Bangunlah Jiwa Raga untuk Indonesia Raya

Entah aku harus jengkel kepada siapa. Mana mungkin aku mati hanya karena embargo negara asing? Mana bisa negeri sekaya ini akan tumbang akibat boikot neraca ekspor impor. Itu akan terjadi ketika negara lain sudah enggan mengirim barang mereka kepada negara kita. Sedangkan orang asing tidak mau menerima barang yang kita jual.

Jamrud katulistiwa Indonesia (ilustrasi dari blog reservasi)

Tetapi menjadi sangat mungkin akan terjadi bila kondisi negara seperti sekarang ini. Dimana ketergantungan pada negara lain sangat tinggi. Apa-apa dibeli dari impor. Yang produk dalam negeri itu identik dengan kejelekan dan ke-ndeso-an, tak layak dibeli.

Orang kita disibukkan untuk membeli barang tanpa bisa membedakan mana primer juga sekunder. Mana yang diperlukan mendesak atau hanya untuk lifestyle. Bahkan sebenarnya tidak dibutuhkan sama sekali. Kita kehilangan akal jernih mengenai fungsi dari benda. Kita beralih dari menyembah Tuhan menjadi budak-budak benda. Keseharian hanya tentang belanja, menuruti hawa nafsu, mengoleksinya di rumah tanpa bisa menggunakannya. (Tulisan tentang kesederhanaan telah banyak aku catat di tulisan yang telah lampau)

Alam bawah sadar kita telah mematrikan doktrin bahwa ketinggalan seseorang tanpa gadget. Tidak keren seseorang bila makannya di emperan jalan dengan nasi dan lauk telor dadar sayur bayam. Yang lagi nge-trend adalah steak, ayam krispi, roti, pizza, burger, yang kesemuanya produk negara asing.

Itu semua tentang yang terlihat. Yang dibelakang layar sungguh sangat miris lagi. Dulu kita dijajah oleh Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang sebagai pusat pemasok rempah-rempah dunia. Sekarang kita malah impor. Dimana rempah-rempah berupa cabe dan bawang kita impor dari negara Thailand. Beras kita dari Vietnam. Kelapa sawit terbesar milik Malaysia. Gula dan garam tidak lagi produksi sendiri. Petani garam di Madura sudah gulung tikar. Garmen dan tekstil kita terseok seok akibat arus dari MEA. Sapi Sumbawa dan Flores tak mampu mencukupi kebutuhan daging nasional sehingga kebijakan pemerintah mengambil langkah berupa impor dari Selandia Baru, Australia, Norwegia, dan India. Service penerbangan terhebat milik Singapore Airlines. Perdagangan paling pesat ada di singapore. Kita berbondong-bondong ke Singapore dan wisata luar negeri, padahal di negeri sendiri tidak kurang-kurang keindahannya. Disanalah orang kita hanya jadi penonton. Kita kalah telak. (Pelengkap tentang penjajahan dalam dunia pangan ada disini)

Ilustrasi dari segpaku.wordpress.com

Tadi soal pangan, yang lain banyak lagi. Kita belum bicara soal politik, sosial, budaya, pertahanan, dan administratif kenegaraan lainnya. Politik kita tak lagi pancasila tetapi demokrasi berkiblat pada liberalisme. Sikap sosial telah didominasi oleh attitude orang asing yang kental oleh budaya bebas tanpa boleh ada yang ikut campur. Lihat muda mudi kita yang hidup dalam pergaulan bebas tak lebih layaknya seekor binatang. Budaya kita bergerser, darah Jawa dan adat kedaerahan hanya cukup di dokumentasikan. Dijepret momennya untuk diabadikan. Tidak ada pergerakan untuk melestarikannya. Anak kita telah terbiasa bermain dunia maya daripada main egrang, kelereng, dan gerobak sodor atau bentengan. Apalagi pertahanan, alat tempur mana yang dibikin oleh BUMN sendiri. Supply pindad mungkin bagus, tetapi dibarengi pula tutupnya banyak tempat lain. PAL dalam membuat kapal laut dan kapal tempur, apakabar? Untuk pesawat terbang, hanya bisa buka bengkel. Impor pun pesawat tempur bekas yang sudar reot. (Lihat bagaimana MEA adalah salah satu pintu untuk membuka gerbang globalisasi / meleburnya masyarakat dunia menjadi 1 uniti dan batas negara sudah tidak diindahkan lagi)

Ilustrasi dari flickriver

Karakter orang kita, jika diberi tahu sedang dijajah, mereka bilang “masa bodoh, bukan urusan gua“.

Demo dimana-mana. Menuntut kenaikan gaji. Sedangkan kerja begitu-begitu saja. Kita sudah biasa menjadi pengemis kekuasaan, harta, dan dunia. Tak disibukkan dengan memberi. Kita tak bisa produksi, hanya sebagai pengguna dan korban perubahan jaman yang sedemikian pesat. Kita gagal sadar, kita terlambat bangun. Bisanya hanyamenyalahkan orang dan masa lalu, bukan aspek “apa yang salah”. Tetapi kalau orang A pasti salah dan harus tidak boleh pilih A. Tidak melihat apa yang baik dan membuang yang buruk, seperti Kaizen milik orang Jepang.

Terus kalau begini nunggu kematian yang diambang mata mana lagi. Sungguh sangat dekat.

