Pembubaran Paksa Tabligh Akbar Sidoarjo, Sabtu 4 Maret 2017

Kemarin, aku dapat kabar dari temanku via WA tentang kejadian frontal dengan isu agama terjadi. Bukan tentang antaragama, tetapi sesama muslim. Peristiwa yang menjadi image jelek bagi umat islam.

Detail infonya
Detail infonya

Kajian dan tabligh akbar yang diadakan di salah satu masjid di Gedangan Sidoarjo dibubarkan paksa oleh kelompok masyarakat ormas tertentu. Nama ormasnya adalah NU yang kelompoknya dinamakan Nahdliyin, Ansor, dan Banser. Alasannya karena ustadz pengisi pengajiannya disinyalir mengandung ajaran wahabi yang meresahkan warga, memecah belah umat, mengandung provokasi, dan adu domba. Saat itu, da’i penceramahnya adalah Ustadz Khalid Bassalamah.

Surat Edarannya.
Surat Edarannya.

Lagi-lagi dalih tuduhan kafir, aliran sesat, saling mengeklaim kebenaran, dan menistakan kepercayaan orang lain, serta men-judge orang lain masuk neraka adalah alasan yang mujarab untuk melancarkan kebencian dan adu domba diantara umat.

Sebelum menganalisa kondisi yang ada. Aku ingin memberikan frame / kerangka berpikirnya dahulu.

  1. Kita tidak sedang mencari siapa yang salah, tetapi apa yang salah
  2. Sebelum menilai orang, sudah benarkah kita sedari pikiran?

Well, kedua term itulah yang menjadi dasar berpikir kebawah. Terjemahannya bisa macam-macam. Tetapi korelasi terhadap peristiwa tersebut akan aku jabarkan. Semoga gamblang dan mencerahkan kita semua. Dan semoga petunjuk Allah selalu melingkupi kita seterusnya.

Apa yang salah bukan siapa yang salah adalah kecerdasan berpikir tingkat tinggi menurutku. Konseptornya brilian. Betapa tidak, implikasi-implikasi luar biasa datang daripadanya.

Begini contohnya. Kalau kita lihat apa yang salah bukan siapa yang salah, kita akan punya sudut pandang tidak menggeneralisasi kesalahan orang. Misalnya:

  1. Kisah pencuri

Kalau ada orang dipenjara karena mencuri, berarti seluruh hidupnya salah. Bahkan dia hidup pun sudah salah.

  1. Kisah pelacur

Kalau ada orang melacur, sholatnya pun tidak dapat pahala. Sedekah dan puasanya tidak diterima.

  1. Penistaan agama oleh Ahok

Kalau Ahok bilang, “jangan mau dibohongi oleh Al-maidah 51”. Itu berarti neraka. Dan semua kebajikannya memajukan Jakarta dalam segala aspek menjadi bualan belaka. Bullshit tiada guna.

Bukan begitu. Coba bandingkan jika cara penyikapan kita begini:

  1. Pencuri

Kalau pencuri mengakui dengan kejujuran bahwa ia memang mencuri karena tertindas jaman, terpinggirkan oleh kebijakan pemerintah yang tidak memihak padanya. Apakah mengakui kesalahan itu pekerjaan orang kafir? Apakah orang yang masuk penjara karena jujur mengakui dia salah patut untuk dicela sepanjang hidupnya. Seolah tidak ada kebaikan lagi pada dirinya. Allah saja membuka pintu tobat untuk hambanya yang mau bertobat sebesar apapun dosanya. Kok kita manusia, dendam kesumat begitu? Pencuri memang salah ketika mencuri, tetapi pencuri benar ketika dia mengakui jujur bahwa dia mencuri.

  1. Pelacur

Kalau ada pelacur menasehati anak untuk sholat tepat waktu dan gemar mengaji Al-Qur’an, maka anak dengan sombong dan durhakanya bilang, “Alah buk, buk. Sampiyan saja setiap hari melacur, ngapain juga saya belajar agama, toh nanti aku bercita-cita melacur juga”. Naudzubillah. Lebih baik mana nasihat pelacur untuk anak agar selalu mendirikan sholat daripada pembiaran anak-anak ustadz berkeliaran menjemput cewek atau cowoknya untuk malam mingguan? Pertanyaan nyinyirnnya, nasihat mana yang kita ambil, nasihat sholat yang disampaikan pelacur atau nasihat pacaran oleh ustadz?

Menurut saya, pelacur mendapat dosa besar ketika maksiat. Dan tetap mendapat pahala jika ia sholat, puasa, zakat, dan sedekah. Dan akan masuk surga jika taubat nasuha di akhir hidupnya.

  1. Ahok

Kalau Ahok menistakan agama. Kita perangi kesalahan omongannya. Kita didik cara bicara si Ahok itu. Biar lebih beradab dan bersahaja dalam bermain lidah. Kita ajari “main cantik” dalam bermasyarakat. Selebihnya, dia pasti punya kebaikan, selain kesalahan itu. Jangan menolak ajakan Ahok ketika ia hendak menggusur prostitusi Kalijodo. Hendaknya FPI ada di garda depan bersama polisi RI yang menggusur tempat kemaksiatan digelar itu. Jangan berpikiran, semua kebijakan penista agama adalah salah. Catatan, untuk kesalahan pidatonya, tetap kita perangi lhooo yaa..

