Cinta Sampai di Surga

Malam begitu bergidik dingin. Angin berhembus mengipaskan tenda biru itu. Warung sederhana pojok pasar tradisional kampungku.

Ketangkasan dua pasangan romantis

Disana ada dua orang yang menikmati masa tuanya. Berjuang untuk makan esok pagi. 

Saling berkoordinasi mengkombinasikan kinerja yang apik. Talenta yang diasah sedari muda. Tak ada kikuk. Dingin tanpa kata tetapi begitu ringkas dan tangkas memuaskan pelayanan bagi pelanggan.

“Pesan apa dek?” Sahutnya mendahului langkahku menuju lesehan panggung warung itu.

“Nasi goreng satu, makan sini”

“Tunggu sebentar, ibuk masih pulang”, jawabnya hangat menyambut

“Teh hangatnya satu pak”

Saya amat menikmati ini semua. Sederhana, sesederhana kehidupan mereka. Meskipun belakang dapur rumah tangga siapa yang tahu. Di luar, tampak begitu romantis.

Dingin persapaannya. Sedingin malam yang cerah dimana bintang gemintang menghiasinya. 

“Nasi goreng satu, makan sini” ucap si bapak tatkala ibuk sudah datang.

Si bapak langsung bergegas mempersiapkan piring dan kelengkapannya. Sedangkan ibuk, sibuk dengan urusan dapurnya.

Kemudian selesai. Hidangan telah tersaji. Si ibuk menyiapkan pesanan yang lain. Dan si bapak tertidur lelap dalam duduk yang manis.

Aku terkesima lihat geliat hidup mereka yang sederhana. Tidak neko neko. Mengais rejeki dari setiap perut manusia yang kosong di kampung kami.

Kesinilah kalian jika malam perutmu keroncongan.

Selamat malam

Tempeh (23:14), 1 juli 2017

Advertisements

9 thoughts on “Cinta Sampai di Surga

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s