Membahas Cita-Cita yang Mengundang Kontroversi

Sedikit bicara tentang mimpiku untuk kebaikan diriku sendiri dan juga orang lain disekitarku. Aku memiliki banyak program yang ini dan yang itu lah. Aku selalu berusaha mewujudkannya dan merevisinya jika terdapat ketidaksesuaian daripadanya.

ilustrasi dari 24hoursworship.com

Apa motivasiku untuk menerapkan cita-cita yang mungkin bagi sebagian orang itu aneh dan konyol? Aku selalu berusaha memutakhirkan prilaku dan sikapku sesuai dengan Kehendak Allah dalam Al-Qur’an dan Perkataan Rasulullah. Revisi mungkin terjadi karena pemahamanku terhadap islam senantiasa bermetamorfosa setiap saat. Meningkat seiring bertambahnya waktu. Insya Allah.

Baiklah kenalan dulu dengan protokol utama yang terus menerus ingin aku capai, berikut detailnya:

  1. Tidak pakai smartphone, cukup nokia jadul
  2. Tidak nonton TV
  3. Tidak baca Koran, berita elektronik, media massa
  4. Tidak pakai media social dan game apapun
  5. Tidak belanja di swalayan kapitalisme
  6. Tidak punya baju lebih dari 7 stel saja
  7. Tidak bergantung pada motor, sepeda onthel saja
  8. Tidak terlalu kaya (sederhana, berkecukupan, berkah)
  9. Tidak dengar music, alihkan dengan murratal Al-Qur’an
  10. Menjadi time controller and all bender

Kadang ada mencerca dan tidak jarang yang menjauhi. Mereka bilang, “Kamu anti modernisme, keluar saja dari Jawa! Pindah sana ke pulau yang tak berpenghuni. Tanpa gemerlap dunia dan teknologi”

Aku jawab, “Aku bukan anti kemajuan jaman, bukan mengidamkan jaman kuno serba sulit itu. Tetapi jika yang kuno lebih menyejahterakan umat dan keadilan social dapat ditegakkan, kenapa harus modern?”

Jadi aku bakal setuju modern jika keadaan dan suasananya semakin adil, semakin sejahtera, tidak ada ketimpangan social, kesenjangan ekonomi, aneka kejahatan diorganisir untuk memenuhi keadilan versi sendiri dank arena sudah merasa didzolimi sedemikian pahit, monopoli modal, dan tipu muslihat politik. Yang menjadi poin kunci adalah masyarakat madani tentram dan aman. Mau kuno atau modern, boleh saja asalkan item tersebut terpenuhi.

Kadang pula ada rekan kerja yang melihat wallpaper handphone saya yang bertuliskan, “Hanya Aku dan Amalanku yang ada disini” bergambarkan liang lahat. Dinyinyirinlah saya, “Bagaimana anda bisa semangat hidup kalau yang diingat hanya mati”.

Dalih mereka adalah kalau ingat mati, maka ia akan putus asa. Ibadah terus dan berhenti bekerja karena sibuk bagaimana mempersiapkan akhirat. Akhirnya lupa dunia.

Oh no, aku bilang, “Target orang muslim jelas akhirat. Tetapi untuk mencapai akhirat, perlu dunia. Secukupnya. Untuk energi dalam beribadah kepada Allah dan mensyukuri nikmat Allah dengan cara menjaga kesehatan tubuh yang tiada lain adalah titipan Allah”

Dan bahkan ada yang bilang ini semua adalah idealisme yang sudah tidak bisa diterapkan di dunia saat ini. Tidak mungkin kita meniru 100% tindak-tanduk dan tata krama yang dimiliki Rasulullah. Karena Rasulullah adalah kekasih Allah. Sedang kita adalah apa? Jauh dari Allah. Mana bisa kita beli rumah tanpa cicilan KPR ribawi? Untuk hal ini jangan terlalu idealis, realistis ada baiknya.

