Tidak punya pakaian lebih dari 7 stel

Baju adalah perwakilan dari perlengkapan hidup sehari-hari. Mencakup sandang dan papan.

Ketika sekolah dasar dulu, pelajaran tetang kebutuhan primer manusia adalah sandang pangan dan papan. Minimum requirement untuk hidup adalah ketiga itu. Tanpa itu, manusia kesulitan untuk melangsungkan hidupnya.

Dan kebutuhan itu akan liar menggerogoti seluk beluk tubuh manusia bila ia tidak dikontrol. Kenapa demikian? Kecenderungan untuk memenuhi hawa nafsu itulah yang tiada batasnya. Jika tidak dikontrol akal, maka sifatnya akan melampaui batas. Dan itu tidak singkron dengan doktrin agama dan kehendak tuhan.

Sehingga konsep kesederhanaan adalah dasar penentuan cita-cita ini. Toh juga hidup sementara. Barang yang kita punya sekarang adalah titipan. Semua-muanya akan balik pada Sang Pemilik Segalanya. Bahkan jasad yang menempel pada tubuh ini. Apalagi semacam: pakaian, sepatu, lemari, buku, elektronik TV, radio, laptop, handphone, tas, rumah, kepis angin, kasur, mobil, motor, sepeda, alat memasak, dan perabotan lainnya.

Kenapa banyak orang berpikir, lho kok enak mau dikasihkan orang? Jaga-jaga kita besok akan butuh. Jangan dibuang atau disalurkan untuk orang lain. Taruh lemari dulu. Besok-besok siapa tau dipakai lagi.

Teruslah begitu hingga rumah tak ubahnya sebagai gudang barang-barang. Yang sebenarnya yang dibutuhkan dan benar diperlukan hanya sebagian kecil saja. Punya rumah ukuran 25 x 25 meter, padahal yang dipakai tidur dan perlengkapan rumah hanya seukuran 5 x 7 meter saja. Baju 3 lemari buffet, apakah mau dipakai dalam sekali waktu? Sepatu berbagai macam banyaknya. TV, AC, Kipas, Lampu per kamar ada lengkap dengan elektronik lainnya. Hape sampai 2, dengan sim card totalnya ada 4.

Ilustrasi berjibunnya perabotan rumah oleh esumpelo.wordpress.com

Pajangan, foto, patung yang dijajar di rumah. Pernak-pernik kecil, alat sehari-hari. Jumlah kamar, kasur, dan mobil. Semua itu tidak seimbang dengan jumlah orang di rumah. Apa yang anda pikirkan soal itu?

Aku punyai cita-cita hidupku seukuran tas ransel ukuran 100liter atau koper berukuran 28 inchi saja. Itu hanya bisa dicapai dengan memiliki pakaian 7 stel, buku pedoman hidup, alat bersih diri, 1 set alat masak, alat pemutar murratal, 1 alat komunikasi, peralatan menulis, kabel-kabel penting, dan 1 set perlengkapan tidur (sleeping bag dan matras).

Hidup melalang buana. Bisa kesana kemari. Nomaden. Mengarungi samudra hikmah dunia. Dan yang terpenting adalah time freedom agar akal menguasai diri utuk terus mendekatkan diri kepada Allah. Karena aku yakin, fitrah manusia memang untuk kemurnian islam. Ditambah ilmu akan tercipta sari pati manis madu iman. Dan dengan ilmu, iman, islam, taqwa, ihsan akan tercapai.

Ilmu tentang simplifikasi ini akan aku tulis pada next tulisan yang berjudul bagaimana menata kamar kos. Tulisan masih draft, belum dibikin. Hiks.

Progressnya: menyedihkan. Kemarin aku pindah kos untuk kesekian kali. Pertama fase kuliah blok U ITS. Kedua, kontrakan keputih tambak. Ketiga, kontrakan bumi marina ITS. Keempat kos-kosan gang makam keputih islam. Kelima, rawa julang cibitung, bekasi. Keenam, pangsud gresik. Ketujuh, proklamasi gresik. Tercatat barang yang ku miliki adalah

  1. 1 tas koper 28 inchi (pakaian, alat tulis, alat kabel elektronik)
  2. Tas Squad 35 liter (pakaian tidak diperlukan dan alat tidur)
  3. Tas diario 20 liter (lembaran-lembaran ilmu)
  4. 1 kadus sharp home theatre (sound system)
  5. 2 kadus minyak goreng (buku-buku pedoman hidup)
  6. Plus instalasi sayuran hidroponik

Itu masih minus alat dapur yang belum kumiliki. Sudah sebanyak itu aku menyimpan barang. Sudah kupilah-pilah mana yang penting mana yang tidak. Nyatanya aku masih mendapati kesulitan sampai di level itu.

Tetapi aku lumayan puas dengan pencapaian ini. 1 kamar kos ukuran 3 x 3 meter ini masih terasa luas. Apalagi dengan perabotan rumah ukuran 5 x 13 meter persegi nanti. Akan terasa sangat luas dan bebas.

Semoga menginspirasi

Ini adalah rangkaian tulisan dari beberapa cita-cita besar yang ingin aku capai dalam hidup. Yang lain dapat dilihat disini. Selamat menikmati.

Advertisements

7 thoughts on “Tidak punya pakaian lebih dari 7 stel

  1. semoga ngeblognya tetap jalan terus ya? berbagai hal2 positif, untuk urusan pakaian aku juga setuju, buat apa menumpuk banyak baju yang seringnya tidak kepakai, aku sendiri selalu merefresh isi lemari, ketika ada baju baru, beberapa baju yang masih baru namun jarang kepakai aku singkirkan, entah itu diberikan ke orang lain atau malah dibuang (karena rusak)

    1. Aamiin. Terima kasih pak. Semoga dg terus merefresh isi lemari. Kita jadi lebih mansyukuri kepemilikan yg telah Allah titipkan dan bisa berbagi dg orang lain. Saya prihatin betul melihat seragam sekolah di Jawa yg ketika lulus hanya disimpan dlm lemari dan kadang di corat coret. Padahal di pelosok nusantara ada lhoo yg tidak punya seragam sekolah, ada yg sekolah ga pake sepatu, dll. Kenapa tidak didistribusikan ke orang yg lebih membutuhkan daripada rusak dlm lemari kemudian dibuang?

      1. seragam sekolahku saat lulus SMK, semuanya kepakai, ada yang diminta ponakan, anak rekan kerja, kebetulan sekolahku dulu tidak ada budaya coret mencoret saat kelulusan : )

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s