Mencari Pendekatan Sudut Pandang Menulis Terbaik

Sebagai penulis, baik penulis blog atau penulis buku, kita kadang menyadari beberapa perubahan tulisan setelah perjalanan karir menulis bertahun-tahun. Ini adalah wajar. Tulisan layaknya makhluk hidup yang tumbuh dan berkembang seiring meningkatnya kapasitas otak, pengetahuan, dan wawasan yang diterima.

Ilustrasi dari https://www.tes.com

Yang paling sering bertransformasi adalah teknik menulis, apa yang orang sebut nilai eksternal tulisan. Ia mudah ditebak bak casing alat elektronik. Ia dapat berupa sudut pandang, gaya bahasa, dan tingkat formalitas yang dipilih.

Yang mungkin perubahannya bersifat local adalah ide dan cerita, apa yang orang sebut nilai internal tulisan. Ia sulit ditelaah. Letaknya tersirat. Pembaca harus meniti satu persatu paragraph untuk tahu apa yang ingin disampaikan penulis dalam artikel tersebut.

Sebagai penulis blog amatiran, kita tentu sering melihat ulang ke belakang. Mengenang tulisan terdahulu. Dan tertawa sendiri, sembari bilang, “Aah. Aku pernah nulis artikel yang senista, selugu, dan sekonyol ini ya dahulu”. Aku sering begitu.

Bicara tentang sudut pandang, gaya bahasa, dan tingkat formalitas. Blog ini senantiasa bergeser dan bergerak. Semula nadanya hanya informatif dan persuasif. Kini mulai beranjak pada pendekatan aku kemudian hikmahnya. Aku mulai terbiasa dengan itu. Lebih santai dan renyah. Tidak se-kaku dulu. Karena aku sadar ini adalah blog, bukan bahan skripsi.

Tetapi balik lagi sama hukum alam. Plus dan minus. Tidak selamanya gaya bahasa yang dipilih cocok untuk semua pembaca dan kadang crash dengan kemauan agama semisal riya, sum’ah, ujub, takkabur, iri, dengki dll.

Terkadang memang beberapa hal lebih baik ditempuh dalam jalan sunyi. Tanpa menyebut aku. Dan mungkin masih bisa ditulis sebagai tulisan yang bernada ajakan.

Ini adalah tentang journey (perjalanan pencarian panjang). Perjalanan ini belum berakhir. Pencarian akan terus berlanjut. Sejarah akan terus terukir. Kita harus terus berbenah dan bersemangat untuk tetap belajar. Karena kita masih bodoh, perlu banyak belajar.

Dan karena kain kafan juga sudah mulai dirajut sejak kita hidup dan akan menjadi teman ketika mati. So, jangan sia-siakan waktu untuk hal yang tidak berguna.

Selamat pagi.

Have a nice Sunday morning.

Advertisements

2 thoughts on “Mencari Pendekatan Sudut Pandang Menulis Terbaik

  1. Aah. Aku pernah nulis artikel yang senista, selugu, dan sekonyol ini ya dahulu

    Setujuuu saya juga begiu. Kadang mau hapus, tapi kemudian mikir: ‘gapapa lah, biar orang bisa melihat seberapa pesat saya berkembang’.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s