Tapi saya tidak bilang orang kafir dan fasik dalam hidup akan masuk surga lhoo yaa. Sekali lagi hanya Allah yang menurut saya pantas untuk memberikan judgement di hari pembalasan kelak. Dalam al-qur’an dijelaskan. Jika kafir, maka semua kebaikannya tiada guna, 1 rumahnya yaitu neraka. 

Tapi sekali lagi, jangan ambil porsi Allah. Mbok ya terus rendah hati. Banyak lhoo ketika perang badar, perang uhud, perang khandak di masa rasulullah. Mereka perang di jalan Allah tapi Rasulullah bilang dia masuk neraka. Karena apa? Niat yang salah.

Dan berkebalikan dari itu. Yang sepanjang hidupnya berbuat salah, tetapi di akhir cerita hidupnya, ia tobat dan istiqamah terhadap kebaikan tertentu. Kemudian rasulullah bilang ia masuk surga.

Termasuk yang mana kita?

Sesama manusia kok saling menilai. Sudah mau jadi Tuhan? Tidak kah kita mawas diri terhadap apa yang kita lakukan?

Kok bahasanya makin ngalor ngidul begini. Itu contoh yang semoga clear dan dapat dipahami dengan baik oleh pembaca yang budiman.

Lantas apa hubungannya dengan peristiwa pembubaran paksa pengajian di Sidoarja, Sabtu, 4 Maret 2017 kemarin. Tentu saja kita terapkan term itu pada kondisi ini.

Kesalahan fatal umat islam bila diperdengarkan firman Allah dan Hadist Rasulullah malah ia menolak, apalagi membubarkan. Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiuun. Kalau orang berprinsip pada apa yang salah bukan siapa yang salah. Ia tak akan punya dendam pada siapa pun. Ia akan mendengarkan nasihat baik darimana pun. Dari orang musryik, dari orang sesat, dari orang aliran menyimpang, dari pelacur, dari pencuri, dari anak kecil, dari orang tua. Selama nasihatnya berdasar Al-Qur’an dan Hadist Shahih Nabi.

Sungguh disayangkan. Ketika yang dibahas dalam pengajian adalah rumah tangga islami based on Al-Qur’an dan Hadist, malah dihentikan. Kalau ia beriman kepada Al-Qur’an dan Rasul, ia akan mendengarkan ceramah itu hingga habis. Dan ketika apa yang disampaikan oleh penceramah ada kekeliruan atau mengandung aliran wahabi yang sesat, silakan acungkan tangan dan discuss memberi masukan atau jika tidak bisa, tinggalkan. Lebih indah bukan? Lebih bersahaja bukan? Kalau mainnya baku hantam dan frontal begitu, mana tertarik manusia lain untuk join dengan islam. Katanya rahmatan lil alamin. Sesama islam saja bentrok.

Apa tidak bisa diselesaikan dengan baik dan damai.

Tidak gentle menurutku. Kalau berani, ajakin diskusi terbuka atau tertutup. Adu argumen dengan bukti fakta yang komprehensif dan terarah. Kalau bisa jadi sebuah tulisan. 50.000 kata. Berisikan latar belakang, tujuan, tinjauan pustaka, metodologi pengambilan data dan bukti, analisa, pembahasan dan kesimpulan. Lha belum penelitian yang sistematis, sudah asal judge kafir, judge neraka saja orang-orang kita ini. Jangan-jangan kita hanya berlandaskan “katanya” dan “kata orang”. Sungguh dangkal jika memang benar adanya.

Padahal kita sudah diberi akal sehat. Kenapa tidak dipergunakan untuk meneliti lebih dalam dan menelaah klausulnya? Semisal terhadap term, apa itu wahabi, bagaimana ciri khas dakwahnya, bagaimana kisah sejarahnya, komparasi prinsip dengan ahlus sunnah wal jama’ah. Dan item pertanyaan yang lain.

Jangan asal tuduh. Layangkan pada pihak berwajib. Kalau toh ada, silakan ditempuh sesuai tuntunan Nabi.

Dan dan dan. Ada yang tidak boleh tertinggal dalam menilai orang. Dalam memberi raport terhadap sesama murid. Dalam mengingatkan orang. Dalam memberi nasihat kebaikan pada orang lain. Apa itu yang tidak boleh ketinggalan. 

Dia adalah pertanyaan, sudahkah kita benar sedari pikiran? Jangan jangan pikiran kita yang salah. Kalau cara berpikir kita saja sudah salah. Pandanganpun menjadi suram. Semua jalan serasa penuh dengan penyelewengan. Apapun bisa jadi salah. Telinga menjadi dungu, mata menjadi buta, dan otak menjadi keras dan bebal.

Itu dulu komentar saya. Jika ada yang tidak setuju. Yuk discuss dibawah. Percakapannya tetap dengan term mencari kebenaran bukan siapa yang benar. Karena manusia tempatnya salah. Dan orang salah tak selamanya salah. Dan orang benar, tak mungkin tidak memiliki kesalahan. Wallahu’alam.

Semoga membuka pori-pori pikiran. Labirin yang sempat membingungkan. Tercerahkan kembali.

Selamat malam.

Advertisements

One thought on “Pembubaran Paksa Tabligh Akbar Sidoarjo, Sabtu 4 Maret 2017

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s