Prespektif waktu bagi umat muslim

Hidup ini pendek dan relatif, lantas apa yang kamu harapkan?

Bismillah, semoga Allah senantiasa melingkupiku dalam menyampaikan kebaikan pada tulisan ini.

Setelah menyelesaikan tulisan tentang sangatlah berbeda kebaikan dan keburukan, kini hadir ditengah-tengah pembaca yang budiman, tulisan tentang perspektif waktu bagi umat islam. Semoga bermanfaat.

Pertama sekali. Aku ingin bicara bahwa benar, hidup ini pendek. Terbatas. Selintas. Dan hanya mampir minum di padang oase. Jarak dan waktu yang ditempuh tiada terbanding bila disejajarkan dengan alam berikutnya.

Al-Asr 1-3

Di jalan-jalan, tivi, media social, media massa sudah berapa banyak orang yang lalu lalang dalam hidup kita. Mereka semua berjalan, bergerak, dan berubah sedemikian pesat. Hingga seberapapun kepesatan dan kesuksesan yang ia raih, ujungnya pasti tanah. Tidak lebih dari selembar kain kafan berwarna putih. Hanya sebagai penutup aib akan kesalahan dan dosa yang kita kerjakan.

Terlahir telanjang, tak bawa apapun. Hidup menyombongkan diri dengan pencapaian-pencapaian dan kekayaan serta kedudukan. Mati tak bawa apapun. Naudzubillah.

Orang yang paling cerdas berdasarkan hadist

Menumpuk harta dan dunia. Padahal telah jelas didepan mata. Mati itu tak lebih dari satu kil (red: sejengkal dari mata kita).

Begitu dekat ia. Hingga orang yang menyadarinya selalu tergopoh-gopoh dalam mempersiapkannya. Selalu buru-buru. Selalu menyegerakan berbuat baik. Selalu dibuat takut akan modal yang dibawa keharibaan yang kuasa.

Tak ada jaminan disana kita terbebas dari apapun. Seperti yang orang atheis bilang. Kebohongan tentang alam semesta tak bertuhan. Kering melompong dari kehidupan. Hanya seonggok materiil tiada guna, lahir dan matinya tidak mengubah apapun.

Lantas, apa mau mereka hidup? Mengapa perlu melestarikan dunia, menjaga kedamaian, dan tolong menolong kepada sesama. Buat apa belajar, jadi professor atau doctor kalau toh nanti akan jadi kenangan. Batu Nissan yang hanya akan diingat tanpa ada ruh dari doa-doa yang melantun diantaranya.

Sekali lagi, tidak. Hidup ini berarti, berguna, berharga, dan ada hari pembalasan kelak. Hidup tidak se-sia-sia kata orang atheis. Demi Allah, alam kubur itu nyata, padang mahsyar itu panjang, dan akhirat tiada bertepi. Kalau boleh beranalogi, Tuhan telah memberi kode kepada utusan-Nya dan untuk pengingat kita semua bahwa, “Dunia ini layaknya setetes air dari samudra yang luas”.

Kata nabi sekaligus guru dan kiai kita

Ah kenapa orang masih banyak yang nongkrong di warkop sampai pagi? Menatapi layar smartphone-nya hingga matanya layu? Nonton yutub, film barat, sinetron, konser music, dan buih berita yang sedikit manfaatnya itu? Kenapa orang hanya santai-santai dijalan sambil menggenjreng gitarnya?

Mengapalah jua mereka menunda pernikahan? Padahal fitnah dijalan-jalan sudah sedemikian sulitnya untuk dihindari. Mereka menunda kebaikan, menunda waktu sholatnya, menunda udzur puasanya, menunda bersedekah (dengan dalih menunggu kaya), menunda amalan sunnah, menunda belajar islam dan Al-Qur’an Hadist, menunda bertaubat, dan menunda berkasih sayang dengan sesama?

Aku tidak benar-benar tau apa motivasi dan alasan mereka. Padahal bumi berputar sedemikian cepatnya. Perguliran ekonomi, teknologi, politik, social budaya sedemikian massif perubahannya. Kenapa mereka stuck nyaman dengan menikmati keringat orang lain. Tanpa benar-benar ingin mengetahui cara membuatnya.

Contoh: anak muda yang menikmati gadget tanpa bertanya bagaimana proses manufakturnya. Tanpa menginginkan kemandirian pabrikasinya.

Contoh: alat elektronik, tv, kulkas, dispenser, alat dapur, laptop, computer tablet, sepeda motor, mobil, dan peralatan penunjang hidup lainnya.

Kenapa kita hanya puas menjadi konsumen saja? Berkutat dalam pertanyaan bagaimana bisa tetap hidup dan bagaimana besok bisa makan. Hanya dua itu. Selebihnya tersier.

Sekali lagi. Jarak hidup dan mati itu dekat. Kamu coba golokkan cutter atau gunting ke lehermu. 5menit saja mati. Minum baigon. Gantung diri. Menusukkan pisau pada perut rekan kerja, teman, atau pacar.

Tidak mengenal usia. Muda tua, laki perempuan. Kalau sudah tiba waktunya tidak ada yang dapat menundanya walaupun sedetik saja.

Betapa konyolnya kita jika pada waktunya nanti ada rasa penyesalan tiada terkira. Sedang waktu tak dapat diputar balik. Allah pun sudah tidak kurang-kurang menerangkan dengan gamblang nasib orang kemudian. Di berbagai sudut Al-Qur’an, contoh Al-Mu’minun 99-100 tentang penyesalan penghuni neraka yang ingin dikembalikan ke bumi akibat dosa-dosa yang ia kerjakan dulu. Dan sekali-kali tidak akan terjadi. Itu hanya tangisan penyesalan. Dan toh kalaupun dengan hikmah Allah, mereka dikembalikan ke dunia, sudah tentu mereka akan kembali pada setan dan kesesatannya masing-masing. Naudzubillah.

Keterangan ini benar. Tidak ada keraguan didalamnya. Disinilah pentingnya aqidah, iman, islam, taqwa, dan keyakinan. Keyakinan akan keberadaan Allah dan mematahkan asumsi praduga tentang keberadaan sekutu bagi-Nya. Keyakinan adanya kebenaran Malaikat, Kitab, dan Rasul. Serta adanya hari akhir dan qada qadar.

Semoga Allah senantiasa melingkupi lindunganNya pada kita sekalian. Jannah.

Sebagai pengingat, next aku ingin menuliskan tentang syurga harga mati dan neraka yang ditakuti.

 

Advertisements

7 thoughts on “Prespektif waktu bagi umat muslim

  1. tulisannya berbobot sekali ya… banyak hadist yang dikutip untuk memperkuat argumen. sekarang udah beralih menulis hal-hal yang bertema agama ya.
    berbicara tentang kematian, sekarang lebih terasa membaca artikel tentang kematian ketika kita telah benar-benar sadar bahwa kematian itu dekat. terimakasih pengingatnya.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s