Karunia Allah tatkala kita bangun tidur

Entah sudah berapa kali kita bolak-balik bangun dari kematian sesaat (tidur). Dari semenjak kita dilahirkan di muka bumi. Menghirup udara dengan gratis. Tanpa menimang dan menimbang kadar oksigen dan nitrogen yang baik untuk tubuh. Semua tersedia. Dan alam semesta mendukung hidup kita.

Disebut dengan kematian, memang begitu adanya. Di kala tidur, semua alat indra kita nonaktif. Mati tetapi sifatnya sementara. Ada tenggang waktu. Yang kesemuanya, teratur. Tidak acak. Secara intuitif, manusia akan bangun dengan sendirinya setelah ia tidur selama 9 jam. Tanpa alarm, tanpa gangguan dari luar baik dari tetangga maupun lingkungan sekitar. Tidak ada orang yang kadang tidur 78 jam atau 103 jam, kecuali berkebutuhan khusus dan Allah ijinkan itu. Misalkan kisah ash-habul kahfi, itu kasus lain.

Yang ingin aku tekankan ialah tetang tidur itu sendiri. Saraf, otot, mata, hidung, mulut sejenak istrirahat. Otak tidak banyak puyeng dengan problematika sehari-hari. Benar memang kalau penelitian meneguhkan bahwa tidur dapat menyebabkan relaks dan segar di pagi hari. Siap dan fit.

Tetapi ada juga beberapa organ yang bekerja dalam kondisi slow movement, seperti: jantung, paru-paru, ginjal, lambung, dan saluran pencernaan lainnya. Mereka tidak diburu waktu. Kecepatan prosesingnya melambat mengikuti aliran mimpi dalam otak. Seperti ilusi dalam alam bawah sadar.

Begitu kita bangun, organ akan merespon hingga kuantum terkecil dalam hidup yaitu sel. Dan alat indra akan aktif kembali. Jika diperlukan kerja keras, maka jantung akan berdegub kencang, dan paru-paru memompa lebih sering, serta lambung akan meronta ingin diisi.

Siapa yang membangunkan kita dalam tidur?

Berjalan alamiah atau Tuhan disana.

Naluri manusia pasti mengiyakan adanya Tuhan Yang Esa. Yang jadi pembeda mungkin pemahaman terhadap interpretasi tuhan itu sendiri. Ada yang menuhankan manusia. Ada yang menggambar ilustrasi tuhan. Dan ada yang menuhankan benda dan alam.

Terlepas dari keyakinan masing-masing orang. Alangkah baiknya kalau kita belajar bersyukur atas karunia Allah tatkala kita dibangunkan dari kematian. Kita masih diberi kesempatan untuk menengok indahnya dunia. Yang lebih substansial adalah kita diberi kesempatan untuk beriman, bertaqwa, menambah alam ibadah, dan bertobat atas segala kesalahan.

Ilustrasi dari tipstren.com

Terima kasih, Allah telah memberikan kesempatan hidup lebih lama agar kami diberikan keriangan dalam beribadah kepadamu.

Sering kali kita lupa pada anugrah Allah yang amat luar biasa ini. terkadang menyepelekan. Alah hanya bangun tidur saja. Bangun, lalu buru-buru ke kamar mandi – ganti baju – berangkat kerja menumpuk harta dunia. Tanpa basa basi Alhamdulillah pada Sang Khaliq.

Bangun kerja lalu tidur lagi. Begitu saja. Sangat monoton tanpa hiasan Islam di dalamnya. Padahal kita tidak bisa memastikan esok jantung masih berdetak. Tidak ada jaminan besok mata bisa terbuka. Dan kalaupun ia aktif, apakah kita yang menyalakannya? Menyuruh mata membuka. Menyuruh otak bekerja lagi. Menakar oksigen yang akan kita hirup. Dan memerintahkan pada pencernaan untuk mengolah makan sarapan pagi menjadi energi untuk bekerja. Apakah kita sendiri? Atau Allah.

Allah, mohon maafkan kami sering kali lalai tidak mensyukuri sangat banyaknya nikmat yang Engkau berikan. Menyempatkan diri untuk dzikir pagi dan sore saja kadang luput. Apalagi mengingat-Mu ketika sedang beraktivitas.

Mengingat betapa manisnya mempelajari Al-Qur’an, hadist, dan ilmu agama. Membacai sejarah pahlawan medan perang yang gigih berani menumpas kemusyikan dan kekafiran. Dan senantiasa terjaga dalam aktivitas apapun untuk berdzikir mengingat Allah. Itu semua adalah cita-cita.

Maka dari itu, yuk perbanyak bersyukur. Dan merealisasikan syukur itu menjadi ketaatan menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Kualitas akidah dan iman masih rendah dibandingkan Nabi, sahabat, tabi’it tabi’in, ulama salafushalih. Perdalam ilmu agama agar kita mampu mencapai islam, iman, dan ujungnya ihsan. Beri kami kekuatan untuk dapat mengingatmu di kalau riang maupun sedih.

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita.

Advertisements

4 thoughts on “Karunia Allah tatkala kita bangun tidur

  1. Aku tuh kalau mau tidur suka parnoan. Kira-kira bakalan bangun atau ikut jejak orang-orang yg mendahului kita? Kalau kata mamakku, sebelum tidur perbanyak istigfar. Minta ampunan. Jadi kalau emang sudah saatnya pergi, pergi denga khusnul khatimah 🙂

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s