Non Aktifkan Medsos, Kenapa?

Banyak orang terheran-heran melihat kelakuan anehku. Betapa tidak, arus dunia sedang menuju ke barat. Aku dengan terengah-engah menuju ke timur. Diantara manusia modern yang berlomba-lomba memutakhirkan versi gadgetnya, aku berlawanan.

Aku malah ingin punya hape mendol (makanan khas jawa yang berasal dari tempe yang dicacah dan dilengketkan dengan bumbu yang khas, dibentuk tanpa kepala tangan dan kaki lalu digoreng). Hape mendol sebutan telpon genggam yang hanya telpon dan sms.

Kenapa? Karena aku merasa dengan smartphone yang serba mudah ini, hidupku terlalu mudah. Sedikit tantangan. Memanjakan diri yang bermuara pada fisik yang ringkih.

Berjibunnya Informasi di Internet

Informasi beredar bak tsunami yang menghantam bibir pantai dan menyapu semua daratan. Terus menerus dan banjir bandang di segala lini. Terlalu banyak informasi yang keluar. Entah kredibilitasnya dapat dipertanggung jawabkan atau tidak. Opini pribadi, sangat sedikit.

Dampak dari derasnya arus informasi yang masuk di kepala kita adalah lalu lalang tanpa arti. Belum tuntas satu, keluarlah yang lain. Berita sensasional dibuat untuk menutupi berita yang serius menyangkut kepentingan orang banyak. Fakta dibelokkan. Kebenaran dan keadilan dipancung.

Lihat portal berita onlen. Belum satu jam berselang, sudah muncul berita baru. Beritanya mungkin lawas, tapi polesannya bisa menjadi 6 sampai 7 tulisan. Isinya tentu saja minim bobot, sedikit informasi. Terlampau kosong, mirip kerupuk.

Dan portal berita sejenis berjibun jumlahnya. Sampai-sampai ada aplikasi android pengumpul berita. Mungkin setiap menit muncul berita baru. Tapi tulisannya nyelneh, ngawur, kadang berbau dunia hitam (pelacuran, perselingkuhan, kekejaman keluarga, pemerkosaan), dan ditulis 6-14 kalimat dengan paragraf kurang dari 5. Sangat sedikit informasi yang didapat.

Seolah tak pernah berhenti. Dan kita pembaca hanya dapat ulasan dan analisa cetek (red: dangkal). Dicukupkan sampai disitu. Tidak boleh dianalisa secara dalam misalnya dengan meneliti jenis konten, unsur 5W1H, sumber, verifikasi, dan menfaat.

Dan kebebasan kita berpikir dipaksa untuk ikut gelombang informasi yang berlandaskan kecepatan perubahan. Intinya, masyarakat jangan punya gagasan sendiri yang ajeg. Masyarakat hanya boleh punya satu bendera bernama asumsi-asumsi dari pemilik kekuasaan yang menggerakkan opini publik.

Pembuat berita

Bahkan, ironisnya, para pembaca dengan pengetahuan dangkal, sekarang bisa jadi narasumber bagi pembuatan berita. Lihat di media sosial sana. Grup-grup anti golongan A, dan cercaan bagi kebijakan pemerintah. Kadang, ada pula yang mengatasnamakan tuhan. Sekarang, itu menjadi fakta yang layak diberitakan pada khalayak. Kacau.

Ah aku sudah muak dengan semua ini. Aku tahu niat suci para jurnalis menampilkan berita yang dikumpulkan secara cepat, akurat, dan berimbang. Tetapi pemilik kekuasaan mereka tak menghendaki keberimbangan yang dicita-citakan.

Sangat disayangkan ketrampilan para penulis berita. Berkeringat sana sini. Memperjuangkan keabsahan informasi narasumber dengan tool-tool verifikasi dan klarifikasi pihak yang bersangkutan yang didasarkan pada fakta-fakta pendukung.

Lagi-lagi media sosial lah yang jadi biang kerok. Aku tidak serta merta menyalahkan medsos. Kadang ada baiknya juga bermain medsos, semisal silaturahmi alumni, grup-grup komunitas dengan hobby yang sepadan, dan sarana menuntut ilmu yang mudah.

Ilmu agama contohnya. Kemasan mereka sangat familier bagi kaum muda-mudi ihwan akhwat. Sangat mudah diterima. Sasaran dan sektor dakwahnya tetap. Sayangnya SDM kita kadang minim kapasitas dan kapabilitas untuk mengolah sajian ilmu tersebut.

Copast (read: copy paste) adalah salah satunya. Belum juga kita baca detailnya, pahami maknanya, dan amalkan nasihatnya, kita buru-buru menyalin dan membagikan kepada khalayak. Boleh sih demikian, asalkan memberi efek bagi kita dulu dan bermanfaat bagi orang lain.

