Perbandingan Bank Syariah dan Bank Konvensional dalam Kasus Hukum KPR Rumah (Riba yang haram atau Jual beli yang halal)

Alhamdulillah, akhir-akhir ini berlalu dengan penuh pelajaran dan pembelajaran baik. Dan sesuai dengan cerita yang kemarin tentang kelegaan dalam kejujuran. Yang berfokus pada cerita detik-detik akhir pengunduran diri dari kantor.

Ilustrasi dari just ordinary people

Terselip pula kenikmatan yang tak boleh lewat untuk disyukuri. Karena kemarin Allah mengirimkan manusia yang mendatangiku untuk menhelaskan perkara riba dan bank syariah.

Kenapa aku interest mempelajari ini?

Perlu diketahui bahwa aku sedang mengambil unit rumah di salah satu perumahan di Gresik Utara. Sudah masuk uang muka dan cicilan ke 3. Uang muka ini diangsur selama 12 bulan dengan nominal selangit. Katanya sih untuk memperingan cicilan.

Well sejauh ini masih oke dan on track. Dan terus aku ikuti bagaimana perkembangannya.

Tetapi tentu saja tidak bisa hanya mengikuti arus sungai saja. Kita harus berpendirian dan kalau diperlukan bisa melawan arus.

Kalau sungai pasti bermuara pada tempat yang lebih rendah. Bisa laut atau danau. Kalau cicilan rumah pasti ujung-ujungnya adalah KPR (Kredit Pembelian Rumah).

Cicilan uang muka semakin hari telah terlewati. Sejauh ini mulus. Tapi KPR harus tetap dipikirkan. Karena ia pasti akan datang juga. Dan perencanaan yang baik adalah pangkal kesuksesan. 80% kesuksesan berasal dari planning yang baik, bukan?

Oleh karenanya, riset dan pengambilan data yang tepat akan menentukan kualitas dari keputusannya. Bersinggungan dengan KPR berarti bersiap diri menghadapi bank dan segala tipe riba yang ditawarkan. Berikut adalah ringkasan pengetahuanku sejauh ini tentang tema ini. Dikutip dari berbagai sumber dan ceramah agama oleh ustadz Khalid Bassalamah.

Berikut adalah dalil haramnya riba dalam Al-Qur’an:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”(QS. Ali Imran:130).

Allah SWT berfirman, ”Maka disebabkan kedhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal mereka sesungguhnya telah dilarang dari padanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.”(QS. An-Nisaa’: 160-161).

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan lepaskan sisa-sisa riba(yang belum dipungut) jika kamu orang yang beriman, Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah Allah dan Rasullnya akan memerangimu. Jika kamu bertobat (dari pengambilan Riba), maka bagimu modalmu (pokok hartamu), Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula dianiaya. “ (Al Baqarah : 278-279).

Allah berfirman:” Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusi, maka riba itu tidak menambah di sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridlaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Ruum: 39).

Riba didefinisikan sebagai penambahan nilai uang yang dibayarkan oleh orang yang berhutang pada pihak yang menghutangi. Dalam term utang piutang, penambahan nilai yang harus diberikan sama sekali tidak dapat dibenarkan. Baik dalam bentuk kesepakatan diawal dan penambahan ditengah jalan karena terlambat mengangsur.

Riba juga dapat terjadi pada jual beli. Jual beli ribawi adalah jual beli yang terdapat penambahan nilai di dalamnya. Ada dua juga yaitu menukar barang ribawi yang berbeda tetapi tidak kontan dan barter barang ribawi dengan tambahan nilai.

Ilustrasi dari konsultasi islam

Dalam kaitannya dengan KPR, ciri-ciri KPR ribawi adalah sebagai berikut:

  1. Fluktuasi harga
  2. Ada denda jika tidak dapat mengangsur tepat waktu
  3. Disita / uang hangus apabila tidak dilunasi
  4. Akad hutang dan tidak fix jumlah yang dikembalikan
  5. Ada 2 pilihan harga

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli dua harga dalam satu jual beli.” (HR. Malik, At Tirmidzi dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Juga Hadist lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang berbunyi:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

 “Rasulullah Saw melarang jual beli al-hashah dan jual beli gharar”.

Transaksi gharar penjelasannya ada disini.

Sebagai alternative, Bank syariah muncul digarda depan memberikan solusi minimal terhadap riba yang diharamkan agama ini. Terdapat perbedaan signifikan antara kedua cabang bisnis keuangan tersebut. Secara prinsipil, label syariah telah memberikan beban lebih untuk para Dewan Syariah untuk merealisasikan label itu menjadi kaidah-kaidah operasional Bank.

Untuk lebih memahaminya dalam case KPR, yuk simak ulasan berikut:

