“True Love”

Kalau dilihat dari judulnya, postingan ini kayaknya terlalu gimana gitu yaa 😀 (Agak nyeleneh sih). Mohon dimaklumi saja soalnya yang nulis masih pertama kali belajar nulis di blog :v. Penulis lainnya mungkin yang dibahas tentang yang berat berat. Tapi disini saya mau bahas yang ringan ringan saja dulu soalnya masi pemula 😀 .

Disini saya akan membahas tentang masalah cinta saja (wkwkwk).

Cinta memang kata menarik, tak habis dibedah kata, tak lekang dimakan masa tak dapat dijangkau mata walau adanya nyata (Aseek) . Namun dangkal kiranya bila cinta hanya dianggap urusan fisik, sempit rasanya bila cinta dimaknai hanya dengan kata “ Pacaran”.

Bila cinta hanya menyatunya fisik, maka semua hewan pun mampu bercinta, bila cinta hanya pegangan tangan, aduh sangat sempit sekali cinta itu. Bukan cinta apabila hanya pentingkan ego pribadi dengan manfaatkan lawan jenis untuk memenuhi syahwat kita. Bukan cinta apabila biarkan yang kita cintai melawan Dzat yang menciptakannya dan menciptakan kita, maksiat namanya. Cinta itu memikirkan yang dicintai, bukan hanya kemarin dan kini, tapi nanti. Cinta itu berserius dan bersungguh-sungguh, cinta itu memberikan bukan meminta.

Allah hiaskan pada diri kita cinta agar kita dapat tulus menyayangi sesama, memanusiakan manusia dan menyatukannya dalam ukhuwah. Allah pun berikan pada kita cinta untuk saling melengkapi, mengutuhkan diri kita sebagai makhluk Allah. Sejak awal dunia, cinta telah berperan, dimulai dari ketiadaan, ruang kosong tanpa waktu, Allah berkehendak jadikan kita dengan cinta-Nya. Ditiupkan ruh-Nya kepada kita agar menjadi bagian dari kita cinta-Nya itu, dan karena itu terizinkan kita menikmati nikmat dunia.

Lihatlah cinta yang sering terlupakan sampai kubur menganga dan kain kafan terbentang, padahal cinta itu hadir sebelum kita lahir. Semua diawali oleh janji suci penuh cinta yang megikatkan diri kita pada rahim (cinta) bunda terkasih, bertumbuh dan menanti. Ayah terus menanti kita, kesibukannya sering terusik dengan tanya “apa anakku baik baik saja?, segala persiapan digiatkan, uang ditumpuk.

Seringkali di tempat kerja ayah mengikat perutnya, rela tak penuhi hajatnya hanya karena “ini lebih baik disimpan untuk si kecil nanti”. Bunda yang tak pernah menghitung jasanya, bertambah berat tubuhnya setiap waktu, sementara kita bertambah ringan perhatian padanya. Walau perutnya tak ajeg dan badannya tak nyaman, namun pikirnya mantap, bacaannya “bagaimana mempersiapkan kedatangan bayi?”.

Dalam mualnya dia bersedekah dengan zikir, memaksa makanan masuk ke perut walau ia tak suka, beginilah cinta. Saat hendak bersalin, tegang diri bunda saat terbersit ia dipanggil Allah hingga tak sempat lagi menemani dewasa anaknya. Cemas bercampur senang, harap berkelindan dengan resah, doa dipanjatkan, sakit tak berbilang membuncah, semua karena cinta.

Ayah kita yang biasanya kiat pun tak mampu menahan melihat bunda yang menahan sakit, berjudi dengan nyawa diujung derita, semua itu karena cinta. Saat bunda hampir kehilangan harap, dan ayah di batas asa, teriakan kita membalik semua sakit jadi tawa, hanya cinta yang mampu begini.

Masih berlumuran darah, bunda menatap wajah kita dengan senyuman yang paling indah, seolah dia wanita paling bahagia di seluruh alam semesta ini. Lupa sudah sakit, hilang sudah cemas, ayah kita menghambur memeluk, hanyut dalam tangis layaknya bocah, inilah cinta.

