Perubahan itu tidak enak: kemacetan di Klakah Lumajang (17.00-20.00)

Sebagai pembuka, agar singkron dengan judulnya, saya ingin cerita tentang filosofi perubahan. Seorang guru berkata bahwa perubahan itu menyakitkan, tetapi ia bisa menyenangkan tergantung kita menyikapinya.

Tentu kita ingat bahwa teori yang tak terbantahkan bahwa permunculan inovasi sebagai inisiasi perubahan akan menimbulkan pro dan kontra. Apalagi di tengah masyarakat yang majemuk ini. Setiap otak punya pikiran dan sikap sendiri sendiri. Kecuali kita robot yang punya setting otak sepenuhnya sama.

Dan ketika diterapkan. Sayatan dalam menjalankan hal baru itu benar benar sulit dicerna. Semua kita enteng terbiasa dengan pola lama harus dipaksa menelan pola baru. Kita harus beradaptasi ulang. Memeras otak untuk membiasakan diri.

Contoh kebijakan kenaikan BBM, kenaikan tarif listrik, dan gas. Semua harga dikendalikan pemerintah. Mencakup neraca impor ekspor dan subsidi banyak harga pokok kehidupan masyarakat. Awal ketika penggodokan kebijakan. Wakil rakyat bentrok. Ada yang benar benar membela suara rakyat. Ada pula yang sok cari muka. Ada yang berbalik kejam tidak memperhatikan aspirasi dari banyak elemen masyarakat. Rakyatpun tak kalah riuh pecah. Warkop, tukang becak, maling, pemain judi, begal, guru, pns, wirausaha, karyawan pabrik semua bicara soal itu. Ini menyangkut kepulan asap didapur. Harga mahal sana dengan puasa.

Aku sedang tidak ingin berlebih lebihan dalam soal itu. Aku sedang dalam perjalanan Lumajang-Gresik. Naik bus berlabel “Bismillah” di kaca lebar depan supir. Sedang menikmati kemacetan di rel Klakah dan sepanjang jalan menuju ranuyoso. Semoga selamat sampai tujuan.

Ini adalah tulisan tulisan dari wordpress smartphone. Ini juga tentang perubahan. Aku tidak suka nulis lama di handphone. Mata mudah lelah. Tetapi menjadi perfeksionis harus nulis karya di laptop dengan gagasan brilian menggunakan pikiran tenang lagi seksama, adalah tidak produktif. Sangat sulit spare waktu khusus untuk menulis di laptop. Waktu di dunia kerja sangat mahal. Rutinitasku bangun – kerja – makan – leyeh leyeh main hape – terus tidur. Meskipun sekarang sudah terhibur dengan mainan baru hidroponik. Tetap saja, hidupku monoton dan sangat tidak produktif. Oleh karena itu, disela waktu luang, aku terus membiasakan diri untuk menulis di hape.

Begitu juga dulu. Aku berprinsip, perubahan memang sulut di mulai. Tetapi kalau tidak dimulai kita tidak akan tahu kesulitannya apa dan tidak akan pernah berubah. Lakukan dulu, biasakan dan lihat hasilnya. Dulu aku pernah mencoba membiasakan memakai kancing dari bawah. Pola lama dari atas. Tidak sampai 3 bulan aku sudah bisa berubah totaldengan kebiasaan baru yang lebih mengagumkan.

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari pengamatan kepada sekitar. Di kala orang sedang sibuk sibuknya mengeluh, mesin bus sedang dimatikan, dan udara menjadi pengap. “Macet apa sih ini?”, tidak ada apa apa kok macet. Tengok kanan kiri. Dengan gerah mereka menabur kegeraman. Sumpek panas dan pecah.

Aku dengan sangat tenang makan nasi bungkus persiapan dari orang tua. Aku tulis ini sebagai karya emas dari kehiruk pikukan kemacetan yang melelahkan. Macet memang tidak enak, tapi tenang dan sumpek adalah pilihan.

Aku perhatikan samping kiri pasar. Ini adalah pasar klakah. Dulu, aku yakin semua sangat tradisional. Sekarang disulap sangat modern. 

Ada swalayan modern seperti alfamart dan indomart. Prinsipnya memegang pola marketing dengan memakai teknologi dan manajemen termutakhir.


Papan advertisement, promo harga, pencahayaan, display yang memikat, tata letak barang yang dijual, kualitas barang dan layanan, serta fasilitas genset. Semua didesign dengan sangat apik dengan kontinuitas konsistensi super tinggi. Tentu dengan mempertinbangkan segala timbangan investasi dan omset hasil penjualan.

Pemiliknya, baik pribadi atau persekutuan dagang milik saham sama sama sangat paham ini. Ilmu, teknologi, dan ketepatan action sangat diperhatikan. Ini, aku yakin, didesain dengan riset yang panjang dengan memperhatikan pasar yang ada, analisa lingkungan internal eksternal. SWOT sudah jadi barang wajib. Analisa kompetitor, kondisi ekonomi, tingkat pendidikan masyarakat, politik, dan budaya.

Jalan pintas mungkin ada. Jiplak saja dari asing. Kita poles sedikit dengan penyesuaian budaya. Jadilah indomaret yang jualan nasi padang. Jadilah indomaret point yang jualan aneka kopi panas, ice juice yang memikat hati, dan makanan siap saji yang masih hangat. Free wifi sudah semarak. Ada pula alfamidi yang oendekatannya adalah supermarket yang menyajikan makanan ringan, barang pecah belah, alat kebersihan, dan otomotif serta nilai tambah berupa jualan sayur segar dan buah segar. 

Ini sungguh mengerikan jika masyarakat kita tidak cepat menyadarinya. Mungkin ini sudah terlambat. Tetapi tidak ada salahnya beradaptasi dan mengambil aksi. Agar dampak tidak terus mewabah.

Sesuai judul, ini adalah perubahan derastis. Ini menyakitkan bagi para pelaku toko klontong. Ekonomi kerakyatan mati total. Digantikan dengan ekonomi yang bermuara pada kekayaan satu orang. Katanya ini adalah prinsip kapitalisme.

Rakyat mungkin tidak langsung bersentuhan mendapati dampaknya. Tetapi bagi pihak yang langsung bersinggungan ini adalah nagis darah. 

Contoh lain, bagi nokia, kejayaan mereka adalah masa lalu yang tak ingin dikenang. Kegagalan dalam mengidentifikasi resiko berupa perkembangan teknologi membawanya pada jurang kebangrutan yang sangat dalam. CEOnya mungkin boleh saja bilang, “saya tidak merasa bersalah dalam mengoperasikan perusahaan. Saya sudah sesuai prosedur. Menjaga kualitas dengan sangat apik. Tetapi entah kenapa saya bisa bangkrut seperti ini”.

Sama halnya dengan Sony dan Ericson. Dilalap kereta cepat samsung, google, oppo, huawei, vivo, asus, experia dll. 

Mereka yang gagal mengenali resiko, ia tidak akan bisa mempertahankan sustainability perusahaannya. Begitu kata ISO 9001 : 2015.

Sebagai penutup, kita harus melakukan perubahan agar bisa menilai hal baru itu lebih baik atau tidak. Dan kenali bahwa kesuksesan atau kegagalan akan berlalu. Maka lakukan terus perbaikan. Dan sadari bahwa dikuar sana orang terus bergerak menggeser peradaban dengan perubahan perubahan.

Klakah, 2 jam dari Lumajang.

Kemacetan Klakah (9 Juli 2017)

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s