No Parameter Bank Konvensional Bank Syariah
1 Fluktuasi bunga Ada fluktuasi harga. Kesepakatan harga belum fix. Total yang harus dibayar tidak jelas disampaikan diakad. Ini Gharar namanya. Contoh, beli rumah 200jt. Kita pinjam uang dibank senilai sekian. Di dalam akad awal, kita tidak tahu total yang harus dibayarkan selama 5th kedepan. Cicilan selama 2 tahun bisa 2.5jt tapi tahun berikutnya mengikuti bunga pasar yang nilainya tidak tentu. Tahun ketiga bisa 3jt. Tahun keempat bisa 4jt. Dan terus demikian tidak aka nada ceritanya turun. Disanalah ia memainkan peran menggembosi isi perut nasabah yang utang. Tidak ada fluktuasi harga. Kesepakatan harga disampaikan di awal. Kita beli rumah 200jt. Kita tidak kuat beli secara cash. Kita minta tolong bank untuk membelikan kita rumah senilai 200jt. Pihak bank mau membelikan tetapi dijual ke kita senilai 350jt. Kalau deal, boleh jalan dibagi menjadi berapa tahun kuatnya kita pembeli mencicil nilai tersebut. Misal 15th ya kita cici 350jt/15/12 sama dengan 2.1jt. Ini halal. Islami.
2 Denda Di bank konvensional, sudah lazim adanya denda. Logisnya memang masuk akal. Bagi nasabah yang nakal, dia kenakan denda. Angsuran seret, denda. Macet apalagi, bisa jadi sita dan hangus uang mereka. Dan pundi-pundi pemasukan dari denda ini masuk pada perut pegawai. Ini riba. Mengambil yang bukan haknya. Bank syariah memang masih ada denda. Alasannya mirip, untuk mendisiplinkan nasabah agar mengangsur sesuai jatuh tempo. Bedanya, mereka tidak memakan itu. Mereka memasukkannya pada pemasukan haram. Uang tersebut digunakan untuk dana social dan kebajikan yang lain. Kemuliaan bagi mereka. Menurut jumhur fatwa ulama’ diperbolehkan. Melihat kemudhorotan ketika tidak diambil uang tersebut. Bisa digunakan orang non islam untuk mengembangkan agama mereka.

 

Tetapi bukan berarti kita orang yang berhutang bebas menunggak angsuran dengan sengaja tanpa alasan yang kuat. Kemuliaan bagi kita yang mampu mengangsur sesuai janji di awal akad.

3 Disita jika tidak dapat dilunasi Akadnya saja sudah keliru. Hutang. Dan jika tidak dilunasi maka rumah akan disita dan uang yang telah disetorkan tidak dikembalikan sama sekali. Siapa yang rugi? Kita orang melarat yang berhutang di bank. Akadnya sudah OK. Jual beli. Tetapi masih perlu diperdalam lagi. Akad jual beli tersebut bisa berganti akad sewa atau tidak. Jika tidak maka OK halal. Maksudnya bergantinya akad ini adalah awalnya jual beli. Namanya juga sudah transaksi ya rumah adalah milik kita beserta sertifikat. Kalau pun kita tidak bisa melunasi, ada bagian uang yang akan kita terima. Tidak 100% uang yang sudah diterima bank beserta rumah hangus begitu saja. Kalau hangus adalah kedzoliman bank. Kalau  ada mekanisme pelelangan dan dibagi dua menurut presentase yang telah disepakati, itu adalah kemuliaan bagi kedua belah pihak.
4 Akad hutang dan tidak fix harganya Akad hutang dan nilainya bertambah. Baik penambahan yang telah disepakati atau yang fluktuasi. Semua haram. Akad jual beli. Nominal telah disepakati diawal. Halal.
5 Ada 2 pilihan harga Akad hutang kalau dicicil bertambah itu haram. Apalagi ada pilihan skema penambahan. Haram. Dan juga ada yang namanya denda apabila nunggak, maka total yang harus disetor naik. Tidak ada harga yang disepakati di awal hingga akhir cicilan selesai. Jika cash maka rumah akan dijual 200jt. Jika kredit 5th maka 250jt. Jika 10th maka 300jt. Dan jika 15th maka 350jt. Ini diperbolehkan jika nasabah dan bank telah bersepakat melalui mekanisme yang dipilih. Missal telah sepakat ambil 300jt selama 10th. Ini halal.

 

Contoh lain bila ambil skema cicilan 10th sebesar 300jt, ditengah jalan 5th pertama kesulitan ekonomi karena pindah kerja misalnya. Tidak apa minta keringanan cicilan yang mulanya 2.1jt perbulan menjadi 1jt perbulan dengan konsekuensi waktu yang tambah lama. Diperbolehkan jika nomilan akhir yang dibayarkan tetap 300jt meskipun dicicil selama 15th. Ini halal.

Jangan sekali kali mentoleransi riba. Mengatakan iya sudah gapapa. Tidak ada jalan lain. Bagaimana bisa beli rumah kalau tidak pinjam uang di bank. Sungguh azab Allah sangat pedih.

“Allah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, dua orang saksinya, dan penulisnya (sekretarisnya / pengadministrasinya).” (diriwayatkan semua penulis Sunan. At – Tirmidzi mensahihkan hadist ini).

“Satu dirham riba yang dimakan seseorang dengan sepengetahuannya itu lebih berat dosanya dari pada tiga puluh enam berbuat zina.”(diriwayatkan Ahmad dengan sanad shahih).

Riba mempunyai tiga puluh tujuh pintu. Pintu yang paling ringan ialah seseorang menikahi ibu kandungnya.”(diriwayatkan Al-Hakim dan ia menshahihkannya) [ Al-Jazairi, 2001].

Demikian yang dapat aku sampaikan. Semoga bisa jadi bahan pertimbangan teman-teman yang ingin nyicil rumah. Motivasi untuk tidak bermain pada riba dapat dilihat disini. Semoga petunjuk Allah selalu membersamai kita. Serta kita dijauhkan dari riba yang haram dan didekatkan dengan jual beli yang halal. Karena bumi Allah ini luas, yuk bertebaran di muka bumi untuk mengunduh rejeki dari-Nya.

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Al-Mulk Ayat 15)

Terima kasih. Selamat malam.

Tulisan lain tentang riba akan diposting dikemudian hari jika Allah mengijinkan. InsyaAllah.

Advertisements

One thought on “Perbandingan Bank Syariah dan Bank Konvensional dalam Kasus Hukum KPR Rumah (Riba yang haram atau Jual beli yang halal)

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s