aamiin..

Advertisements

One thought on “Hidup bukan begini

  1. […] Hidup bukan begini. Bukan hidup yang bangun – kerja – tidur lagi. Porsi kerja dibanding porsi dirinya menjadi 14 : 10 jam. Mengerikan bukan? Hidupnya habis untuk menumpuk harta. Sedang tidak mengerti tumpukan itu mau diapakan. Bersusah payah banting tulang menyimpan digit-digit angka dalam kartu hutang (atm debit / kredit dll). Lupa pada hak untuk diri. Hidup dalam tensi tinggi pekerjaan hingga lupa bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan hidup adalah tujuannya. Buat apa banyak uang, kalau fakir kebahagiaan? Ya kan? […]

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s