Tidak pakai smartphone, cukup nokia jadul

Aku sangat benci smartphone. Bagi kebanyakan, ini adalah garis keras. Ini sangat bertolak belakang dengan realita. Ditengah orang menggembar-gemborkan soal kecanggihan gadget yang ia miliki, aku malah sengaja menjauh. Spesifikasi makin canggih (RAM, ROM, Processor, VGA, Connectivity, Networking, Power Saver, Camera, Interprise, and Fast Charging) dan keterkinian multitasking aplikasi yang berjibun banyaknya.

Ilustrasi dari routers

Kata orang banyak manfaatnya, seperti: alat komunikasi menjalin silaturahmi, mempererat persaudaraan dalam media social, hiburan audio visual, aplikasi islam, alat navigasi, teman perjalanan membooking akomodasi dan transportasi, mengkristalkan momen, dan menuliskan catatan.

Tetapi tidak dipungkiri efek negative juga ada. Kecanduan hape jadi lupa waktu istirahat, waktu kerja, waktu sholat, dan waktu untuk keluarga. Bermain hape untuk keperluan yang sia-sia semisal: main game, music-musik perusak gendang telinga, tren menghabiskan waktu menikmati fasilitas gadget yang jauh dari nilai agama, melihat pameran foto orang yang ujung-ujungnya bikin iri. Cek budaya selfie pemandangan alam jaman sekarang disini. Dan terjebak pada kemaksiatan jaman visualisasi pornografi dan pornoaksi telah menjadi makanan sehari-hari disana. Iklan yang masyhur di internet adalah pada sector bisnis seputar selangkangan saja. Naudzubillah.

Di era sekarang, doktrin “manusia tidak bisa hidup tanpa smartphone”, didengungkan sebagai ajaran suci. Norma-normanya telah melebihi nilai agama. Sehingga dalam alam bawah sadar orang jaman sekarang, meyakini dan beriman betul pada akidah gadgetiyyah ini. Setiap saat yang dibuka hape, cek notif. Bangun tidur – buka hape. Mau ke kamar mandi – bawa hape. Nunggu temen dating – buka hape. Ngopi bareng temen – buka hape. Habis sholat – buka hape. Padahal sama sekali tidak ada yang baru dari hapenya. Efek negative smartphone lebih lengkap bisa dibaca sini.

Dan juga tentang wirid gadged mengalahkan wirid pujian pada Allah.

Fenomena itu dinamakan pattern of kecanduan. Sekali lagi, gadget masih tetaplah pisau. Jika kecanduan setiap senggang buka hape untuk baca Al-Qur’an, menghafalkan, mencermati maknanya, dan disibukkan dengan ilmu agama ya Alhamdulillah. Tetapi jika kecanduan instagram, media social, berita-berita sensasional, game penguras kuota dan penghabis waktu, update gossip hangat, dan audio visual penyembah kebebasan dan sesatan iblis yaa Naudzubillah.

Dalam hidupku aku mengenal teori bahwa jika ada sesuatu yang menyajikan keburukan dan kebaikan, maka jika terasa keburukan yang terbanyak ada, aku akan tinggalkan sama sekali. Tak peduli godaan kebaikan yang ditawarkan. Harga mati.

Nokia jadul mungkin masih berguna bagiku. Dia adalah koneksiku satu-satunya dengan dunia luar. Tanpa itu mungkin aku terlalu keras pada diriku sendiri. Mengingat kemudhorotan sudah sangat minim dan didukung kebutuhan telekomunikasi yang mendesak di era sekarang. Aku memutuskan untuk tetap mengguanakannya. Toh misalkan pun aku tak pakai hape, aku akan tetap hidup. Camkan itu baik-baik.

Tetapi jalan tengah mungkin masih bisa diambil untuk anda kebanyakan orang. Yang hanya cukup untuk mengurangi intensitas penggunaan mungkin. Menerapkan pembagian waktu pemakaian. Dan pengurangan kecanduan saja. Tetapi smartphone masih dipakai karena memang perlu. Tiap orang beda, kita harus berbesar hati menghargainya.

Progres untuk item ini: masih memerlukan smartphone untuk mendapatkan aplikasi Whatsapp. Aplikasi tersebut adalah tuntutan pekerjaan. Dan jika sudah tidak ada tuntutan itu lagi, aku akan segera penuhi. Untuk saat ini belum, tetapi aku sudah mencadangkan hape nokia jadulku. Part time sudah aku jalankan. Dimana jam kerja 6.00-17.30 smartphone time, dan jam 18.00-20.30 hape jadul time.

Itu dulu, yang lain menyusul. Semoga istiqamah dalam kebaikan.

Ini adalah rangkaian tulisan dari beberapa cita-cita besar yang ingin aku capai dalam hidup. Yang lain dapat dilihat disini. Selamat menikmati.

Advertisements

4 thoughts on “Tidak pakai smartphone, cukup nokia jadul

  1. Benar fidh smartphone itu seperti pisau, dan tergantung siapa yg menggunakan pisau, bisa bermanfaat untuk memotong sayur atau malah bisa membunuh diri sendiri dan org lain. Sama, smartphone bakal sgt merugikan klo kita malah ketergantungan sm aplikasi di dlmnya, sehingga lalai mengingat allah (contoh konkritnya: setiap saat kecanduan ngeliatin instagram, upload foto yg bisa diliat bnyk org bagi akhwat, ngeluh gk penting di bbm, curhat dan doa di fb, atau kecanduan game hp, dger musik seharian dll yg maksiat) .. Dan smartphone bisa bermanfaat kalo kita ketergantungannya tetep sma Allah tapi smartphone ini buat jalan untuk taqarrub lebih dekat lagi ke Allah (misal buat memudahkan baca quran dimana aja, berbagi nasihat di sosmed, menyambung silaturahmi, ukhuwah, tadabbur alam lewat foto pemandangan, pengingat alarm buat sholat, gps, biar tahu jadwal kajian dan tabligh akbar mungkin, atau dger cramah di yutub, dger murottal dll). Nah, itu tergantung masing2 penggunanya, fidh. Hehe.
    Well kita wajib ingat akherat, tanpa melupakan dunia sebagai ladang amal kita. Kalo smartphone bisa jadi ladang amal, kenapa harus dijauhi? 😛

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s