Sudah Adakah Teleskop di Sekolah?

yy
Sumber: http://astronesia.blogspot.co.id

 

Jujur saya sedikit sedih ketika harus dihadapkan dengan pendidikan di Indonesia dimana sekolah-sekolah mengutamakan pengadaan mikroskop daripada teleskop. Jika bakteri, sel, fotosintesis, jaringan tumbuhan, dianggap penting karena termasuk dalam kurikulum wajib di ilmu sains; kenapa pengamatan benda-benda langit seperti kawah bulan, gerhana bulan/matahari, badai matahari, penampakan planet, bintang, termasuk ancaman meteor, seakan terabaikan dalam kurikulum wajib sains pada pendidikan kita?

Sebelum saya ngalor-ngidul membahas lebih lanjut, kebetulan saya ditunjuk oleh mas Hafidh sebagai salah satu kontributor di Life-Science-Islam. Agar kebermanfaatan dari blog yang ia buat sejak bangku SMA ini jadi makin melebar. Maka, dengan adanya kontributor-kontributor yang ikut meramaikan blog ini, penulis berharap setiap tulisan di Hafidhmind bisa menginspirasi setiap orang yang membacanya.

Okay, Back to the topic.

Kurangnya praktik ilmu astronomi di kurikulum pendidikan kita.

Bagi kebanyakan orang khususnya di Indonesia, astronomi hanya sebagai bumbu penyedap di industri perfilman Hollywood. Dimana film-film fiksi ilmiah berbau planet, perjalanan luar angkasa, ancaman meteor jatuh, pencarian makhluk extra-terrestrial sukses merajai kancah perfilman internasional. Ya namanya juga film fiksi ilmiah, kita hanya disuguhi oleh cerita heroik dengan special effect yang terlihat wow dan futuristik, padahal belum tentu semua hal yang berbau astronomi di film tersebut ajeg 100% mengikuti hukum sains yang ada. Akhirnya mereka yang jadi penonton iya-iya saja ketika disuguhi cerita pencarian planet untuk “rumah baru manusia” yang lokasinya di dekat lubang hitam, padahal lubang hitam adalah benda masif yang mempunyai gravitasi luar biasa yang seharusnya tidak didekati.

Apakah pendidikan di negeri ini memang menganggap ilmu astronomi itu kurang penting, kurang berguna, dan tidak berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari seperti halnya ekonomi, matematika, bahasa, dan lain-lain? Atau memang kita sebegitu tertinggalnya dengan negara lain dimana mereka sudah berlomba-lomba mengirimkan teknologi mereka ke luar bumi? Atau bahkan ilmu astronomi dianggap ilmu yang terlalu “mahal” untuk dihadirkan di bangku sekolah?

Menurut saya, stereotip-stereotip “mahalnya ilmu astronomi” tadi harusnya dihilangkan. Bahwa praktik astronomi itu juga penting dimasukkan di kurikulum pendidikan khusunya di bidang sains. Jadi tidak hanya pengamatan secara mikroskopis saja, tetapi pengamatan tentang benda-benda langit juga harus diajarkan sejak bangku sekolah dasar. Dampaknya, antusias para pelajar terhadap ilmu luar angkasa ini makin bertambah dengan harapan muncullah generasi-generasi yang melek astronomi dan melahirkan ilmuwan astronomi yang bisa membawa nama harum negeri Indonesia tercinta ini.

Yang saya sangat sayangkan adalah kenapa fasilitas yang mendukung di ilmu ke-astronomi-an hanya ada di Bandung saja. Mentang-mentang disana ada obsevatorium dan akhirnya dibukalah Program Studi Astronomi di ITB. Lalu bagaimana dengan pelajar-pelajar di luar Bandung yang berminat dengan ilmu luar angkasa tapi masih terbatas dengan tidak adanya infrastruktur yang mendukung seperti teleskop atau obsevatorium? Belum lagi pandangan kolot orang tua kebanyakan ketika anak mereka ingin belajar ilmu perbintangan, “Mau jadi apa kamu ambil jurusan astronomi?” akhirnya pelajar-pelajar yang berpotensi tersebut wurung menggapai mimpi mereka dikarenakan tidak direstui orang tua.

*kemudian ambil hp “Halo, pak Jokowi..?”*

kesimpulan

Yah.. bagaimanapun pendidikan di Indonesia kita harus tetap untuk berpikir optimis. Kita berpikir yang positif-positif saja bahwa suatu saat (entah kapan) minat guru dan pelajar terhadap ilmu astronomi di Indonesia semakin besar dan berkembang. Kita optimis saja suatu saat (entah kapan) Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara lain dan menjadikan astronomi sebagai sains yang diminati oleh semua kalangan. Tentunya peran pemerintah juga mempunyai andil yang sangat besar untuk meningkatkan minat pelajar terhadap ilmu astronomi. Atau kalu perlu uang APBN pendidikan sebaiknya dibelikan teleskop saja biar semua pelajar bisa mengamati bintang (haha ini hanya usul saja). Toh Kalau kita bertekad bisa, ya kita pasti bisa. Jaya terus pendidikan Indonesia 🙂

Selamat sore.

 

Advertisements

6 thoughts on “Sudah Adakah Teleskop di Sekolah?

  1. Teleskop oh teleskop 😫. Sejauh ini saya juga belum pernah pegang teleskop *sedih.
    Ilmu astronomi bagi saya pun cukup asing. Buku-buku panduannya tak mudah dipahami juga praktiknya perlu alat yang harganya mahal. Setidaknya itu kendala saya belajar ilmu falak 😖

    1. Haha saya juga belum pernah pegang mbak 😂. betul, Ilmu astronomi memang masih asing di negeri kita. Selain kurang diminati pun alat2nya mahal juga. Tapi untungnya di setiap kota sudah ada komunitas astronom2 amatir kok mbak, jadi minat astronomi masyarakat Indonesia bisa tetap tersalurkan.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s