Untuk Berhasil, Percaya Diri Aja Nggak Cukup. Perlu Allah!

Di banyak kesempatan, orang berpikir bahwa dengan percaya diri, dia bisa sukses. Mereka mengenyam pendidikan dengan doktrin demikian. Entah teori darimana itu. Yang jelas, pikiran kita otomatis mengiyakan konsep itu.

Tentu tidak salah. Percaya diri adalah salah satu dari sekian banyak faktor. Akan ada banyak yang miss atau hilang ketika kita minder dalam mengeksplor bakat dan minat.

Contoh, kesempatan untuk presentasi di depan umum. Akan hilang percobaan itu kalau kita tidak berani maju di depan kelas. Kesempatan untuk belajar dari kondisi yang ada. Rasa dag dig dug der tidak akan pernah kita rasakan tanpa mencobanya, bukan? Bagaimana bisa mengendalikan rasa gerogi kalau kita tidak pernah merasakan gerogi?

Ada banyak contoh. Hilang peluang bisnis karena takut menawarkan harga dan produk. Pelanggan tidak akan pernah tahu kelebihan produk yang kita tawarkan tanpa kita inisiasi untuk mempromosikan pada mereka.

Hilang. Hilangnya jodoh karena takut berkenalan dengan orang asing. Takut ditolak. Takut orang tua tidak setuju. Takut kemarahan mereka jika kita minta nikah muda. Kita sangat mungkin kehilangan kesempatan itu. Dan terus akan mengalir tanpa arah.

Itulah pentingnya percaya diri. Meyakini bahwa diri ini mampu menjalaninya. Serobot saja (lakukan saja), apapun yang kita bisa.

Batas ukuran kemampuan kita akan kita identifikasi jika kita melakukan sesuatu di luar aturan main sekarang. Beyond the limit. Itulah terminologinya.

Aku sering kali demikian. Dalam menilai pekerjaan. Aku melihatnya bukan sebagai hambatan, tantangan, atau tembok. Tetapi jalan yang harus dilalui. Terobos saja. Persiapkan dengan maksimal. Hasil tidak akan membohongi.

Meskipun jeleknya saya, “sering kali menunda pekerjaan”. Hikmahnya adalah tolong kenali apa kelebihan dan kekuranganmu agar kamu tahu apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus dipertahankan.

Tetapi jumawa dengan diri juga tak baik. Sudah percaya pada diri. Kenal pada diri dengan sangat baik. Kelebihan dan kekurangan telah di-recognize. Potensi, minat, bakat, dan passion sudah menjadi diatas kertas. Tinggal meroketkan kesuksesan.

Foto dari Hannien Tour

Sekali lagi tidak baik. Apa itu? Hanya sombong dengan mengenal diri saja. Aku lho begini begitu. Memangnya itu daya yang kamu dapat dari mana? Semua hanya pinjaman. Tidak akan ada yang kekal kita miliki. Jasad bahkan ruh dalam sukma ini, semua adalah titipan Ilahi.

Apalah yang bisa kita banggakan? Pencapaian dunia itu tidak ada artinya. Mati kemudian mempertanggung jawabkan. Masuk surga atau neraka. Dan kekal diantara pilihan keduanya. Kampung akhirat lebih dikejar oleh orang-orang mukmin.

Allah. Menyadari bahwa tiada tuhan selain Allah. Dan tiada daya melainkan dari-Nya. Kesemuanya adalah konsep batasan. Batas antara percaya diri dan sombong. Batas antara ujub dan keyakinan akan diri yang di-mampu-kan oleh Allah.

Kesimpulannya. Percaya diri saja tidak cukup. Perlu batasan berupa kesadaran bahwa daya yang menyebabkan kita mampu melakukan dengan baik adalah dari Allah semata. Tanpa kesadaran dan pemahaman itu, ujub dan takkabur adalah jurang yang pedih.

Semoga kita dihindarkan terhadap sombong dan berbangga-bangga pada diri. Semoga kerendahan hati tetap tertancap sebagai orang jawa dan sebagai hamba Allah.

Mengasah mata hati untuk segala kerendahan jiwa.

Andhap Ashor.

Selamat malam.

Advertisements

4 thoughts on “Untuk Berhasil, Percaya Diri Aja Nggak Cukup. Perlu Allah!

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s