Harga cabe adalah soal penjajahan

Kemarin temanku, alfu, dia menuliskan ulasan tentang harga cabe yang tidak masuk akal di pasaran. Cabe rawit yang mencapai 140ribu menyaingi harga daging sapi. Penyebabnya adalah food insecurity, katanya.

Ilustrasi cabe dari google.

Aku tertarik memberikan komentar. Gagasan untuk saling melengkapi. Karena dewasa ini, budaya adu argumen secara sehat telah pudar. Tenggelam oleh kebiasaan banci pengguna sosial media yang beraninya ngomong tanpa alamat dan tanpa dasar. Ditengah arus informasi yang melaju menggerus jaman, yang mana kita kualahan mengikutinya. Dan dikala budaya verifikasi keabsahan berita sudah menjadi masa lalu.

Baik. Soal cabe, telah ku singgung bahwa itu adalah buah dari penjajahan pola pikir, perang budaya, ekspansi pengaruh asing.

Betapa tidak, Indonesia sedemikian kaya sumber daya alamnya ini bisa sampai kekurangan pasokan cabe. Luas tanah yang ribuan. Kesuburan tanah vulkanik pegunungan. Humus tanah yang tak perlu diproduksi secara kimiawi. Bahkan koes plus bilang, “kayu ditancap bisa menjadi tanaman”.

Melihat kondisi lapangan yang terjadi. Jangankan mau swasembada pangan. Beras saja impor. Itu makanan utama orang kita. Belum lagi cabe, daging sapi, tomat, dan hasil pertanian lainnya. Melihat hal itu wajar kita menanyakan kembali, “Adakah yang salah dalam pengolahan alam di negeri kita ini?”. Pertanyaan klarifikasi tentang kemana hasil bumi kita selama ini.

Salah cara tanam kah? Salah distribusi kah? Salah ambil kebijakan kah? Atau ada kemungkinan celah kekonyolan yang lain.

Para birokrat boleh saja bilang, “Harga cabe naik karena alasan yang wajar. Banyak lokasi penyuplai cabe di desa-desa sedang gagal panen. Cabe siap panen mereka terguyur hujan. Hal itu menyebabkan cabe membusuk dan kualitas menurun. Harga jualnya pun jelek”. Kemudian mereka para petinggi negara yang mengempu amanah kesejahteraan rakyat menambahkan bahwa jauhnya distribusi mengakibatkan ongkos kirim yang meroket.

Well. Jika ditengok dari aspek ketersediaan, distribusi, dan pemanfaatannya, kita memang lemah. Motto yang diusung oleh pemerintah adalah tentang ketahanan pangan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tahan berarti tetap keadaannya meskipun mengalami berbagai macam pengaruh dari luar. Jika dikaitkan, dengan ketahanan pangan, artinya suatu negara yang memiliki ketahanan pangan yang baik adalah negara yang paling terakhir merasakan kelaparan dan krisis pangan ketika terjadi paceklik panjang. Kalau diperkecil skalanya, keluarga yang memiliki ketahanan pangan baik akan merasakan paling terakhir krisis pangan yang terjadi di masyarakat.

Ya, paling terakhir mati jika terjadi kelaparan yang berkepanjangan. Tapi apakah itu solusi? Kalau dalam management perusahaan, dalam penyelesaian masalah, ada dua action perbaikan yang menjadi alternatif, yaitu: corrective action dan preventive action. Jika kita masih berkutat dengan corrective saja (perbaikan atas kesalahan yang terjadi, dalam term krisis cabe, dapat berarti kebijakan operasi pasar dan impor) kematian sangat dekat dengan kita.

Coba bandingkan dengan preventive action berupa term kedaulatan pangan. Berdaulat berdasarkan KBBI berarti memiliki kekuasaan atas apa yang dimiliki. Bebas berkuasa untuk mengolah, memanfaatkan, dan menjual tanpa ada intervensi dari asing. Lebih tinggi dan mulia. Berdaulat secara pangan berarti kita menanam sendiri dan berdiri atas hasil bumi sendiri. Mandiri. Setiap rumah punya tanaman di pekarangan yang bisa dimanfaatkan untuk bahan makanan. Bisa sayuran dari teknik hidroponik atau sistem tanam polibek. Bisa buah-buahan yang santai bisa ditanam di depan rumah berupa pepaya, mangga, pisang, kelengkeng, anggur, dll. Atau tanaman obat keluarga dan bumbu masakan seperti kunir lengkuas jahe bawang merah bawang putih dll.

