Riba versus Kerjasama dalam Bingkai Prinsip Ekonomi Islam

Dalam kehidupan, kita tidak akan pernah lepas dari muamalah. Manusia sebagai makhluk social. Selalu berinteraksi dengan orang lain. Saling membutuhkan. Baik itu sandaran hanya untuk saling bercerita, bertemu, dan berkeluh kesah. Maupun interaksi jual beli untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Jual beli tidak dapat dipisahkan dari koloni manusia. Apalagi jaman yang sudah makin modern. Beli baksopun tinggal pencet di layar smartphone. Datanglah abang ojek yang mengantar pesanan kita.

Begitu mudah. Kalau dari segi peluang bisnis tentu semakin luas. Tinggal kita mau mengambilnya atau tidak. Bekerjasama dengan orang lain untuk mendirikan perseroan terbatas, atau persekutuan dagang. Tentu alternative itu menggiurkan.

Tetapi dalam apapun yang kita lakukan, jangan pernah meninggalkan nilai-nilai agama. Islam yang kaffah. Dapat diterapkan di semua aspek kehidupan. Islam juga mengatur demi terciptanya keseimbangan, menghilangkan ketimpangan dan kedzoliman.

Baik pertama-tama, dalam setiap kegiatan yang kita lakukan, yuk tanyakan kembali, sudahkah sesuai dengan kehendak Allah. Sudah sesuaikah dengan isi Al-Qur’an.

Ilustrasi jual beli islami oleh laman munawwarah II

Dalam islam ada dua jenis kerjasama yaitu ribawi dan islami. Kerjasama ribawi adalah kerjasama yang menguntungkan salah satu pihak dan merugikan yang lain. Sedangkan kerjasama islami adalah kerjasama yang saling menguntungkan dan adil.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut.

A dan B beritikad untuk kerjasama dagang. Mereka masing-masing menyetor uang 1jt. Jadi ada uang 2jt untuk memulai bisnis. Kesepakatan diambil bahwa jika mendapatkan untung maka presentase untung dibagi menjadi 50:50. Artinya jika mendapatkan untung 100rb maka A mendapatkan 50rb dan B mendapatkan 50rb. Begitu pula jika rugi. Maka akan dibagi menjadi 50:50 juga. Ini adalah kerja sama islami.

B investasi pada perusahaan A. B menyetor uang uang 100jt dari total uang yang masuk senilai 150jt. Karena nilai saham yang dipegang tinggi, B meminta persentasi 25% dari modal setiap bulan. Jadi B akan mendapatkan uang 25jt setiap bulan baik pada kondisi perusahaan sedang untung ataupun rugi. Ini adalah kerja sama ribawi.

Baik ilustrasi berikut akan mempermudah kita untuk memahami perbedaannya dengan gamblang.

Kesimpulan:

Kerjasama ribawi: persentase untung dari modal, pasti untung, tanpa resiko.

Kerjasama islami: persentase dari untung atau rugi, tidak pasti, ada kala untung dan ada kemungkinan rugi, ada resiko.

Baca juga: Tips menghindari riba dan terlepas dari riba.

Setelah memahami perbedaan kerjasama dagang dalam islam. Dalam operasionalnya tidak hanya melulu soal modal dan keuntungan atau rugi. Tetapi teknis pelaksanaanya juga harus diperhatikan. Jangan sampai bertentangan dengan tuntunan Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang berbunyi:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

 “Rasulullah Saw melarang jual beli al-hashah dan jual beli gharar”.

Oleh karena itu, kita perlu mengenali dahulu prinsip ekonomi islam, yaitu:

  1. Tidak ada kebohongan
  2. Tidak dzalim
  3. Tidak ada transaksi gharar
  4. Transparan
  5. Tidak ada manipulai
  6. Tidak memperberat timbangan
  7. Tidak ada sumpah palsu
  8. Tidak menyembunyikan cacat dalam barang dagangan.

Oiya transaksi gharar ada adalah transaksi yang tidak jelas:

  1. Produknya
  2. Waktunya
  3. Tempatnya
  4. Jenisnya
  5. Harganya

Dampak dari transaksi ini adalah merugikan orang lain. Merugikan menyebabkan penderitaan. Mendzolimi orang lain dalam agama islam tidak diperbolehkan.

QS. Ash-Shuraa[42]:39

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ ﴿٣٩﴾وَجَزَٰٓؤُا۟ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿٤٠﴾وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَا عَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ ﴿٤١﴾إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٤٢﴾وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ ﴿٤٣

Artinya: dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim. Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka. Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksa yang pedih. Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.[3]

Wallahu’alam. Mohon masukan bila ada yang kurang. Penulis adalah manusia biasa. Semoga Allah meridhoi jalan yang kita tempuh. Dan petunjuk selalu membersamai kita. Aamiin..

Advertisements

One thought on “Riba versus Kerjasama dalam Bingkai Prinsip Ekonomi Islam

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s