Tidak belanja di swalayan kapitalisme

Kemarin, temanku bertanya tentang apa maksud dari toko kapitalisme itu? Berdasarkan KBBI, kapitalisme adalah paham yang berdalih bahwa semua-semua dinilai sebagai modal / asset yang bernilai uang. Siapa yang punya kapital maka ialah yang menguasai dunia dan manusia lain.

Ilustrasi swalayan modern oleh nusantara news

Konsep ini tentu sangat mengerikan. Jika manusia tidak lagi dimanusiakan. Hajat hidupnya disunat dan dikuliti. Ada yang lebih penting daripada memecat orang – menelantarkan keluarga – dan memberhentikan masa depan anak. Apa itu? Kesinambungan perusahaan dan terus meningkatnya profit.

Mungkin tidak berlebihan jika manusia tak lebih baik fungsinya daripada mesin. Oleh karena itulah perusahaan berlomba-lomba otomatisasi dan mekanisasi produksi mereka dengan mesin-mesin yang jauh lebih produktif, minimum reject, dan akurasi tinggi. Lama-kelamaan manusia akan tersisih, terpinggirkan oleh jaman yang serba berteknologi dan berkecanggihan tinggi ini.

Jadi secara komprehensif, toko kapitalisme adalah toko yang memiliki prinsip kapitalis didalamnya. Pertama, Toko yang mengutamakan profit daripada melayani pelanggan dengan senyuman. Coba kamu beli ke swalayan modern, muter-muter aja selama 10 menit setiap hari. Tidak beli. Hari pertama mungkin senyum ada, selamat datang, dan ucapan selamat belanja akan menghiasi. Tapi jika sudah seminggu tidak beli, mungkin pelayan mereka akan senyum kecut dan bahkan jika sebulan hanya keliling tanpa beli, kamu akan diusir karena dianggap membahayaakan. Berani coba?

Kedua, toko yang dimiliki oleh seseorang / sekelompok orang dan mereka itu paling kaya diantara pekerja-pekerjanya. Pemerataan kekayaan mungkin ada. Sedekah mungkin ia. Tetapi itu sangat tidak sebanding. Sangat timpang. Akhirnya kesenjangan social lah yang terjadi.

Ketiga, cirri-cirinya terdapat konglomerasi. Mudahnya mereka akan mencaplok perusahaan lain yang lebih kecil untuk kepemilikan tunggal dan kebesaran profit yang dikehendaki. Sampai kapanpun, pasar tradisional tidak akan mempu mengalahkan toko kapitalis karena konglomerasi telah menjadikan mereka kekar, kebal, dan tahan banting. Karena pendanaan, system, dan yang mereka lakukan terstruktur, bentuknya besaran, dan sistematis. Kebaikan yang terpecah-pecah akan kalah dengan kemudhorotan yang terstruktur.

Keempat, mereka tidak ada puasnya. Mereka senantiasa mengepakkan bisnis ke ranah yang lebih luas. Tak terbatas. Mungkin sampai dunia menjadi miliknya sendiri. Bukan berasaskan distribusi kekayaan, tetapi keterkumpulan dan keterpusatan modal pada satu kepemilikan. Dengan itu, kekuasaan dunia akan berada dalam genggaman.

Tidak ada basa-basi, obrolan ringan tentang kehidupan penjual dan pembeli, tidak ada interaksi tambahan selain bisnis, profit, dan uang. tidak ada aspek social disana. Tidak ada tawar menawar. Sangat dingin. uang kita gesek, mereka kasih barang.

Senyum kadang terpaksa. Tetapi aku membatasi pembahasan tentang ini. karena hati siapalah yang tau. Yang jelas, senyum, selamat datang, selamat belanja adalah Standard Operasional Prosedure yang wajib mereka lakukan. Tidak peduli kau sedang galau, gelisah, gundah, gulana, banyak pikiran, dan kesedihan yang nestapa. Tidak ada curhat dan saling menguatkan. Tidak ada doa yang terlantun.

Semua itu hanya ada di pasar tradisional. Dimana suasana riuh manusia sangat terasa. Kental dan begitu hangat. Becek sih iya, tetapi kedekatan hati tidak dapat dipungkiri. Keceriaan jiwa tidak dapat disembunyikan. Mereka adalah saudara. Bukan mesin selamat datang dan mesin assalamualaikum. Aku tidak menemukan suasana transaksi kemanusiaan selain ada di pasar tradisional.

Keistimewaan lain adalah pemerataan ekonomi dalam basis tradisional. Kekayaan akan merata pada setiap pemilik toko yang banyak jenisnya. Beli kain ada di toko kain. Beli sembako ada di toko kelontong. Beli sandal di toko serba ada. Beli bahan bangunan ada di toko bangunan. Beli sayur ada di wlijo (sebutan pedagang sayur di desa, jawa). Berapa orang yang dapat hidup dari uang yang kita punya? Dan berapa pula anak yang menjadi jelas masa depannya? Berapa orang yang bebas menikmati hidupnya? Bukan beli di satu tempat yang dimiliki oleh seorang saja. Dan pekerja yang menjadi karyawan terjajah?

Ini aku pernah tulis panjang lebar tentang penjajahan kaum buruh.

Aku perlu minta maaf kepada para pegawai, para karyawan, dan para tenaga kerja yang hak-haknya sedang ditelanjangi. Aku bukan ingin mengejek nasib kalian. Kita senasib sepenanggungan. Kita dalam kondisi yang sama. Kita sedang terjajah. Karena apa? Kapitalisme sebagai paham yang mereka anut akan berujung pada imperialism. Bukan lagi imperialism dengan angkatan bersenjata, tetapi virus yang menelisik hingga ke labirin tubuh ekonomi bangsa kita.

Merdeka!

Note: untuk lebih mendalami tentang kapitalisme, konglomerasi, kensumerisme, dan konsumtifme silakan meluncur dimari.

Progress ini: Alhamdulillah Allah telah mencabut kenikmatanku untuk bergantung pada swalayan kapitalis. Sudah semenjak akhir 2016 aku telah melupakan belanja di toko-toko berakhiran mart dan beberapa di mall-mall kaum kapitalis itu.

Ini adalah rangkaian tulisan dari beberapa cita-cita besar yang ingin aku capai dalam hidup. Yang lain dapat dilihat disini. Selamat menikmati.

Advertisements

4 thoughts on “Tidak belanja di swalayan kapitalisme

  1. Sebenarnya klo saya sendiri swbagai penjual di pasar tradisional lebih menuntut pemerintah berperan aktif. Soalnya pasar memang menjadi sepi karena kalah bersaing dengan swalayan2 besar. Klo bisa ya pemerintah turub tangan membangun pasar menjadi lebih bagus dan memberi pelatihan2 sehingga pedagang kecil bisa bersaing dengan toko-toko besar yang mulai menjamur dimana-mana.

    1. Yup dalam memikirkan solusi bisa pakai 2 pendekatan yaitu bottom up atau top down. Maksudnya kita tak sepatutnya hanya melulu menuntut pemerintah peran aktif dalam menelurkan kebijakan ekonomi pro rakyat. Dengan menjamurnya mental korup begini, kecil optimisme yg kita punya. Ada baiknya pendekatan bottop up kita pakai, yg artinya peran aktif masyarakat dalam mendukung produk dalam negeri, mengurangi tingkat konsumtif, dan menegakkan kedaulatan ekonomi bangsa. Kalau keduanya seimbang antara top down dan bottom up, syukurlah.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s