Sisa cerita waktu Sekolah Dasar

Prolog

Pagi yang dingin segar dibalut oleh kilau hangat mentari. Gresik memang selalu bikin kangen. Suasana kota yang nyaman layak huni. Pepohonan rimbun memompa pundi-pundi oksigen dalam kota. Airnya dingin meskipun kadar ppm TDSnya tinggi. Tetapi bagaimanapun kota ini bersih dan aku suka.

Ini adalah hari minggu. Hari yang spesial bagi sebagian orang. Ini libur dan harus dirayakan. Camilan ringan di malam hari menemani nasi goreng spesial. Makan malam yang sempurna untuk sebuah cerita kecil tentang kebahagiaan.

Seperti sebelumnya, agenda minggu adalah jalan-jalan keliling kota. Mengamati sekitar dan hiruk pikuk aktivitasnya. Sayang tadi tak bisa bener-bener jalan dalam arti sesungguhnya. Karena sudah terlalu siang juga, pukul 6.20 am. Kayak orang hilang aja, jalan sendiri jam segitu. Pakai kaos oblong dan celana kain lagi. Hitam putih warnanya. Klop. Orang gila.

Karena lazimnya orang pada bersepatu olah raga, memakai celana training, headset, atau edomondo aplikasi di lengannya. Coraknya warna-warni memikat hati. Cerianya secerah harinya. Kliau keemasan butir berbulir di leher dan tangannya. Keringat sehat. Kulit yang merubah vitamin D menjadi proses peremajaan sel kulit. Terkesan liat, sama sekali tidak keriput menyusut.

Sarapan pagi ini adalah nasi kuning. Sederhana. Sepiring nasi plus kering tempe, bawang goreng, dan suwir-suwir telur dadar. Cukup dengan 5.500,- rupiah. Tambah 1000 gorengan tempe menjes. Nikmat dengan susu putih hangat warkop sebelah.

Agenda di warkop sebenarnya adalah menilik koran. Sudah beberapa bulan terakhir, sama sekali tidak melihat koran. Hidupku hampa informasi. Hingga berita tentang opening Tour de France saja, aku tak tahu. Eh ndelalah kok sudah etape ke 14 saja. Peter Sagan apakabar? Aku tak membawa hape, nanti saja kubahas sendiri, browsing sendiri. Tanpa melibatkan kamu.

Di koran aku mendapatkan inspirasi menulis tulisan ini. Tentang kekonyolan masa lalu yang mau tak mau aku akan tetap memungkiri pernah terjadi dalam diriku.

Flashback Telepon Umum (Wartel)

Jadi dulu, ketika Sekolah Dasar, aku punya segerombolan orang yang sering main bersama. Mereka teman dekat sekitaran gang rumah saja. Ada yang seberang jalan raya sih, tetapi tidak banyak. Mereka adalah Viqqih, Rizal, Arya, Febri, Agung, Candra, Rifqy, Okky, Resa, Huni, Herry, Indra, Ramadhan, Yayan, Angga, Bayu. Mereka semua sering main bola bareng. Bikin lapangan sendiri. Main bulu tangkis sendiri. Menonton takraw. Dan main bola disembarang tempat seperti latar rumah orang dan gang.

Tetapi dari sekian banyak itu, ada tiga memang teman plek ketika SD yaitu arya, rizal, dan viqqih. Jaman semunu, telepon umum masih sering ditemui. Warung telekomunikasi masih berjajar menjamur. Instansi apapun itu, masih pakai jaringan telepon.

Nah di dekat sekolah kami ada wartel. Setiap pulang sekolah, kami menyisihkan uang 500-1000 rupiah untuk menelpon semua orang yang ada di buku telepon. Kadang personal rumah, pengurus gereja, lembaga pendidikan, dan dinas pemerintahan. Bukan untuk keperluan serius. Kadang kami menggoda pemuka agama lain, kadang ingin kenalan dengan penjaga. Kalau cowok, sudah pasti kami tutup. Kalau cewek, suara merdu, aduhai jilatan lidah kami mengalahkan gombalan jaman sekarang deh. Canda tawa selalu bergelak di bangku biru mirip bangku milik Satpol PP. Ditemani dengan lagu-lagu Ada Band, Ungu, dan Radja yang populer kala itu.

Di kelas kami selalu ramai sendiri. Pernah juga tidak mengerjakan PR bahasa Jawa. Akhirnya satu kelas dipukul pakai penggaris papan tulis. Dari kayu, sampai patah. Satu persatu siswa kena. Dari luar satu persatu masuk kelas dengan umpatan, “aduuuhh, sakit bu guru”. Tapi begitulah kami meskipun yang salah adalah komunikasi antara guru dan siswa sehingga mayoritas tidak mengetahui kalau ada PR. Kesalahan juga mungkin apatisnya anak pintar yang tidak memberitahu teman lain akan adanya tugas. Dan tidak memberi contekan.

Harga untuk keriang-ceriaan

Saat istirahat. Uang 500 rupiah itu sudah istimewa. Nasi goreng satu bungkus. Kalau ditukarkan jajan ringan sudah dapat 5 item jenis yang berbeda. Kadang kalau mie kering hanya dapat 2. Itu sangat enak. Dan tiap hari ya segitu bugdetnya. Kalau orang tajir, ya palingan 1.000,- rupiah. Minumnya sudah marimas dan pop ice. Makannya sudah bisa pakai bayam lauk tempe tahu dan ½ telur. Itupun menjelang 2005 mendapat kenaikan uang saku segitu. Dan kelas enam menuju SMP meroket menjadi 2.000,- rupiah.

