Kaum Urban “Kaya” vs Kaum “Miskin” Pedesaan: Pendekatan Krisis Moneter dan Ketergantungan pada Uang

Semakin elit seseorang. Jabatan diatas, pekerjaan di kantor-kantor kapital. Semakin ke kota. Perputaran uang semakin banyak. Berlimpah ruah, bergelimang harta. Berbondong-bondong orang mengadu nasib ke perkotaan. Merantau membanting tulang. Megiyakan urbanisasi atas nama penghidupan yang lebih baik.

Tetapi mungkin ada yang miss (hilang) dari pikiran kaum urban tersebut. Mereka lupa kalau apa-apa di kota itu dibeli pakai uang. Begitu kata Pakde Imam. Dibeli pakai keringat yang mengucur kala bekerja.

Kenapa sayur malah mahal? Kenapa buah mahal? Kenapa nasi harganya 3 kali lipat daripada di desa? Jawabnya simple, karena kota tidak dapat memproduksi kebutuhan pangan-nya sendiri.

Di kota tidak ada ladang padi, singkong, sayur, dan buah. Yang ada hanya ladang perkantoran, pabrik manufaktur, pusat perbelanjaan, dan pemerintahan. Untuk memenuhi kebutuhan dapur mall dan perumahan, mereka impor bahan pangan dari desa. Impor dengan harga transportasi untuk distribusi dari desa ke kota yang tidak bisa dibilang murah.

Biaya hidup juga mahal. Intinya tekpong (tidak dapat untung banyak). Gaji 6juta. Habis untuk kebutuhan pangan dan sandang habis pakai sekitar 3juta. Sisanya bisa kirim uang ke desa. Jauh dari keluarga. Pulang kampung setiap minggu sekali dengan budget 1juta per bulan. Apalah hidup yang demikian?

Belum kalau boyongan bawa keluarga ke kota. Gaji 6juta itu nge-press (pas-pasan banget) kalau sekelas Jakarta / Surabaya. Maunya sih double income. Baru dapat rumah.

Tidak fair jika aku tidak bilang bahwa di kota juga ada sisi positifnya. Jika pengguna mau sedikit puasa. Ia bisa mencaplok kekayaan desa menjadi miliknnya. Tentu saja menggunakan prinsip kapitalis. Dan juga barang-barang yang diproduksi massal seperti: alat elektronik, alat bangunan, alat tulis dan ATK, keperluan kantor, dekorasi rumah, dan barang seni lain mungkin harganya murah.

Jelas akan merajai pasar karena hukum ekonomi bilang, “Semakin banyak barang diproduksi dengan meminimalkan resource alat produksi (mesin, material, dan orang), maka harga akan murah”. China tuh buktinya. Barang yang diimpor dari negara tersebut lebih murah dari produksi dalam negeri.

Ilustrasi dari detik finance

Orang jeli akan memanfaatkan selisih harga grosiran di kota dengan pasar eceran di desa. Mereka berjaya untuk itu.

Lain cerita di Desa. Ayah bilang, “Orang desa hidup dengan penghasilan 15ribu per hari saja bisa hidup mewah”. Mereka miskin, kata orang modern. Mereka tidak banyak memegang uang. Tetapi mereka mandiri. Memproduksi kebutuhan pangan, sandang, dan papan dengan tenaga manual dan dikerjakan oleh orang sendiri.

Mereka bisa panen padi 4 karung untuk menghidupi 10 orang dalam jangka waktu 3 bulan (sekali panen). Panen berikutnya sudah menunggu. Tidak akan mati, kecuali Allah berkehendak lain.

Lima belas ribu di desa, itu mewah. Bisa beli tempe 2ribu untuk seharian. Dan sayur 2ribu untuk seharian juga. Lombok dan jeruk mungkin bisa metik sendiri di depan rumah. Sederhana.

Tetapi banyak orang tidak sadar. Meyakini persepsi keliru tentang ketergantungan pada uang. Makin banyak uang makin sukses dan dianggap kaya. Padahal semua akan terbalik jika fakta inflasi dan chaos politik atau resesi ekonomi akan terjadi.

Tahun 1998 contohnya. Apakah ada petani yang gantung diri akibat krisis moneter tersebut? Apakah rakyat desa panik? Oh tidak. Mereka berdiri diatas kedaulatan pangan, politik, dan ekonomi mereka sendiri. Mereka kuat. Sedangkan orang kota rentan.

Perusahaan kota banyak bangkrut. Terlilit hutang. Aset disita. Pelakunya gantung diri atau paling tidak stroke. Tekanan batin karena selama ini, kenikmatan yang mereka dapatkan adalah sebuah jeratan.

So, bersiaplah sebelum terlambat. Paling tidak, mempersiapkan diri agar bisa mati belakangan ketika ada krisis (Ketahanan Pangan). Dan dapat produksi massal sendiri kebutuhan pokok masyarakat secara gotong royong untuk pemenuhan secara mandiri (Kedaulatan Pangan).

Jika krisis terjadi. Ajak semua orang untuk bergabung bertahan dengan swasembada pangan sendiri. Menghibahkan semua hasil panen untuk sedekah. Mengurangi kacau balau akibat kelaparan hebat. Sedekah di kala lapang dan sempit.

Tabel 1.1 Perbedaan orang ketika ada krisis ekonomi

Orang yang bangkrut Orang yang untung Alasan
Orang yang punya banyak uang di tangan Orang yang tidak punya banyak uang ditangan Uang banyak disimpan di rumah. Tidak akan berguna banyak ketika krisis. Inflasi menyebabkan dahulu beli tempe 10rupiah, menjadi 1000rupiah. Mungkin kita mengira 1000rupiah bisa mencicil rumah, tetapi setelah krisis malah hanya bisa beli tempe.
Orang yang kesemua kebutuhannya tergantung pada orang lain. Orang yang mandiri terhadap kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) Betapa mengerikan orang yang sehari-hari menumpuk harta berupa barang elektronik yang katanya canggih dan banyak membatu. Kalau krisis terjadi: biaya listrik naik, bbm naik, televisi tutup tayang, pulsa dan kuota internet naik. Sudah tidak mampu beli. Modarlah sudah.
Orang yang berhutang di bank dengan akad samar-samar (bunga fluktuatif) Orang yang berhutang di bank dengan bunga flat. Bank syariah akan koleps. Bank konvensional tetap hidup. Orang yang berhutang di bank konvensional mati. Orang yang berhutang di bank syariah berjaya.

 

Mohon maaf atas keterbatasan ilmu saya. Jika ingin berdiskusi dan memberi masukan monggo di kolom komentar. Semoga Allah memberi petunjuk dalam setiap kata dan tulisan kita. Aamiin.

Selamat malam.

Advertisements

6 thoughts on “Kaum Urban “Kaya” vs Kaum “Miskin” Pedesaan: Pendekatan Krisis Moneter dan Ketergantungan pada Uang

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s