Smartphone kita dari China, Taiwan, Amerika, Eropa. Laptop dan notebook kita juga tak jauh beda. Mesin produksi kita dari Jepang dan Jerman. Jam tangan kita dari Swiss. Sepeda kita dari Inggris. Kendaraan motor dan mobil dari Jepang, Korea, China, dan Inggris. Alat elektronik mana yang tidak dimanufaktur di China?

Ah sudahlah. Kita terlalu capek membicarakan kondisi yang penuh dengan masalah ini. Seharusnya, sesuai dengan omongan orang dulu,”masalah berpotensi bisa jadi peluang tergantung dari cara pandang kita“. Menerima dan mendevelop atau putus asa dan menyerah. Itu pilihan, kita sendiri yang tentukan. Bagaimana mengolah masalah menjadi sebuah peluang yang memunculkan power yang dapat merahmati seluruh alam.

Atau mungkin, kita perlu yang namanya chaos theory. Diperlukan bangkrut secara massal, krisis secara global, dan jatuh sejatuh jatuhnya dulu untuk bisa bersatu dan menyadari permasalahan ini bersama? Yang kata orang dulu itu, “Senasip seperjuangan

Tentu akan menjadi mimpi buruk. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, aku mengajak pada rekan-rekan semua untuk sadar sedari ini. Tinggalkan zona nyaman yang diberikan alam pada kita. Indonesia memang sangat damai dan nyaman. Dia melenakan. Kayu dilempar saja menjadi tanaman yang dapat dimakan (singkong). Kita mancing tak perlu sulit karena ikan lah yang menghampiri kita. Tapi kita jangan sampai terjerat olehnya. Kita harus garap tanah-tanah kita sebelum penjajah mengusir kita dari tanah air yang kita cintai ini. Kita harus eksplor laut kita. Sumber-sumber energi terbarukan. Indonesia terkenal oleh sentral titik gunung api dunia (geotermal). Pusat minyak bawah laut disini tempatnya. Gelombang laut tidak habis-habisnya. Angin juga sangat lebat dan tetap bersahabat. Kita tidak seperti Amerika yang ada badai Katrina / Torpedo, atau Jepang yang harus kena Tsunami setiap tahun dan tanah yang gersang seperti di Timur Tengah. Surga itu ya di Indonesia, mampu kah kita mengelolanya untuk dunia?

Ubah mindset tentang keren itu. Jangan ikut ikutan trend. Ciptakan definisi keren sendiri! Misalnya: menjadi petani itu keren karena dapat memberi makan banyak orang. Menjadi guru itu terhormat karena menyalurkan ilmu bermanfaat bagi orang lain. Menjadi Tentara, Polisi, DPR, Presiden yang mengemban amanah dengan sungguh sungguh. Anti-sogok. Jangan berpikir kerja diperusahaan asing, gaji besar, dan terlena oleh keadaan. Itu hanya tipudaya.

Ayo kita berubah dalam hal pola pikir dan perbuatan. Memulai semuanya dengan kemandirian agar tidak menjadi negara yang tergantung oleh orang asing. Kita diboikot, kita tetap bisa hidup. Dunia sedang lesu, kita sedang produktif. Alam mendukung, Tinggal pengelolaan Sumber Daya Manusia yang memang sangat minim.

Ini mungkin tidak akan menjadi langkah yang mudah. Jangkauannya luas. Jangka panjang. Perubahannya menyeluruh. Karena melibatkan perubahan cara berpikir, attitude, dan bagaimana menjadi manusia yang berkualitas dengan moral yang luhur.

Ilustrasi dari Kompasiana

Tentu kita masih ingat bagaimana orang kita bekerja dan beraktivitas. Budaya antri menghargai orang lain sudah lenyap. Budaya peduli lingkungan dengan hanya membuang sampah pada tempatnya sudah sirna. Korupsi orang berdasi. Ini adalah salah pendidikan kita. Terlalu banyak diam dan melulu pada textbook normatif tanpa memperdulikan akhlak yang baik. Kedisiplinan dan akhlak sudah tidak diajarkan di sekolah-sekolah. Pancasila hanya sebagai lambang tekstual saja. Tidak direpresentasikan pada perbuatan dan tidak meresap dalam urat nadi perjuangan di negeri ini. Cita-cita luhur itu hanya masa lalu. Jika kita terus begini saja.

Keterasingan di negeri sendiri. Jangan sampai itu terjadi.

Aku begitu geram menuliskan ini. Aku harus segera bergerak. Tidak mungkin aku biarkan rakyatku akan mati hanya karena asing tidak lagi korporasi dengan kita.

Ayo buktikan bahwa kita mampu hidup produktif bukan hanya konsumtif. Tidak melulu berpikir meminta, tetapi disibukkan dengan memberi. Menjadi orang yang ketika ada kita maka orang lain menerima bukan malah menghindar. Tidak hanya jadi manusia standard tetapi manusia yang bikin standard untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Jangan seperti Nokia dan Kodak yg menjadikannya hilang ditelan perubahan dan gagal mempersiapkannya.

Merdeka (ilustrasi dari bukalapak)

Bekerja produktif, efektif, dan efisien. Bekerja keras, cerdas, dan ikhlas. Prespektif kerja untuk belajar dan dibayar, ibadah menikmati manisnya iman, dan permainan yang menyenangkan.

Langkah strategis harusnya sudah bisa jadi output untuk memandang masa depan.

Semoga Allah memberi kita umur panjang yang berkah dan bisa lebih banyak waktu untuk beramal shalih dan berbagi dengan sesama. Aamiin..

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s