Mari kita putar balik memori kita, tulisnya cinta yang diberikan ayah-bunda, apakah kita menghargainya? atau bahkan ingat pun tidak? Pernahkah kita memberikan hadiah, sekedar sekuntum bunga atau selirik ucapan “terimakasih bunda?” bersujud simpuh dihadapannya?. Ataukah bunga pertama yang ingin kita berikan padanya tatkala tubuhnya terbaring kaku dan jiwanya telah kembali?. Ataukah bangga kita padanya baru terucap saat yangan tak tergenggam lagi dan mata tak bertemu selama-lamanya?. Dalam doa selesai shalat kita, berapa banyak kita menyebut ayah-bunda, ataukah nama yg lebih sering disebut adl pacar? naudzubillah!

Lihatlah Rasulullah saw, yang dengan cinta dia menyebut kita “ummati, ummati, ummati” mengkhawatirkan kita di ujung maut. Tak habis siksaan dialami Rasulullah demi ummatnya, lemparan batu, guyuran kotoran ternak dan pukulan, adalah bukti cinta Rasulullah.

Beginilah manusia cinta didepan mata terbutakan nafsu sesaat, yang disalah artikan sebagai cinta. Kita lebih cenderung pada ramai kata dunia dibanding keputusan Allah dan Rasulnya, mendurhakai pencipta cinta. Mungkin tak kita ketahui tanpa sadar bahwa kita telah masuk dalam jebakan yahudi dan nasrani, ditelikung dari titik buta tanpa sadar. Mereka tau bahwa pemuda adalah tumpuan umat Islam, yang paling peka terhadap cinta, menghancurkan mereka berarti menghancurkan Islam. Mereka kenalkan kita budaya hedonis, bertuhankan syahwat dan kepuasan nafsu fisik belaka, mereka bungkus dengan kata cinta.

Bagaikan racun yang terbungkus madu, paras cinta dunia elok berdadandan menutupi kebusukan aqidah, siap membunuh siapa saja yang menelannya. Jangan kalian nodai nama cinta dengan mengatasnamakannya atas pekerjaan nafsu. Karena cinta jauh berbeda dengan nafsu. Cinta tak akan pernah menginginkan yang dicintai menjadi sengsara dan susah, dan menumpuk kesenangan berdasar ke-egoisan. Jangan katakan cinta apabila ia tau perbuatannya akan mengantarkan yang dicintainya pada api neraka sementara ia tetap melakukannya. Bukan cinta bila lebih mementingkan ajaran lain selain ajaran nabi Muhammad saw.

Sungguh banyak salah dan khilaf kita kepada Allah. Kita tau api neraka itu panas, Tapi tetap saja kita melakukan yang dilarang olehNYA. Sungguh lemah kita dari mencinta secara sejati, sungguh pintar kita membuat topeng cinta untuk syahwat kita. Karuniakanlah kita cinta sejati, al-hubbu fillah.. cinta karena Dzat-Mu duhai Allah, pemberi ketentraman hati. Karuniakan kita keberanian bertemu karena Engkau dan berpisah karena Engkau, duhai Allah Dzat yang menyatukan dan menceraikan. Karuniakanlah kita cinta sejati yang dengannya kita lebih mencintai-Mu, Rasul-Mu dan jihad di jalan-Mu dibanding barang fana apapun.

Tulisan ini ditulis karena terinspirasi dari ceramah ceramahnya ustadz Felix Siauw. Semoga para pembaca tergugah hatinya, dan mengerti arti cinta yang sebenar benarnya cinta itu seperti apa. Bisa membedakan itu cinta atau nafsu belaka. Tulisan ini bukan bermaksud menggurui, karena saya disini sebagai penulis juga masih belajar memperbaiki diri. Agar kita tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama dan semoga kita kembali ke jalan yang benar yang diridhoi Allah. Amin

Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s