Kamu tidak sendiri

Ada milyaran orang hidup dimuka bumi. Bertahan dengan gaya masing-masing untuk memastikan esok tetap hidup. Mereka mempelajari dirinya sendiri. Melihat sekeliling. Dan beradaptasi dengan arus yang ada.

ilustrasi from SPTS

Ada yang memilih struggle dalam air jernih dan mempertahankan prinsip-prinsip. Ada juga yang membiarkan diri mereka meminum air got buangan limbah rumah tangga.

Kita diberi kebebasan untuk memilih. Tidak hanya tentang pilkada serentak. Tetapi juga semua keputusan yang menyangkut penghidupan kita, hari ini dan esok. Misalnya makan, minum, membeli rumah, financial, pekerjaan, gaya hidup, agama, dan bahkan pasangan hidup.

Dalam merealisasikan kebutuhan itu, manusia perlu berjuang dan berkorban. Berjual dan berbeli. Bekerja di pabrik-pabrik, home industri, toko klontong, swalayan, butik pakaian, pedagang, karyawan, pegawai negeri sipil, polisi, tentara.

Prinsip bekerja adalah penciptaan nilai jual / nilai positif terhadap produk yang ingin kita jual. Jika value added itu tidak ada, pulang saja. Itu bukan kerja, tetapi main-main saja. Menghabiskan uang.

Coba telaah, karyawan pabrik mengubah barang mentah menjadi barang jadi siap pakai. Ada yang bagian memotong, menjahit, dan mendesain pakaian. Kalau polisi menjual ketertiban dan keamanan warga. Pedagang mengambil keuntungan dari penjualan barang  jasa yang ia jajakan.

Sudah barang tentu, dalam bekerja kita memiliki loading dengan kapasitas tertentu. Pada dasarnya, semakin besar kapasitasnya, semakin besar pula nominal yang ia dapatkan.

Jika didasarkan pada fungsinya, pekerjaan dapat dibreakdown menjadi 2, kita bekerja di tempat kerja itu bisa sebagai manusia dan sebagai pegawai. Kita tetap manusia, bukan mesin yang ketika dipencet on langsung bisa kerja dengan zero defect. Jika sebagai pegawai, bagaimanapun harapan kita terhadap kebaikan diri, kita tetap berhadapan dengan kebijakan perusahaan yang kadang bertentangan itu.

Oleh karenanya, kita tidak bisa menjadikan anak buah serta merta melakukan pekerjaan layaknya mesin. Diperintah A maka A, dan B maka B. Tidak bisa demikian. Manusia tetap ada salahnya. Manusia kadang lupa. Manusia butuh asupan makanan. Intinya mah harus memanusiakan mereka.

Tidak juga bisa 100% punya keinginan sendiri. Tidak semuanya dapat difasilitasi oleh perusahaan. Organisasi adalah milik orang banyak. Tidak bisa tendensi hanya pada 1 orang. Tetapi harus bisa mewadahi banyak orang.

Terkadang kita merasa, kenapa pekerjaan ini berat. Mengeluh. Seolah hal bodoh saja yang ia kerjakan. Memutarbalikkan fakta. Memperhalus kejahatan dan kesesatan. Dan menunjukkan sisi positif berbohong dan menyembunyikan data asli. Menunjukkan yang terbaik bagi pelanggan, sedangkan biasanya bobrok.

Ingatlah kamu tidak sendiri. Ada jutaan orang diluar sana yang merasakan hal yang sama. Sungguh tidak enak kerja ikut orang. Mereka juga punya idealism tentang jam kerja, gaji, kenyamanan lingkungan kerja, beban pekerjaan itu sendiri, dan posisi-posisi khusus.

Tetapi kebanyakan mereka hebat dalam menyembunyikan mimik kegalauan hati mereka. Ukurannya adalah kemampuan untuk menyembunyikan ketidaknyamanan yang ia alami. Semakin tidak bisa, ia segera gugur dalam seleksi alam.

Kapan hari, dalam perjalanan ke rumah ibadah. Saat asyar sudah mulai remang-remang akan menghilang. Aku berjalan dengan rekan kerja. Posisinya akan naik ke Asisten Manager.

“Beh pulang malam terus, banyak rejeki”, ocehku padanya.

“Duh, duh belum ini, belum juga yang itu. Pekerjaan ini akeh seru (banyak sekali)”, keluhnya. Sambil menenteng ID cardnya.

“Lek pusing terus begini, ini keplekku tak taruh aja yaa..”, tambahnya.

Orang setangguh itu. Dia bilang begitu. Dengan iman dan islam yang begitu kuat melekat. Masih ada omongan seperti itu. Aku tidak menyangka. Aku pikir hanya aku saja yang tidak krasan disini. Ternyata sekalilingku mendukung. Nasib karyawan lain tidak jauh beda. Penuh derita dan perjuangan dengan tertatih-tatih.

Lagi, dikuatkan oleh rekan kerjaku tempo hari lalu. Bilang, “Eh fidh, denger-denger kamu mau resign ya? Kapan?”, cerocosnya menghujam.

“Iya pak. Per 1 Mei. Tapi masih ada negosiasi untuk adanya peluang mutasi ke perusahaan sebelah yang masih 1 bendera dengan kita”, jawabku dengan lirih.

“Oh begitu ya. Mumpung masih muda. Carilah tempat yang paling seattle. Belum menikah juga. Manfaatkan dengan baik”, lanjutnya.

“Tentu saja. Muda bersemangat pak”, aku menjawab.

“Iya, kalau saya ini sudah terlambat. Sudah berumur. Berkeluarga. Anak sudah satu. Mau pindah pun sudah sulit. Seberapa sulit tantangan kerja disini harus aku makan saja. Kalau gak gitu, gimana dengan keluarga. Tidak bisa serta merta aku tolak instruksi kerja ini”, ia menghela nafas.

Aku sela, “Lho ada perintah apa yang sulit itu pak?”

“Iya, aku dipindah ke plant sebelah. Plant yang terkenal dengan momok menakutkan tentang trend quality yang ada. Benar-benar hutan rimba. Sangat mengerikan. Tetapi mau bagaimana. Sudah keputusan begitu. Saya tidak seberani Hafidh atau Erik yang sudah mendahului”

Hm. Aku jadi berpikir ulang. Orang yang terlihat sangat enjoy dengan pekerjaannya pun bisa bilang begitu. Diluar dari cover yang ditampakkan. Terperangahlah aku olehnya.

Di dalam hati tiap-tiap manusia sepertinya ada ganjalan ini dan itu. Bahkan tadi. Barusan sore. Seorang penjualan yang jabatannya asisten manager pun bilang, “Apa fidh, ada yang mau disampaikan?”

“Nggak ada pak”, aku mengangguk dengan sedikit senyum hormat.

“Iya fidh, jangan banyak bicara. Iki pekerjaan wes overload. Kepala udah mau pecah”, keluh kesah ia bercerita.

Buset. Ini lagi. Aku tidak punya alasan lain untuk terpuruk dengan perasaan tidak enak pada hati yang aku alami saat ini. aku didukung oleh semesta. Semesta sedang merasakan keresahan yang sama. Tinggal kita mau terpuruk karenanya ataukah kita malah mengambil hikmah dari setiap apa yang menimpa.

Itu terserah.

Selamat malam.

Advertisements

3 thoughts on “Kamu tidak sendiri

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s