Keputusan yang Besar

Petualangan perang melawan hawa nafsu sangat heroik sekaligus dramatis. Sangat layak jadi sekuel novel yang dibukukan. Ah.. cerita ini mengesankan. Aku sangat menikmati dan fight dengan apapun yang akan terjadi. Disini tulisan yang lalu lalu.

Hm.. Semakin kesini jalannya tak menentu. Belok kanan dan kiri. Kadang tertutup dedaunan jalan yang belukar.

Tetapi secercah cahaya mulai terlihat. Ditandai oleh pertemuan tertutup kami bertiga (Aku, Atasan, dan GM) di Ruang Meeting 2 tadi sore. Buah perbincangan santai ternyata jadi concern serius juga.

Buktinya, pertemuan intim ini. Kami saling mengutarakan argument masing-masing. Dari sisi atasanku. Pada posisiku. Dan juga seorang management representative.

Intinya sih, mereka menyayangkan keputusanku untuk segera keluar. Dengan tenggat waktu yang tidak dapat diganggu gugat. September tahun ini. Dengan segala pertimbangan perlakuan special yang diberikan untukku, pengembangan kompetensi, skill, dan juga nilai pada slip gaji. Engagement mereka seolah-olah gagal. Dan terselip pula kata menyesal.

Dan juga tentang kemampuan versus loading yang diberikan. Ada omongan, “Kemampuanmu itu setinggi langit, kalau tidak dimanfaatkan sayang. Hanya diberi loading pekerjaan setinggi atap. Sayang dengan kemampuannya.” Sampai segitunya rayuan itu bergulir.

Tapi aku tetap dalam pendirian untuk tidak disini. Masa depan bukan seperti ini. Dan kehidupan diluar tak se-sesak ini.

Dan pada pembicaraan itu berakhir pada kesimpulan penyegeraan untuk mengundurkan diri. Menggeser dengan halus.

Karena apa harus disegerakan? Mereka berpikir, “kalau semakin lama maka saya tidak bisa memberdayakanmu. Tidak pula bisa memberikan assignment-assignment yang dituntut ekstra.”

“Lebih baik disegerakan”, katanya.

Aku tentu saja sudah mempersiapkan konsekuensi ini. Bekalku matang. Aku akan ambil itu semua. Aku malah Alhamdulillah jika harus dipercepat. Lha wong niatnya hijrah fi sabilillah, dan ada jalan untuk mempercepat itu. Kenapa tidak diambil.

Aku yakin. Dan dengan tantangan itu, besok pun draft surat pengunduran diri akan kubuat untuk menuliskan End April 2017, aku sudah tidak di perusahaan ini.

Tidak ada kemungkinan ke perusahaan sebelah juga. Tidak ada cetusan itu sama sekali pada rapat terkini tadi. Aku tidak masalah. Toh teori tentang pengendalian steel making sudah banyak kudapat ketika kuliah dulu. Hanya saja belum kawin dengan sisi practicalnya. It’s not a big problem.

Aku sangat menerima. Aku tidak takut akan ketidakpastian masa depan. Aku yakin, masa depanku cerah. Aku terus bersyukur atas apapun yang menjadi ketentuan Allah kepadaku.

Ilustrasi fredom oleh pinterest

Aku sangat senang sekarang. Lebih plong. Dan lebih dekat dengan impian pulang kampong, berkebun, dan berbaur dengan masyarakat dimana tempatku lahir. Sudah 5 tahun berselang aku meninggalkan mereka. Semoga masih ada waktu untuk membangun desaku. Cita-cita luhur yang terus terpatri dalam hati.

Selamat malam.

Tulisan datar, penuh makna. Semoga.

Advertisements

3 thoughts on “Keputusan yang Besar

  1. Jadi, kuliah lagi atau nikah habis ini fidh? Wkwk. Atau “kuliah lagi” cuma sekedar alasan biar kamu mulus keluar perusahaan? 😛

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s