Untuk Tuhan Yang Maha Indah

Rangkaian cerita ini aku kirimkan kepada Tuhan Yang Maha Indah. Karena apa? Tidak ada rangkaian fenomena asyik sedikitpun yang bukan atas planning-Nya. Bahkan sehelai daun pun yang jatuh berada di atas kendali-Nya.

Oleh karenanya, tak luput puji syukur kehadirat Sang Pencipta terus terlantun. Tak hanya dalam ucapan Alhamdulillah saja, melainkan juga tertampil pada actual perbuatan. Ibadah dan tekun menaati perintah sebagai rasa syukur terhadap nikmat yang Dia berikan.

Ilustrasi meneropong masa depan oleh Doğruhaber Gazetesi

Tahmid dan Takbir menggetarkan jiwa tatkala harapan mempersunting kenyataan. Manakala senja mulai merona, kami berdua dibalut oleh hangatnya perbincangan. Sore itu, di dalam ruangan bersuhu 18 derajat celcius, aku mengutarakan niat baikku untuk tidak berlama-lama lagi disini. Keluargaku menyarankan untuk ambil sekolah yang lebih tinggi.

Berbagai macam liku pembicaraan terlalui. Aku sangat menikmatinya. Terutama soal keterbukaan dan posisi  dua arah yang saling menghargai. Aku dengan pilihanku. Dan bosku dengan segala ekspektasi dan kerendahan hatinya mengarahkanku dengan licin dan mulus. Tentang loyalitas personal. Komunikasi dengan siapapun. Persepsi tentang uang adalah engagement dari loyalitas. Pembelajaran tiada henti-hentinya.

***

Dulu mungkin hanya sekedar mimpi. Di kelas fenomena transport, aku mempelajari bagaimana engineering proses dibidang steel making itu bekerja. Mengontrol laju oksigen, mengendalikan temperature, memastikan mass balance, dan instrumen yang harus diperhatikan saat proses mengerikan itu dilakukan.

Aku begitu tertarik olehnya. Handling proses. Tentang besaran dan lajunya. Tentang temperature dan waktu. Dan tentang aku dan kamu. Aih. Apalah yang terakhir ini.

Dan kini, Subhanallah. Aku one step closer terhadap impianku. Buah dari meninggalkan yang bathil karena takut kepada Allah, tidak butuh lama bagi Allah untuk mengode hambanya pada hal yang lebih baik.

Seperti yang aku tuliskan di Hijrah Fi Sabilillah pada tulisan sebelumnya. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, melainkan Allah akan memberimu pengganti yang lebih baik dari yang engkau tinggalkan.” (Riwayat Ahmad dan dinyatakan shahih oleh Al Albani).

Sekarang Allah memberikan rejeki nomplok sekaligus terkabulnya doa-doa selama kuliah dulu. Aku selalu berangan-angan bisa bekerja di perusahaan steel making. Mengendalikan semuanya. Dari segi keilmuan. Bahkan sekarang dengan bekal pengetahuan tentang handling customer issue, global issue, define customer requirement, system, komunikasi, pola pikir quality, audit, assessment, genba patrol, continual improvement, dan tolak ukur keberhasilan performa quality.

Aku semakin dekat dengan molding pengecoran, pembuatan billet, heat treatment, heat exchanger, dan proses steel making itu sendiri. Yang kesemuanya hanya impian belaka ketika kuliah dulu.

Aku senang bukan kepalang. Malah bossku bilang, “Kalau memang mau kuliah lagi. Menurut saya, kok mending disegerakan saja. Pindah ke Perusahaan sebelah (yang masih satu grup). Tetap bekerja dan bisa diselingi kuliah. Lebih deket toh ya dengan kampus.”

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”, (Ar-Rahman 55)

Beliau malah melancarkan. Semoga kemuliaan selalu membersamainya.

Tapi tentu disisi lain, aku masih sangat berat meninggalkan semua ini. Pekerjaan sudah sesuai passion, gaji selangit, dan kompetensi terus berkembang. Aku membatin, “Kalau aku tidak berbalas budi kepada mereka (orang-orang yang telah berpengaruh dalam pembentukan karakterku selama ngantor hampir setahun ini), aku telah dzolim kepada mereka.”

Stand saya jelas, “tidak akan meninggalkan tanggung jawab dan akan terus memutar circle activity plan yang telah aku janjikan”

Terima kasih Tuhan, telah melancarkan jalanku dengan melunakkan hati atasanku.

***

Terhadap tantangan yang aku hadapi kedepan. Bedanya, aku lebih fight. Aku memilih yang kecil tetapi sesuai dengan prinsip agama. Sreg di dalam hati. Semakin mantap dengan pilihan hidup.

Gaji tidak seberapa bukan masalah. Yang penting adalah keberkahan. Kalau menjauhkan diri pada Allah, tinggalkan. Dan jika mendekatkan, kenapa tidak diambil?

Dan dengan begini, aku tidak sedang menyerah terhadap keadaan. Aku akan terus meroket menuju cita-cita dalam dan mulia. Karena kapal telah lepas landas dan roda telah aku tinggalkan ditanah. Pilihannya hanya ada dua, mau menembus angkasa menikmati petualangan yang tidak akan terulang. Atau malah memilih jatuh pada posisi yang tetap sama.

Aku pilih adventure. It’s my life and I struggle. J

Selamat malam.

9.00 pm, hari ini.

Advertisements

3 thoughts on “Untuk Tuhan Yang Maha Indah

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s