Mata yang Ketiga: Kamera Kaum Modern

Dulu, aku hanya bisa melihat di TV tentang kelucuan orang jaman sekarang. Mereka menghadiri konser-konser music, pertunjukan teater, dan acara-acara siaran langsung. Mereka keluarkan mata ketiga. Mereka bawa Smartphone, dan menyalakan video recorder. Mata mereka tertuju pada kamera layar hasil recordernya. Fokus pada itu.

Kemarin, seminar pra nikah dan kritik terhadap orang modern.
Kemarin, seminar pra nikah dan kritik terhadap orang modern.

Kini dan kemarin aku bisa lihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana gelagat orang modern dengan smartphone-nya. Ini bukan lagi kebiasaan. Ini mengakar menjadi budaya yang sudah baku.

Menurutku, mata kita yang dulu digunakan untuk menikmati pemandangan disekitar telah tertutupi. Ada layer yang melapisi mata kita. Apa itu? Kamera. Ya, kita jadi melihat hasil jepretan kamera daripada melihat keindahan alam yang ada. Kelambu itu memang tidak kentara. Semacam kaca. Tapi iya benar-benar menutupi keindahan asli dengan otomasi komputer bernama color correction.

Ilustrasi dari kaskus
Ilustrasi dari kaskus

Entah mereka dapat menikmati performance pertunjukan yang didepannya atau tidak. Sangka baiknya, semoga iya.

Dan semoga hasil rekaman video itu terdokumentasi dengan baik sehingga dapat dinikmati dikemudian hari ketika kangen datang. Bukan sekedar video kemudian upload di medsos, pamer lalu lupa.

Di era yang didengungkan terkait verified information is the king, kita dituntut untuk membuktikan bahwa apa yang kita lakukan terdokumentasi. Minimal foto. Bahwa aku pernah disana. Dan aku pernah melakukan ini bersama artis idaman disebuah acara langsung.

Terlampau banyak foto yang kita ambil. Video yang kita buat. Itu berpotensi buruk bagi kita jika kita miss dalam menikmati momen yang ada di depan kita tadi. Momen yang senantiasa ingin kita bekukan dalam dokumentasi mata ketiga kita. Sehingga lupa, kita memiliki dua mata yang lebih dari apapun kamera yang ada di dunia.

Bagaimana tidak terlampau banyak? Jika setiap apapun yang kita lakukan harus dijepret. Dijadikan bukti agar tidak dianggap hoax. Issue hoax memang amat mujarab. Buktinya, masyarakat modern dunia, berlomba-lomba memenuhi galeri mereka dengan foto-foto selfie dan pelbagai momen lainnya.

Yang aku khawatirkan hanya satu. Dengan ribuan foto itu, kita mau apa? Jika telah full memory, maka kita bingung menghapusnya. Menata ulang storage. Kalau hape hilang, memori rusak, maka seolah hidup telah berakhir. Sebegitu tergantungkah kita dengan gadget?

Soalnya, ini menimpa diriku juga. Aku sangat banyak mengambil foto di masa lalu, ketika waktu masih mengijinkan aku untuk berwisata kemana-mana. Aku menatanya dalam folder-folder. Kadang aku bukai ulang, untuk meyakinkan diri bahwa dulu aku pernah muda dan jalan-jalan hingga pelosok nusantara. Aku menghargai dokumentasi yang ku buat.

Tapi aku tidak yakin bila seminggu, para akhwat telah memproduksi 1000 foto selfie. Dan para traveller mengumpulkan 1000 foto dokumentasi perjalanan. Hanya untuk dipilah-pilah ulang, poles lalu upload. Sudah. Tanpa kesan. Hambar di lidah.

Saran saya, buatlah untaian kenangan sewajarnya saja. Pilah-pilih yang baik. Tata dengan baik ditempat yang baik. Buka ketika rindu. Jangan memenuhi otak dengan memikirkan kapan upload foto terkini, iri dengan perjalanan orang lain yang lebih classy, dan agenda apa yang mau dipamerkan. Dan bahkan keakutan cek notif di instagram melihat geliat orang lain dalam hidup.

Cukup. Fokus pada diri dan perbaikan-perbaikan. Jangan sibuk urus orang.

Advertisements

2 thoughts on “Mata yang Ketiga: Kamera Kaum Modern

  1. Dan semoga hasil rekaman video itu terdokumentasi dengan baik sehingga dapat dinikmati dikemudian hari ketika kangen datang. Bukan sekedar video kemudian upload di medsos, pamer lalu lupa.

    Setujuu!

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s