Aku tinggalkan meja negosiasi soal ketaatan pada agama itu. Aku menolak beradu argumen dengan orang orang itu. Aku tinggalkan. Aku ajak mengingat kematian dan takut kepada Allah. Dan senantiasa tidak mentoleransi dosa dalam kadar apapun. Jiwa jihad pemuda muslim. Kita mungkin memang tidak sesempurna akhlak nabi, tetapi punya semangat ingin mencontoh nabi adalah wajib dimiliki. Kalau semangat saja tidak ada, mana bisa meniru nabi. Karena Allah bilang bahwa Dia tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah nasibnya sendiri. Usaha, doa, dan tawakkal. Jangan belum belum sudah putus asa dengan bilang, “Ah iya, itu kan nabi, tentu saja bisa semulia itu”.

Wallahu ‘alam.

Semoga Allah merahmati kita dalam setiap cita-cita yang kita idamkan. Semoga apa yang kita lakukan selalu sesuai dengan Kehendak Tuhan yang menciptakan kita. Aamiin.

Semoga menginspirasi.

Advertisements

17 thoughts on “Membahas Cita-Cita yang Mengundang Kontroversi

  1. Halo fidh, aku silent reader tapi skrng aku ingin berkomentar.

    Aku setuju dengan pendapatmu, hal hal canggih dari teknologi yang sekiranya kurang baik diminimalisir seminimal mungkin menjadi sederhana.

    Kadang pemikiran tersebut terkesan kolot, tapi kalau dipikir mendalam hingga ke akarnya ada benarnya juga.
    Menurutku, Banyak orang kontra karena tidak mampu mencapai pemikiranmu yang terlalu jauh ke dalam. Hanya melihat dari luar tanpa tahu akarnya.

    Tulisanmu ini adalah hasil observasi dari sudut pandangmu yang luas, dari hasil mengamati orang lain, berdasarkan pengalamanmu, lalu kau simpulkan, sehingga menghasilkan pendapat yang unik. Dan menurutku itu benar juga, walau kadang yaa, baju 7 stel itu kurang hahaha. Tapi, Cool man.

    1. MasyaAllah. Akhirnya silent reader berkomentar juga karena tulisan yang nyentil banyak orang ini. Hallo bro. 😀

      Well bro, semua2 punya plus dan minus. Kadang positif memang banyak didapat dengan jalan yang seperti ini. Tetapi efek buruk akan selalu ada karena disemua lini tetap ada setan yang menggoda. Tapi at least, usaha kita telah kita maksimalkan melalui jalan ini.

      Tapi emang bener sih, baju 7 stel itu kurang wkakak.. baru ngerasa pas waktu kerja begini. Seragam banyak macemnya: kantor, tidur, santai di rumah, mejeng di warkop, sholat, baju maba hitam putih, dan baju kondangan. Sederhana itu ga se-simple itu bro hahha.

    1. Terima kasih pengingatnya bro hahah. Ekstrimis gapapa asal ga radikal? Ektrimis dalam menerapkan islam, karena ibadah harus “dipaksakan”. Kita musti berprilaku “militer” pada diri sendiri soal itu. Tapi jangan radikal, kayak reaksi fusi bom atom yg tidak terkontrol. We must handle it at all.

  2. Seperti ada aura dilematis di tulisan ini fidh. Menyejahterakan umat dan keadilan sosial? Hm, dimana-mana pasti ada ketidaksejahteraan dan ketidakadilan menurutku 😛 cuma gimana diri sendiri dulu bisa merasa sejahtera di antara ketidaksejahteraan dan bersikap adil walau banyak nampak ketidakadilan. Susah? Iyaa. Hehe 😁

  3. […] Orang kita disibukkan untuk membeli barang tanpa bisa membedakan mana primer juga sekunder. Mana yang diperlukan mendesak atau hanya untuk lifestyle. Bahkan sebenarnya tidak dibutuhkan sama sekali. Kita kehilangan akal jernih mengenai fungsi dari benda. Kita beralih dari menyembah Tuhan menjadi budak-budak benda. Keseharian hanya tentang belanja, menuruti hawa nafsu, mengoleksinya di rumah tanpa bisa menggunakannya. (Tulisan tentang kesederhanaan telah banyak aku catat di tulisan yang telah lampau) […]

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s