Impian Tahun 2015

Suatu hari, saya memiliki sebuah impian yang ingin sekali saya wujudkan segera. Semakin hari, usia makin menua. Batas hidup manusia, mati, semakin dekat. Seolah menggugah dan mengejar saya untuk segera mewujudkan cita-cita yang menurut saya mulia ini. Berikut untaian mimpi-mimpi itu.

Ilustrasi dari kompasiana

Melakukan aksi sosial membantu pemerataan pendidikan. Mencakup segala aspek. Baik berupa fasilitas sekolah terutama mengembangkan ruang baca di daerah terpencil yang masih belum memiliki perpustakaan yang memadai.

Kriteria perpustakaan yang kurang adalah:

  1. Tidak ada ruangan khusus perpustakaan / ruangan tak menarik
  2. Tidak ada sarana prasarana perpustakaan, seperti: rak buku, buku, dan tempat baca
  3. Fasilitas perpustakaan tak menarik, tak terawat, berdebu, kotor, buku lusuh, rusak
  4. Bukunya kurang dan tidak menarik

Memeratakan alat sekolah bagi sekolahan terutama untuk anak dahulu. Apa tujuan anak dulu menjadi sasaran? Untuk menumbuhkan kesadaran anak bersekolah dan juga mendorong keluarga untuk menyekolahkan anak-anaknya. Kebanyakan di daerah terpencil kesulitan untuk dapat baju seragam sekolah, sepatu, kaus kaki, topi, dasi dan perlengkapan lain. Banyak diantara mereka beralasan kurang mampu untuk membeli peralatan sekolah. Kalaupun mereka sekolah, kadang seragamnya berbeda, ada yang pramuka ada yang merah putih, ada yang memakai sandal, ada pula yang bahkan tak memakai seragam karena tak punya salinan untuk dipakai esok hari.

Di sisi lain, di perkotaan terutama di Jawa sini, banyak pakaian seragam sekolah tak dipakai dan tersimpan di lemari saja. Belum lagi buku, buku disini setiap kali ganti kurikulum yang tak jelas tetek bengeknya mesti digeletakkan begitu saja. Habis masa sekolah hanya menjadi kiloan di timbangan untuk dirongsokkan. Padahal jauh disana, di pedalaman negeri sana, banyak yang membutuhkan buku tersebut. Miris sekali melihatnya. Daripada rusak karena tak dipakai mending disalurkan ke anak lain di pelosok nusantara yang belum menikmati kerennya seragam sekolah dan apiknya buku disini. Bagaimanapun kondisinya, akan tetap bermanfaat.

Bahkan yang paling menyakitkan ketika para pelajar hura hura di jalan merayakan kelulusannya dengan mencorat-coret seragam sekolahnya. Merusak seragam dan membuangnya ke tempat sampah. Sungguh miris sekali melihat di suatu sudut negeri masih kerepotan menggunakan seragam, malah disini dirusak dan dicorat coret.

Berangkat dari beberapa alasan itu, saya bermimpi bisa menjadi pelopor untuk menyalurkan pakaian, buku, dan alat sekolah ke pedalaman negeri yang masih belum bisa merasakan manisnya pendidikan dan pemerataan pendidikan.

Menimbun Harta Secukupnya Saja

Buat apa menumpuk banyak uang hanya untuk kepuasan pribadi, menimbun pundi-pundi uang. Mending secukupnnya saja, misal masih bisa bertahan hidup 30 hari lagi ya sudah cukuplah. Selebihnya salurkan guna kebermanfaatan. Toh hidup ini terbatas. Kita tak mungkin bawa harta kita ke liang lahat. Berikan bantuan saja pada orang lain di luar sana yang lebih membutuhkan.

Nantinya juga program ini dapat dijadikan organisasi sosial yang mewadahi orang untuk dapat menyisihkan sebagian uangnya untuk didonasikan dan disalurkan untuk keperluan pembangunan pendidikan. Misalnya ada anak yang tak mau sekolah karena letak sekolah yang jauh dan tak ada angkutan umum. Segelintir orang mau berkorban mengeluarkan gajinya untuk membeli mobil dan mengangkut anak sekolah tersebut. Kita bisa mendanai bensinya atau bahkan membeli angkutan umumnya. Dan biar warga sekitar nanti yang membiayai sendiri bensinnya serta ongkos bagi supirnya. Jadi mereka bisa berkembang sendiri, kita tak memberikan dana tunai tapi memberikan wadah agar mereka berkembang sendiri, meningkatkan tingkat pendidikan sendiri. Disini kita akan menfasilitasi saja, membantu meringankan suatu yang tak bisa ditanggungnya dengan kondisinya yang seperti itu.

Dan itu akan indah sekali jika terwujud. Dan sepertinya tak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari orang lain yang dapat menjalankan sekaligus menjadi partner saya. Tanpa berserikat, tak akan bisa. Bisa pun mungkin akan berdampak kecil dan tak mampu berkembang pesat. Iya kan?

So, siapa pun yang tertarik, monggo bekerja sama demi terwujudnya Indonesia yang lebih maju dalam segala bidang melalui jalan utama yaitu perbaikan pendidikan. Karena saya yakin, negara tak akan maju kalau tingkat pendidikannya rendah.

Semoga dapat terwujud segera. Saya masih berumur 20 tahun. Di umur 21 tahun setidaknya sudah ada bukti kongkret saya mulai membangun untuk mewujudkannya.

Aamiin.

Note: Tulisan ini pernah terbit sebagai laman yang dipublish pada tanggal 18 Mei 2015. Disaat perombakan layout blog dilakukan. Diposting kembali sebagai tulisan pengingat. 🙂

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s