NU dan Muhammadiyah dalam diriku

Tambahan. Masih seputar isu agama dan aliran / golongan.

Aku dilahirkan dari kedua orang tua yang fanatik terhadap NU (Nahdlatul Ulama). Alur berpikirnya selalu kata ulama, ahlus sunnah wal jama’ah, dll. Alhamdulillah orang tuaku mendidik dengan cara terbaik menurut mereka. Menjadikanku memiliki cara berpikir kritis dan cemerlang seperti saat ini.

Meskipun aku lahir di lingkungan NU, aku sering sholat ke masjid Muhammadiyah. Aku suka bacaan panjang dan khusuknya sholat disana. Lurus dan rapatnya shof sholatnya. Terutama ketika ramadhan tiba. Daripada kuantitas banyak tetapi kebut-kebutan dan tidak sempat tuma’ninah. (bukan karena alasan mengambil jumlah rakaat yang sedikit lho yaa). Kalau toh ada yang 23 rakaat dan tuma’ninah terjaga. Tentu saya pilih yang demikian. Tetapi sulit rasanya jika persepsi masyarakatnya masih seperti ini.

Kadang kalau ketahuan aku dimarahi. Tetapi dasar aku bebal. Aku tak menghiraukan. Apa yang paling benar menurutku, aku akan camkan dan istiqamah didalamnya.

Aku tidak ikut kerangka nalar orang fanatik akut. Masyarakat kolot yang menolak kebathilan tetapi berkubang pada bid’ah. Kalau NU demikian, kalau Muhammadiyah demikian. Dan kalau ikut A, maka B salah seratus persen.

Terserah. Mau aliran A, atau B. aku punya akal untuk mencerna, apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang sesuai dengan Allah dan Rasul ya aku ikuti saja.

Ada orang yang benar-benar takut tidak ada yang dapat memberikan pertolongan. Mereka mengkultuskan kyai-kyai mereka. Menganggap mereka dapat memberikan pertolongan. Mereka mengunjungi kuburan-kuburan. Kalau untuk mendoakan sih tidak apa. Kalau berkunjung ke sunan-sunan yang membawa islam ke negeri ini untuk bersyukur dan didefinisikan dalam untaian doa kepada Allah untuk keselamatan orang tersebut sih tidak mengapa. Yang bermasalah jika kita meminta imbalan daripadanya, meminta pertolongan, rejeki yang lancar, pelaris, dan juga keselamatan hidup.

Ada pula yang meyakini, hanya alirannya lah yang benar. Yang lain salah. Aah apalagi ini.

Tetapi aku tidak putus asa. Allah melarang itu. Jangan berputus asa terhadap rahmat Allah. Masih ada jalan untuk berubah kejalan yang benar. Masih ada waktu untuk menyatukan umat yang sudah berantakan ini.

Berantakan dalam arti yang sesungguhnya. Analogi umat ini bukan lagi bangunan yang kokoh. Yang saling memperkuat komponen lainnya. Bukan saling menampakkan kekuatan dan meniadakan komponen lain.

Umat ini bukan lagi badan yang ketika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka yang lain menjadi sakit. Malah sebaliknya, jika ada bagian yang sakit, yang lain menyukurinya. Mengumpat keburukan kepadanya.

Ya Allah. Islam telah benar-benar menunjukkan jumlah yang meningkat derastis. Sangat banyak. Tetapi Rumahmu (red: masjid) semakin sepi pengunjung. Hiasannya saja mempesona dan megah. Tetapi minim jama’aah. Umat muslim memang besar jumlahnya tetapi nilai-nilai islam telah terasing entah kemana.

Ya Allah tunjukilah kami jalan yang benar.

Aamiinn..

Advertisements

2 thoughts on “NU dan Muhammadiyah dalam diriku

  1. Baik di NU, maupun di Muhammadiyah, terdapat golongan awam. Pemahaman mereka masih sebatas demikian, tapi kurang elok kita sebut dangkal.

    Tapi kita sama ya. Saya berasal dari lingkungan Muhammadiyah, dikuliahkan oleh Muhammadiyah sebagai kader Majelis Tarjih, tapi lebih nyaman dalam lingkungan budaya Nahdhiyyin (NU dan NW). Entah kenapa 😃

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s