Yang disayangkan bila kebiasaan copast terlalu masif terjadi adalah mimpi buruk tersebar luasnya berita hoax dengan sangat cepat. Belum selesai dibaca, sudah di-share. Celaka. Iya kalau benar, kalau tidak?

Dalihnya, karena saking sensasionalnya.

Dan saling lontar argumen, opini, menyudutkan orang lain, kengkafirkan sesama muslim, dan berdebat tiada ujung. Aku muak dengan itu semua. Aku berprinsip, jika ada suatu hal yang membawa keburukan dan kebaikan akan aku timbang kadar keburukannya. Jika lebih banyak, aku tinggalkan sama sekali.

ilustrasi gambar dari Tech in Asia Indonesia
ilustrasi gambar dari Tech in Asia Indonesia

Seperti medsos ini. Kebanyakan jeleknya. Aku hapus akunku disemua lini medsos yang ada. Aku nikmati kesendirianku dengan cara terbaikku. Sudah hampir dua tahun, aku berlepas diri dari medsos. Facebook, instagram, line, path, twitter, wechat, pinterest, likedin, bbm, dll. Aku hanya main Whatsapp karena tuntutan pekerjaan. Kalau tidak ada tuntutan tentulah aku buang bersama smartphone ini.

Alhamdulillah. Dan aku tetap hidup.

Last but not least. Aku akan uninstall juga browser dan yutub. Browser masih malu-malu. Buka tutup. Sudah banyakan tutupnya sih. Aku yakin aku bisa menaklukkannya. Dan yutub juga akan berakhir sama. Akan ada waktu untuk berproses.

Semoga panjang umur agar diberi kesempatan menaklukkan hawa nafsu dan setan.

Bismillah..

 

Advertisements

9 thoughts on “Non Aktifkan Medsos, Kenapa?

  1. Wah, sama kak. Kalo aku lagi puasa ‘instagram dan path’-an dulu (which is udah uninstall,) Twitter dan Facebook masih coba dikit-dikit postingan nya sekitaran ‘blog’ aja dan kalo browser plus YouTube kayaknya masih belum bisa karena informasi banyak banget di sana.

    1. Haha disarankan jangan ikut2 deh yg untuk masalah uninstall browser dan yutub. Cukup orang2 primitif saja yg lakukan. Yg penting prinsip tetap dipegang erat, bahwa yg jelek harus ditinggal, yg baik harus dilestarikan. Jadi pandai2lah kita dalam memilah dan memilih. Cheers..

  2. Padahal saya pingin loh mas punya medsos dan ikut gaul. Cuma hp saya masih versi lawas dan saya gaptek. Pernah buat twitter cuma bingung maininnya gimana ha ha ha….. Jadi ya belum punya pebgalaman sama sekali di medsos kecuali facebook buat gabung di komunitas ngeblog. Itupun facebooknya udah lama gak update status. Sedangkan masnya malah nutup medsos gitu aja padahal nurut saya sih asyik bisa mengikuti trend dan teknologi.

    1. Yup. Balik lagi bagaimana cara kita memandang. Bagaimana kita mengambil yg baik. That’s all reasons yg musti dijadikan standar berpikir. Semua ttg kebermanfaatan dan keberkahan. Kalau dengan medsos menjadikan diri mendekat pada Allah, why not? Kurang lebih begitu. Semangat

  3. Saya justru kebalikannya, baru buat Fesbuk dan Instagram di pertengahan akhir tahun lalu karena lagi hobi fotografi dan kebutuhan ikut grup alumni kuliah. Tapi memang, sebetulnya saya cuma butuh blog saja hehe. Hidup yang nyata! 😄

  4. […] Aku mendapati nilai-nilai pamer / membanggakan diri / menyombongkan apapun yang dipunya. Beraktivitas A, memiliki benda A, memiliki momen A share-lah ke medsos. Untuk apa semua itu diketahui oleh banyak orang. Proses pengambilan momen itu juga menyulitkan usernya. Malah kita tidak dapat menikmatinnya karena sibuk mengabadikannya dalam dokumentasi yang ujung-ujungnya medsos. Tulisan tentang medsos sudah sangat banyak dan komperhensif bisa diganyang disini. […]

  5. […] Aku mendapati nilai-nilai pamer / membanggakan diri / menyombongkan apapun yang dipunya. Beraktivitas A, memiliki benda A, memiliki momen A share-lah ke medsos. Untuk apa semua itu diketahui oleh banyak orang. Proses pengambilan momen itu juga menyulitkan usernya. Malah kita tidak dapat menikmatinnya karena sibuk mengabadikannya dalam dokumentasi yang ujung-ujungnya medsos. Tulisan tentang medsos sudah sangat banyak dan komperhensif bisa diganyang disini. […]

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s