Pacitan, surga tersembunyi di ujung barat Jawa Timur (bag. 1)

Sebenarnya aku sudah lama penasaran dengan kota Pacitan sejak 3 tahun yang lalu. Tahun 2014 kebetulan aku berkunjung di rumah kerabat di daerah Slahung kabupaten Ponorogo, dan aku diberitahu oleh kerabatku tadi bahwa Pacitan adalah satu tempat recommended yang harus dikunjungi. “Disana banyak pantai lho mbak.. masih bersih” katanya. Dan Alhamdulillah Allah mengabulkan keinginanku. 14 April 2017 aku pergi menuju kota yang terkenal dengan kota seribu goa tersebut.

Seminggu sebelumnya aku sudah menyiapkan segala hal agar nasibku disana tidak terkatung-katung. Hal pertama yang aku lakukan adalah pesan hotel, mengingat tanggal 14-16 April adalah libur panjang dan hotel-hotel di sekitar tempat wisata pasti penuh. Setelah aku melakukan serangkaian pencarian di google, dimana penginapan murah dan lokasinya dekat wisata sekitar Pacitan, akhirnya ARAYA Homestay yang jadi pilihanku. Banyak ulasan positif tentang penginapan ini. Aku segera menelfon nomor kontak yang tertera di internet.

Akhirnya aku paham kenapa homestay ini sangat direkomedasikan oleh wisatawan yang pernah menginap disana. Selain harganya yang murah (100ribu/malam untuk weekdays dan 150rb/malam untuk weekend & hari libur nasional), penginapan ini juga sangat dekat dengan pantai, dekat dengan kota dan terminal, pelayanan yang sangat ramah, tersedia persewaan motor (50ribu/hari), dan juga demi menjaga nama baik, homestay ini tidak mau menyewakan kamarnya untuk muda-mudi yang belum memiliki ikatan yang sah sebagai suami-istri.

Masalah penginapan selesai, aku membuat itinerary. Bagiku, rencana perjalanan itu penting agar kita bisa on-schedule dan bisa lebih puas untuk mengunjungi satu tempat wisata ke tempat wisata yang lain. Berikut adalah itinerary ala saya untuk berlibur ke Kota seribu goa Pacitan:

WhatsApp Image 2017-04-13 at 13.12.54
Rencana perjalanan dan perkiraan biaya ala-ala saya wkwk

Setelah itinerary direncanakan dengan matang, perencanaan biaya yang matang, akhirnya Jumat pagi, 14 April 2017 aku berangkat dengan sahabatku, Apriliya.

Hari pertama, Jumat, 14 April 2017

Ketika kami sampai di bungurasih jam 8 pagi, kami langsung cepat-cepat masuk terminal untuk segera duduk di bis Aneka jaya (Surabaya-Pacitan) , tapi sayangnya bis aneka jaya sudah berangkat selang 5 menit kita sampai. Setelah aku mencari info di petugas terminal, ternyata bus aneka jaya mempunyai 3 jadwal pemberangkatan: pukul setengah 8 pagi, pukul 6 sore, dan pukul 11 malam. Info ini bisa berubah sewaktu-waktu. dan faktanya schedule tersebut meleset dari perkiraan kami. Mungkin bus sudah berangkat jam 8 karena penumpang yang sudah penuh (maklum musim liburan). Tak hilang akal, akhirnya kami naik bis Restu menuju Ponorogo dan oper lagi dengan bus kecil menuju Pacitan di terminal Seloaji Ponorogo. Perjalanan Surabaya-Pacitan memakan waktu 8 jam. Tapi lelahnya perjalanan terbayar dengan pemandangan asri ketika memasuki kecamatan Slahung sampai kecamatan Arjosari Pacitan. FYI, jarak antara Ponorogo-Pacitan memakan waktu 2 jam karena medan perbukitan berliku-liku dan tebing curam di sisi jalan raya.

DSC_0230
Pemandangan sepanjang jalan Slahung sampai Pacitan
DSC_0170
Sesaat setelah memasuki kabupaten Pacitan, tak sabar rasanya berpetualang menelusuri bukit-bukit ini

 

DSC_0223
Akhirnya sampai juga di Pacitan

kami sampai dengan selamat di terminal Pacitan pukul 5 sore. Aku merasa takjub pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Belum pernah aku melihat daerah yang dikelilingi pegunungan sepanjang mata memandang. Sawah dan perbukitan ada dimana-mana. Pemandangan hijau nan asri membentang setiap kali mata melihat. Pacitan memiliki Daya pikat tersendiri untuk para wisatawan yang ingin menjelajah kota cantik ini lebih dalam.

Setelah kami sampai di terminal, kami langsung naik ojek yang sudah berjejer-jejer stanby di terminal menuju Araya homestay. Letaknya tidak jauh, sekitar 15 menit dari terminal. Homestay araya sangat dekat dengan pantai Teleng Ria, yang merupakan salah satu wisata paling terkenal di Pacitan.

Menurutku, homestay ini terbilang lumayan. Suasana yang tidak terlalu ramai membuat kami betah menginap di penginapan ini. bagi kalian yang tidak menyukai suasana ramai dan party hura-hura ala bule, homestay ini recommended banget. Kamarnya pun juga lumayan. Dalam satu kamar standar ada fasilitas TV 20 inch, kipas angin, dan kamar mandi dalam.

DSC_0172
Araya Homestay. Suasana homey sangat terasa di homestay ini

Kami pun segera menaruh barang bawaan dan segera berjalan kaki menuju pantai Teleng Ria untuk melihat matahari terbenam. Biaya masuk ke teleng ria hanya 10 ribu Rupiah per orang. Meskipun terkenal dan saat musim-musim libur seperti ini, pantainya tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang yang masih asyik berfoto-foto di bibir pantai sambil menikmati tenggelamnya sang surya menuju peraduannya.

IMG_5098
Mengejar matahari terbenam di pantai Teleng Ria Pacitan
IMG_5132
Senja selalu membawa kesan tersendiri

Pukul 6 sore kami jalan-jalan di sekitar pantai dan makan malam di salah satu restoran di penginapan dekat Teleng Ria. Restorannya terbilang bagus tapi sepi pengunjung. Awalnya aku sempat ragu, tapi kami memutuskan untuk makan malam disini saja karena perut kami sudah kelaparan. Setelah perut terisi, kami segera kembali ke penginapan dan beristirahat untuk melanjutkan petualangan kami esok hari.

Bersambung, lanjut ke hari kedua

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s