Nah sudah kah kita berdaulat secara pangan? Ataukah kita hanya tahan sebentar saja hidup kemudian mati karena krisis pangan? Berdaulat secara pangan memungkinkan kita dapat mewujdkan sustainable living in the world (Tidak mati dengan fluktuatifnya kondisi di luar). Sedangkan ketahanan pangan hanya memungkinkan kita tidak mati cepat tapi pasti mati kemudian. Aktualnya, kita semua beli tanpa bisa menanam sendiri. Nilai uang semakin turun, nilai hasil pertanian makin naik karena ketersediaan lahan dan orang yang mau bertani pun menurun derastis dari tahun ke tahun. Mau intensiviasi pertanian, ekstensiviasi, mesinifikasi, modernisasi pertanian boleh saja, tapi jangan hanya wacana dan kebijakan normatif saja. Rakyat butuh realisasi.

Oke mungkin ketahanan pangan bisa kita capai dengan menyediakan, mendistribusikan, dan memanfaatkan secara bijak. Tetapi kalau dalam penyediaan itu kita dapat dari import. Harga tetap termonopoli oleh asing, oleh pungli, dan para pemain juga penimbun di pasar. Akhirnya masyarakat yang menjadi resah.

Masyarakat sudah di dzolimi sedemikian hina. Bagaimana tidak? Lha lahan pertanian seluas ini, beras impor dari jepang. Jagung di impor dari brazil. Seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, di NTB mengalami surplus produksi jagung. Yang ketika dipakai untuk kebutuhan nasional bisa tahan hingga 3 bulan berturut-turut. Malah terhadap surplus itu, kebijakan yang diambil adalah menjual jagung dengan harga murah karena alasan hukum ekonomi yang bilang bahwa harga turun jika ketersedian barang semakin naik dan kebutuhan turun. Karena kebijakan menurunkan harga jagung di NTB, petaninya pun gulung tikar. Ada juga omongan dari petani, “harga pupuk lebih mahal daripada hasil tani”. Dan konyolnya 2 bulan berselang, pemerintah mengimpor jagung dari luar dengan dalih kekurangan hasil bumi tersebut.

Begitu pula cabe dan daging sapi. Kita dijajah sedemikian terpuruk. Kita dididik untuk menjadi konsumtif. Ditanamkanlah doktrin, pekerjaan petani itu madesu, masa depan suram. Tidak cerah. Yang cerah adalah menjadi karyawan pabrik multinasional, pengahasilan dua digit titik titik juta. Kita dapat uang itu, tapi kita tidak bisa makan. Mau makan uang? Sedangkan harga hasil bumi semakin mahal saja. Karena anak petani berbondong-bondong memakai dasi dan tas yang plecing picis ke kantor-kantor di kota orang modern. Tidak ada yang meneruskan cita-cita luhur bangsa. Semuanya jadi budak asing. Temanku bilang, Abdi Nippon atau Abdi China atau Abdi Barat.

Suatu saat, mungkin kita tidak bisa merasakan pedasnya cabe lagi. Mungkin kita akan makan baut, besi, bangunan, cor, semen, roda, mobil, tivi, kulkas dan barang-barang yang kita impikan bisa memberikan kesejahteraan bagi kita.

Semoga masa itu tidak datang cepat-cepat. Datanglah dikala Negaraku, Indonesiaku ini telah Berdaulat terhadap dirinya sendiri. Tidak lagi mau disodomi oleh asing yang bebas mengeruk isi perut bumi kita hingga ke dasar tanpa ujung. Bangunlah jiwanya. Bangunlah raganya. Untuk Indonesia raya.

Bingkisan untuk negeri.

Advertisements

4 thoughts on “Harga cabe adalah soal penjajahan

  1. Suamiku waktu di bali kmren jg heran konyol gak masuk akal tuh harga cabe segitu ? Mungkin harga cabe di indonesia termahal di dunia ! Di negara lainnya kyknya gak pernah harga cabe semahal itu 😨 kata suamiku lha di Indonesia lahan tani bagus banyak air dan kaya matahari kenapa cabe bisa mahal gitu ?

  2. […] Itu semua tentang yang terlihat. Yang dibelakang layar sungguh sangat miris lagi. Dulu kita dijajah oleh Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang sebagai pusat pemasok rempah-rempah dunia. Sekarang kita malah impor. Dimana rempah-rempah berupa cabe dan bawang kita impor dari negara Thailand. Beras kita dari Vietnam. Kelapa sawit terbesar milik Malaysia. Gula dan garam tidak lagi produksi sendiri. Petani garam di Madura sudah gulung tikar. Garmen dan tekstil kita terseok seok akibat arus dari MEA. Sapi Sumbawa dan Flores tak mampu mencukupi kebutuhan daging nasional sehingga kebijakan pemerintah mengambil langkah berupa impor dari Selandia Baru, Australia, Norwegia, dan India. Service penerbangan terhebat milik Singapore Airlines. Perdagangan paling pesat ada di singapore. Kita berbondong-bondong ke Singapore dan wisata luar negeri, padahal di negeri sendiri tidak kurang-kurang keindahannya. Disanalah orang kita hanya jadi penonton. Kita kalah telak. (Pelengkap tentang penjajahan dalam dunia pangan ada disini) […]

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s