Surga harga mati dan neraka yang ditakuti

Melanjutkan tulisan kemarin tentang perspektif waktu dalam pandangan islam. Kali ini aku ingin mengulas sedikit unek-unek dan juga pengingat bagi kita bersama tentang urgensi masuk surga dan pentingnya mindset takut neraka.

Sudut pandang orang modern mungkin telah tertutup oleh materialism. Hari-harinya hanya tentang bagaimana uang, makan, dan menumpuk kekayaan. Dalam kebisingan dan kebosanan hidupnya sesekali mereka pergi ke panggung hiburan.

Ilustrasi dari kabarmakkah

Ada yang ke karaoke keluarga, menyewa tempat, lagu, sofa, teve layar lebar, plus selir perempuan penghiburnya. Ada yang melampiaskan pada rokok, narkoba, dan minuman keras. Ada yang memilih wisata ruhani bejat ditempat-tempat seks komersial dijajakan. Ada pula yang tipis-tipis ke warkop, menikmati wifi ditemani secangkir kopi, menonton audio visual di yutub sampai pagi.

Ada pula yang melalang buana, ke negeri-negeri tak terjamah. Petualangan di alam bebas dan liar. Menyesapi aroma perawan bumi pertiwi. Mereka jeprat jepret disana. Lalu pulang, sibuk mengumpulkan foto untuk satu persatu mereka upload di dunia maya.

Ada pula yang selintas saja jalan ke mall-mall dan pusat pertokoan. Sekedar lihat barang kesukaan dan telah diincar sejak lama. Meskipun kadang tak kesampaian beli. Harganya jutaan. Lalu lalang sambil berangan-angan memiliki ini itu yang dipajang di etalase jualan orang.

Ada yang mengikuti alur musik, baik riil atau yang mereka ada-adakan sendiri. Semisal mendatangi konser-konser music. Dengan volume yang kira-kira desibelnya dapat menjebol gendang telinga mereka bilang itulah kenikmatan. Kadang lidah dan mulutnya menirukan suara penyanyi idola. Sambil meresapi maknanya hingga keujung hati.

Sebenarnya pada mereka, aku ingin menanyakan sesuatu. Sudah melakukan apa saja untuk menghadapi kematian? Bawa modal apa menuju alam barzah, padang mahsyar, dan alam akhirat. Apakah anda percaya akan keberadaan surga dan neraka?

Aku tidak yakin, kita yang berani melanggar hukum Allah saat itu kita percaya datangnya balasan berupa neraka. Atau jangan-jangan kita meremehkan dengan bilang, “Ah itu kan nanti, ada waktunya taubat. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” Allah kan Rabbun Ghafuur?. Bahkan naudzubillah meremehkan kerasnya siksa neraka.

Seolah olah itu bahan bercandaan. Seolah-olah kuota lama waktu hidup ini tak terbatas. Seolah kita dapat ampunan Allah.

Aku sangat yakin, bila kita benar-benar mengimani bahwa hari akhir akan datang. Ada timbangan amal dan hisab. Serta amal baik akan dibalas surge. Dan amal buruk sebaliknya dengan neraka.

Neraka dengan batu api yang ketika digenggam maka otak akan melumer lebur. Neraka yang jika batunya dijatuhkan ke kaki maka kepala hancur. Neraka yang kayu bakarnya adalah orang kafir dan munafik. Neraka yang apinya mengepung-ngepung. Neraka yang gemuruh apinya menggelegar dan dalamnya tiada terkira. Jika seseorang dicemplungkan ke dalamnya maka bertahun-tahun akan jatuh sampai dasarnya.

Yang mana makanan sehari-harinya adalah nanah dan darah yang keluar dari tubuh penghuninya. Besi yang cair akan menjadi minuman keseharian. Yang apabila dituangkan ke mulut maka akan hancur seluruh tubuh dan badannya.

Ya Allah aku tidak sanggup menerima azabMu yang begitu pedih di neraka kelak. Ya Allah ampunilah hamba. Ya Allah, engkau yang aku khianati dan aku durhakai, sungguh hamba telah mendzalimi diri sendiri, tetapi kepada siapa lagi aku memohon, kalau tidak kepada Engkau jua?

Dengan visualisasi dan gambaran yang sedemikian gamblang itu, aku sangat yakin, tidak aka nada manusia yang berani berbuat jelek barang sedetikpun. Jika ia benar-benar mengimani.

Tidak aka nada yang tertawa terbahak bahak. Tidak akan bilang belum dapat hidayah ketika belum berhijab. Tidak ada kata menunda untuk belajar islam. Tidak akan bilang, bersahabat dengan pande besi lebih baik daripada bersahabat dengan tukang minyak wangi. Tidak akan mengelak untuk menunaikan sholat dan amalan sunnah lain. Tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak berguna bagi akhiratnya. Tidak akan bilang nanti, jika waktu sholat telah tiba dan adzan telah dikumandangkan. Tidak akan meremehkan sunnah. Dan tidak akan bilang, aku belum siap nikah, makanya aku pacaran dulu. Padahal jelaslah dalil yang menyatakan ditusuk paku neraka di kepala lebih baik daripada menyentuh lawan jenis bukan muhrim.

Tidak akan pernah ada wanita yang memperketat celananya, mengurangi potongan kain bajunya, mengumbar paha dan dada mereka untuk orang yang belum halal baginya. Tidak akan mendekapkan tangannya untuk bersandar pada laki-laki yang bukan hak mereka. Begitu pula tidak akan ada laki-laki yang mengumbar janji untuk menikmati tubuh perempuan yang bukan milik mereka, toh kalaupun mereka memiliki tetap saja tanpa tanggung jawab dan ikatan pasti berupa pernikahan.

Tidak ada perkataan kotor, tidak akan minum dengan menggunakan tangan kiri sambil berdiri. Tidak ada kata untuk berkhalwat. Tidak ada kata potensi peluang untuk zina, melihat barang yang haram. Memakan barang haram. Membohongi orang, memanipulasi data, dan menutupi kesalahan dalam berdagang. Tidak ada kelicikan dan kepicikan politik. Tidak akan ada spekulasi ekonomi. Tidak ada kata untuk menahan sedekah.

Jika benar-benar mengimani kenikmatan surga yang tiada terkira dan kerasnya siksa neraka.

Semoga Allah merahmati kita untuk lurus menuju jannah dan terhindar dari api neraka. Tak lupa pula mendoakan keluarga kita semua demi keselamatan dunia dan Akhirat. Aamiin.

Selamat malam.

Advertisements

3 thoughts on “Surga harga mati dan neraka yang ditakuti

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s