Lebih baik mana?

Aku ingin berteriak pada dunia. Dunia yang penuh dengan ilusi ini. Tipu daya. Dan kerusakan-kerusakan baik dari segi pikiran, perbuatan, maupun budaya. Maaf menggeneralisasi untuk term orang modern yang menuhankan dunia. Tidak semua kok, sebagian besar juga masih ada harapan kebaikan. Aku ingin bertanya dengan menggunakan 2 Case dan 2 Frame berpikir menggunakan akal sehat:

Ilustrasi lebih baik mana oleh Lianny Hendrawati

Lebih baik mana? Pak tukang bakso yang menunggu pelanggan dengan beristigfar kepada Allah. Membaca Al-Qur’an di kala senggang. Memoles hafalannya sela-sela kesibukan melayani pembeli.

Daripada kaum borjuis di kota-kota yang dandan necis sambil nenteng laptop. Baunya wangi, rambutnya klimis. Dasi dan jas menambah kewibawaan mereka. Tetapi untuk menaati atasan, meeting bablas meninggalkan sholat. Sebenarnya, mandor kita ini Allah atau Boss pada perusahaan kita sih?

Lebih baik mana? Antara bengkel pinggir jalan. Yang dikala sibuk memperbaiki motor orang yang sedang mogok, diam sejenak menjawab Adzan. Dan bergegas membasuhi oli yang menempel pada tangan dan bajunya. Bersemangat menunaikan panggilan Pencipta Alam.

Daripada staff-staff perusahaan yang hanya ikut arus saja. Tak punya pendirian. Akar prinsip pendiriannya pun sudah melenceng jauh dari prinsip ekonomi islam ala Rasulullah. Tegas, islam mendekte umat, “Janganlah memperberat timbangan, jangan sumpah palsu, dan menyembunyikan cacat pada barang yang hendak kau jual.” Malah dia memaklumi semua itu dengan dalih memenangkan persaingan yang ketat di dunia modern, melindungi eksistensi perusahaan dan ribuan karyawan dibelakangnya, dan demi profit yang terus mengalir sebesar-besarnya.

Lebih baik mana? Tukang las pinggir jalan yang teguh dalam pendirian. Dia ingin menjual jasanya. Tidak ketinggalan sholat malam dan puasa sunnahnya. Dia kekurangan dari segi ekonomi. Tetapi kekeh tetap menunggu orang yang ingin menyambung hidup logam yang mereka miliki.

Daripada pegawai-pegawai yang berdagang kesengsaraan orang. Memeras orang miskin dan memperjualbelikan ilmunya dengan harga yang murah. Mereka adalah orang-orang yang mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain. Orang melarat datang, bukannya memberikan bantuan malah melilitnya dengan utang berasas riba.

Di mata manusia modern, orang sukses adalah orang yang berpendidikan tinggi, kerja di kota-kota besar, menjadi abdi perusahaan asing, berangkat kerja jam 8.00 pagi pulang jam 18.00 malam, gaji diatas 5jt atau 2 digit juta, pulang bawa mobil, punya rumah di perumahan elit, mejengnya di mall-mall. Menurut orang modern: petani, nelayan, bisnis kreatif, pengusaha start up, buka toko kelontong, jual gorengan dan sayuran di pasar adalah pekerjaan madesu. Tidak berprospek masa depan. Judgement tidak aman. Maaf menggeneralisasi, umumnya memang begitu, tetapi mungkin ada sebagian yang tidak. Maaf.

Lalu cobalah bandingkan dengan hidup manusia berdasarkan kehendak Allah berikut ini. Allah bilang manusia bertugas sebagai khalifah dimuka bumi, yang mengatur seluruh isi bumi. Dilarang merusaknya. Dan Allah bilang, Manusia dan jin tidak diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah.

Berkaca dari frame pandangan Allah, tentu saja penjual bakso, tukang reparasi motor, dan tukang las yang ingat akhirat lebih mulia disisi-Nya daripada karyawan, staff, dan pegawai kantoran yang mendewakan dunia. Tinggal kita milih hidup berdasarkan omongan orang atau hidup atas penilaian dan pandangan Allah. Itu pilihan.

Tapi, aku tidak ingin berat sebelah. Nanti aku dibilang tidak netral. Aku juga punya contoh yang tak kalah keren. Dan semua itu berbalik dengan yang diatas.

