Tidak pakai media social dan game apapun

Selain kampanye tentang pengurangan intensitas penggunaan smartphone, televisi, dan berita. Aku juga benci terhadap aplikasinya. Tentu sudah sangat sulit memisahkan gadget dengan fiturnya. Layaknya mau laptop tanpa prosesor. Mustahil.

Aplikasi social media dan game menempati posisi paling atas menjadi aplikasi yang paling harus dijauhi. Pasalnya, aku sudah muak saja. Sudah tidak ingin melihat saja.

Ilustrasi media sosial dari kaskus

Aku mendapati nilai-nilai pamer / membanggakan diri / menyombongkan apapun yang dipunya. Beraktivitas A, memiliki benda A, memiliki momen A share-lah ke medsos. Untuk apa semua itu diketahui oleh banyak orang. Proses pengambilan momen itu juga menyulitkan usernya. Malah kita tidak dapat menikmatinnya karena sibuk mengabadikannya dalam dokumentasi yang ujung-ujungnya medsos. Tulisan tentang medsos sudah sangat banyak dan komperhensif bisa diganyang disini.

Mungkin terlalu generalis atau semacam garis keras. Tetapi tidak kok. Aku hanya tidak suka medsos. Tetapi untuk dokumentasi tetaplah perlu. Hanya secukupnya. Berapa banyak Al-Qur’an menyebutkan tentang haramnya berlebih-lebihan dalam urusan apapun. Sekalipun itu baik, karena baik itu kadarnya. Baik yang berlebihan adalah jelek.

Untuk game, sudah sangat banyak dampak buruk yang bisa disearching di mbah google.

Ilustrasi game dari maolaart.wordpress.com

Aku dulu adalah maniak game. Tetapi tidak semua game. Aku pilih saja yang mengena di hati. Seperti Ayodance milik Magasus dimainkan ketika SMA, Counter Strike 1.6 dimainkan ketika middle kuliah dan Boombeach dan Hayday milik Supercell (teman CoC) yang kujadikan teman skripsi paruh akhir 2015.

Aku termasuk selektif memilih calon istri game. Hanya mau main yang membawa keuntungan yang baik untuk diri. Seperti ayodance untuk cari cewek, game dimana cewek gamers mudah didapatkan (meskipun aku tetap jomblo juga). Counterstrike untuk pergaulan dengan teman satu kontrakan dan suka saja dengan genre action. Serta boombeach agar tidak mainstream dengan CoC (meskipun propose-nya sama untuk melatih ketangkasan otak dalam mengatur strategi.

Tapi lama-kelamaan, otakku menolak untuk ngegame lagi. Buat apa? Menghabiskan waktu untuk ilusi yang diciptakan orang. Prinsip: hidup tidak boleh dikendalikan orang. Tingkat level id yang sengaja semakin sulit dan menantang membikin kecanduan, lupa waktu, dan lupa aktivitas yang lebih bermanfaat lainnya. Hidup ini pendek, jangan menyesal diakhir kehidupan karena tidak belajar agama, tidak berbuat baik, tidak beramal sholeh, berpesan-pesan dalam kebaikan, dan sabar dalam berpuasa terhadap maksiat serta sabar dalam melakukan ibadah. Akhirnya berakhir tirani game dalam hidupku sejak lebih dari setahun yang lalu.

Progres untuk item ini: Facebook dan Twitter telah aku tinggalkan mulai Agustus 2015. Path, Snapchat, Instagram tidak pernah bikin. BBM, Wechat, Line, Kaskus, YM, Google plus, Flickr sempat bikin tetapi tidak pernah bertahan lebih dari 7 hari pemakaian. Kemudian lenyap kena pencet tombol uninstall. Hanya tinggal Whatsapp yang menemani mulai hape Nokia Lumia hingga Asus Zenfone Max sekarang. Memang tuntutan kerja. Jika tuntutan itu hilang, niscaya aku lembar bersama handphone sekalian.

Untuk game sudah ku tinggalkan sejak Januari 2016. Semenjak berhenti dari boombeach, gairah menginstall ulang aplikasi game sudah tidak ada lagi. Alhamdulillah.

Selamat malam.

Ini adalah rangkaian tulisan dari beberapa cita-cita besar yang ingin aku capai dalam hidup. Yang lain dapat dilihat disini. Selamat menikmati.

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s