Kita bisa atau kita di-bisa-kan oleh Allah?

Edisi lanjutan dari tulisan “Percaya diri saja nggak cukup, perlu juga Allah”. Di tulisan tentang percaya diri kemarin, tidak sengaja aku mengucap kata “di-mampu-kan” oleh Allah. Aku dalami maknanya dalam permenungan panjang. Yosshh. Ketidaksengajaan itu Allah berikan untuk membangun karya yang lebih mencerahkan. InsyaAllah dibahas di tulisan ini.

Di sekolah-sekolah, tempat kerja, kuliah, aktivitas ekstrakulikuler, sukarela, atau komunitas berbagai bidang, selalu kita sering dengar kata-kata “Kita pasti bisa”. Mungkin dengan tambahan redaksi, “kalau kita berkolaborasi bekerja sama, berusaha sungguh-sungguh, dan masif”.

Semua itu wajar untuk menggelorakan api semangat. Greget dalam jiwa manusia yang mungkin telah gersang karena banyaknya masalah yang dihadapi. Semakin genting, reflek motivasinya selalu semakin menggebu-gebu juga. Ibarat orang mau collapse, bangkrut, atau mau ujian sekolah, bawaannya selalu panik dan mengafirmasi diri sendiri. Sugesti positif bahwa saya mampu melewatinya.

Secara alamiah, respon manusia memang demikian.

ilustrasi dari peter lim MBA. I can do it with the permission of Allah

Tetapi ada yang kemudian menggelitik di pikiran. Sempat mengganggu akal sehat. Tentang konsep “tiada daya dan kekuatan selain datang dari Allah”. Lantas kalau semua daya dari Allah, kita bisa apa sebenarnya?

Jangankan mau mencetuskan perubahan besar pada perusahaan, lingkungan sosial masyarakat, dan bangsa. Mengatur diri sendiri saja tidak becus. Mau berjalan. Butuh makanan. Harus diolah dulu dengan mengecap oleh mulut – gerakan peristaltik oleh kerongkongan – reaksi kimia dan penghancuran secara fisis oleh otot lambung – penyerapan saripati makanan oleh usus halus – penyerapan air oleh usus besar – dan penggumpalan tinja oleh mukus dan dilepas menjadi kotoran.

Saripati itu kemudian masih harus didistribusikan oleh darah ke seluruh tubuh. Bersama oksigen dilakukan reaksi pembentukan golongan asam-asam tertentu dalam sel-sel tubuh. Reaksi kompleks di mitokondria dan alam sekitarnya. Kelebihannya menjadi lemak dan laktat yang disimpan dalam daging.

Semua itu, apakah kita sendiri yang mengaturnya? Betapa sombongnya kita kalau bilang “saya bisa”. Bisa apa?

Juara di kelas. Menjadi manager di perusahaan bonafit kelas multinasional. Direktur BUMN. Politikus. Bussinessman dengan penghasilan diatas rata-rata. Sekali lagi aku tanya, apakah kamu jalan atas kehendakmu sendiri. Kamu memerintah kaki untuk berjalan, tangan untuk menulis dan mengetik atau menandatangani kontrak, mata untuk berkedip, telinga untuk mendengar.

Dan ketika kita tertidur, apakah kita memerintahkan semua sistem indra tubuh kita untuk non-aktif sementara. Kemudian sangat aktif masif ketika digunakan pada siang hari untuk mencari penghidupan.

Betapa ruwet hidup manusia jika otak disuruh mikir kapan menghirup oksigen, kapan makanan diolah, kapan menghidup dan matikan sistem saraf, kapan kaki kiri menopang kaki kanan sehingga keseimbangan tubuh terjaga. Bahkan kalau disuruh mikir kapan harus berkedip niscaya banyak orang yang tidak mau hidup.

Dengan kompleksitas keajaiban ini, masihkah manusia dengan sombongnya bilang, “kita adalah spesial di alam semesta. Dimulai dari big bang kemudia hancur menjadi batu dan debu. Lalu menggumpal menjadi planet-planet. Dan dalam udara ia akan tertarik ke permukaan. Lalu ada mekanisme reaksi kilat dengan energi besar menghasilkan asam nukleat. Dan dari sekian banyak penciptaan, hanya manusia yang mampu berakal dan mengakali”. Begitukah?

Atau ada daya supranatural yang mengatur semua ini? Dengan akal sehat, sifat dasar manusia (fitrah), dan alam bawah sadar manusia, kita cenderung pada pengakuan Allah sebagai Sang Pencipta dan Pegatur Kehidupan ini. Ditilik dari sangat terbatasnya diri. Tidak mungkin sistem sedemikian teratur adalah merupakan benda mati tak bertuhan.

Lagi-lagi kembali pada apakah benar semua pencapaian ini adalah berkat semangat “Kita pasti bisa” yang didengungkan oleh kaum liberalis ketika hendak memaksakan kehendak. Mereka pikir segala sesuatu akan selalu inline dengan usaha. Nyatanya tidak. Ada sekian ribu faktor yang tidak masuk di akal ketika kita memperhatikan. Teorema nasib dan ketentuan tuhan dalam Qada’ dan Qadar lah yang akan menjawab.

Jadi, kalau semua gerak kita tidak terlepas dari Allah, alangkah lebih baiknya kalau kita bilang semoga Allah me-mampu-kan saya dalam ketaatan beribadah dan bersabar dalam menahan untuk tidak terjerumus dalam kemaksiatan. Alangkah baiknya jika do’a kita adalah semoga Allah memberi kekuatan saya dalam segala cobaan yang datang, karena cobaan adalah tes untuk kenaikan level iman dan taqwa yang derajatnya adalah berdasarkan ukuran penilaian Allah. Bukan minta dihilangkan cobaan hidup.

Ini yang menjadikan ia semakin menarik untuk diulas. Bahwa kita hanya perlu bergerak memulai apa yang telah kita pikirkan. Jika secara akal dan teksbook terbukti memiliki impact dan goal yang epik, langsung eksekusi. Take Action. Allah akan melancarkan segala upaya hambanya yang mau berusaha dan diimpali oleh doa. Jangan mengambil porsi Allah menentukan hasilnya. Cukup berprasangka baik kepada Allah. Tidak perlu sedih jika usaha menemui kegagalan, penolakan atas keinginan, ketidaktercapaian target. Tidak juga terlalu berbangga diri, terlampau ceria, dan sombong terhadap kegemilangan yang kita dapatkan, toh itu juga dari Allah semua.

Tetapi perlu digaris bawahi dan diingat bahwa sekali lagi takdir baik tidak akan menghampiri orang yang berbuat buruk. Lakukan dulu yang terbaik dan semaksimal mungkin. Barulah berdoa agar di-mampu-kan oleh Allah untuk menyelsaikannya secara tuntas dengan hasil yang berkelas.

Terinspirasi dari gelinya perbedaan antara blogger dan penulis blogger oleh penjelasan Bang Ical tempo hari di Lombok. Semoga beliau dijaga oleh Allah untuk senantiasa berbagi ilmu dalam bingkai keriangan dan kebahagiaan hakiki.

Semoga Allah merahmati saya dan anda pembaca yang budiman.

Advertisements

One thought on “Kita bisa atau kita di-bisa-kan oleh Allah?

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s