Lebih baik mana? Orang yang kerja di perusahaan multi nasional. Dia bekerja lillahi ta’ala dan untuk menafkahi keluarganya. Di tengah kesibukan meeting atau discuss dengan bos, angkat tangan dan ijin sholat terlebih dahulu ketika jam menunjukkan waktu sholat tiba. Mereka yang berani menasehati rekan kerja yang malas beribadah, terutama sholat. Dan mengusahakan sholat tepat waktu.

Daripada pemulung sampah yang penuh dengan kotoran. Jarang bersih diri. Dan terus menerus berpikir dunia. Bagaimana menyambung hidup dan tetap bernafas. Lupa akhiratnya.

Dulu aku pernah berpikiran demikian. Tidak apa lah. Malah lebih hebat kan, bisa tetap teguh pada perintah dan larangan Allah di tengah komunitas yang kering akan nilai-nilai agama dan islam.

Diperkuat oleh motivasi seorang teman yang bilang, “Berjuanglah dimana pun kamu berada. Di setiap maqam, tempat, dan waktu, Allah telah menetapkan ujian masing-masing.”

Jadilah saya berpikir, Oke fine aku kerja di perusahaan manapun aku akan perjuangkan sholatku dan kemuliaan akhlak yang Rasulullah ajarkan. Akan sangat keren jadinya, kan?

Nyatanya, aku gagal. Arusnya menyeret pada kebinasaan. Maka dari itu, saranku, jika ada yang buruk tinggalkan. Tidak perlu takut miskin. Allah telah menjamin rejeki setiap hamba yang lahir di muka bumi.

Saat itu aku menyerahkan diri hanya kepada Allah. Kuda-kudaku goyah. Aku butuh penyangga. Dan aku tahu sandaran yang paling kuat adalah Tawakkal kepada Allah.

Menurutku, bisnis sendiri, menjadi CEO di perusahaan yang kita built up sendiri lebih memungkinkan kita leluasa menerapkan system yang kita harapkan. Ingin islami bisa. Tapi sebaliknya ingin mengikuti setan juga bisa.

Maka dari itu, aku insyaAllah bisa mengusahakan membuka lahan bisnis sesuai dengan syariat. Aku bisa berpegang pada prinsip agama. Tapi, ada kalanya iman naik turun. Aku butuh seseorang yang sevisi dan semisi denganku untuk menuju Allah, meniti jalan menuju syurga.

Hm.. oleh karenanya, aku memilih kamu yang mampu mengubah niat burukku menjadi baik. Dalam diam saja, mampu menggerakkan syaraf tulang kakiku untuk berangkat ke masjid. Kamu yang hanya cukup diam saja mampu mengalihkan duniaku, membubarkan konsentrasiku pada dunia hanya untuk tertuju focus padamu. Karena kelembutan hatimu yang terus memancar di wajahmu.

Aku tahu engkau tak setegar kobaran omonganmu yang menggebu-gebu. Kamu tetaplah wanita yang butuh dilindungi dan dicurahkan kasih sayang terhadapnya.

Aku hendak beribadah. Menafkahi lahir dan batin. Semoga orang tua merestui dan pilihan ini sesuai dengan kehendak Allah.

Aamiin..

Advertisements

6 thoughts on “Lebih baik mana?

  1. “jika kau berada di jalan Allah, berlarilah kencang. Jika sulit, maka tetaplah berlari, meski hanya lari-lari kecil. Bila engkau lelah, berjalanlah. Apabila semua itu tak mampu kau lakukan, tetaplah maju meski harus merangkak dan jangan pernah sekalipun berbalik arah.” – Al-Imam As-Syafi’i.

    Dakwah ini dibangun diatas perjuangan, bukan keputus-asaan, bukan oleh orang-orang yang lemah, orang-orang yang suka bersantai ria, berleha-leha dan hanya berangan-angan saja.
    Dakwah ini harus diisi oleh orang-orang yang kuat yg memiliki visi dan misi idealis, mimpi-mimpi tinggi tanpa henti yang tidak akan terbeli oleh apapun selain kemuliaan Islam.

    Semangat ndan. Semangat untuk selalu berjuang di Jalan Allah. Semoga semua usaha dan ikhtiar dirahmati oleh-Nya. Amin amin ya robbal alamiin..

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s