Saat SMP, 1.500,- itu setara nasi pecel ikan telur. Kemewahan yang tak didapatkan oleh anak orang yang kurang mampu. Kalau ditukarkan jajanan sudah dapat 3 item chocolatos atau buttercocho. (Perubahan nilai uang bisa dilihat disini)

Ketika SD, kami sering istirahat main bola. Main kelereng. Dan ketika waktunya olahraga ada yang namanya jalan-jalan menju kali terdekat. Kadang diperbolehkan mandi. Kala itu masih bersih dan segar. Tidak ada pempes bercorak merah berceceran di kali-kali kami.

Keluguan cinta anak SD

Memoriku tidak terelak. Kelas 1-2 adalah momen terburuk dari sejarah pendidikanku. Raporku banyak yang merah. Aku anak nakal, berbicara sendiri dikelas. Selalu angkuh tidak mau disalahkan. Suka marah dan nangis. Dan puncaknya dijudgement mau tidak naik karena tidak bisa baca waktu kelas 2. Aku mutung dan ingin sekolah di SD milik orang tua saja.

Kelas tiga mulai mending. Aku ditatar oleh orang tua dan ibu guru yang baik hatinya. Aku mulai suka pada pelajaran IPS. Kesabaranku berbuah manis. Kelas tiga, rankingku meroket menuju 10 besar. Aku mulai intensif belajar ilmu sosial, aku digadang-gadang akan mewakili sekolah untuk perlombaan tingkat kecamatan.

Di sela-sela belajar, ada hal menarik kebiasaan kami. Waktu itu kami sudah tahu yang namanya ketertarikan dengan lawan jenis. Aku dan rivalku berebut mendapatkan cewek idaman. Itu masih kelas 2, dan targetnya kelas 3. Dulu kami selalu terkagum-kagum dengan anak kelas 3 yang sudah boleh nulis pakai bolpoin. Keren saja. Daripada blonteng-blonteng pakai buku kotak dan buku bergaris latin. Kelas 3 itu tegak lurus, tulisannya. Anaknya cantik, pendiam, dan selalu anggun tatkala pulang sekolah. Rambut cukup panjang, sedikit dibawah pundaknya. agak kecoklatan. Warna kulitnya putih langsat, layaknya bengkoang. Alisnya tebal. Bulu tipis rambut di tangan dan lehernya. Ah, waktu itu kami suka sekali dengan segala kelugua dan keterbatasan definisi dan filosofi cinta.

Kami menuliskan orang-orang yang kami cintai. Meskipun belum juga jadian. Sambil malu-malu kita tulis di tanah dengan huruf terbalik. Kita bersimpuh malu dan saling menyumpahi doa agar segera mendapatkannya.

Aku dulu pernah jadi santri. Nama-nama cewek yang ku suka bergeser bergantian. Dari yang satu menuju ke yang lainnya. Temanku memang itu-itu saja. Itu yang bikin pilihanku tak banyak variasi. Muter pada tiga serangkai cantik.

Kebetulan mereka ada 2 tingkat diatasku. Ada yang 1 tingkat. Dan ada yang sepantaran. Satu persatu ku suka. Dan mereka tidak menyadari bahwa aku sebenarnya suka dia. Meskipun aku bilang padanya, “aku sedang mendekati temanmu, pacar temanku”. Waktu itu di bilik mushola samping imam. Ada ruang kosong untuk menyampaikan rahasia. Tentang layang-layang, spiderman, dan orang jatuh. Disana kulukiskan perasaanku, aku curhat pada teman dekatku itu. Yang sejatinya aku lebih milih teman dekatku itu. Disekolah kelas 5, aku semakin mendekatinya. Melancarkan aksi untuk mendekatinya secara masif. Hingga akhirnya aku terlibat konflik panjang dengan Cahyo, Arik, dan Trio, serta Edo. Yang kesemua itu sedang mendekati cewek yang sama. Perkelahian tak bisa terelakkan meskipun tidak ada baku hantam. Tetapi mental ini sudah down.

Tetapi prinsipnya, “ndlosor dulu asalkan ashor”. Dan benar, aku menyelamatkan silaturahimku dengan mereka. Sampai suatu saat mereka sangat sungkan denganku. Mereka menghormatiku. Dan aku sangat menghargai mereka. Meskipun secara moral dan ekonomi kami berbeda.

Cerita SD adalah juga tentang guru-guru yang mulia. Guru yang mendidik, bukan hanya mengajar. Guru cantik yang mengajar dengan tulus, dia adalah Bu Siti Aisyah. Lemah lembut, menuntunku lulus dari kelas 4. Dan bu Dian, guru tegas dan keras di kelas 5. Menunjukkan jalan passion dibidang sosial dan tentang gerbangmas yang aku tak tahu maknanya. Dan tentang Pak Didik yang keras dan konyol pada saat yang berbeda. Buku dilempar, tidak bisa jawab = punishment, menghitung jumlah kendaraan di jalan, payungan dalam kelas, ditimpa tas dari atas pintu dan kaki yang dijepit tali di meja agar tidak keluyuran di kelas. Jamodin yang selalu jadi bahan olok-olokan hingga canda kadang menemui tangis.

Ilustrasi dari ketkpgan.com

Benar-benar lugu dengan seragam yang merah putih gampang kotor. Seragam olahraga yang amat disukai. Warna hijau muda. Ikat pinggang, kauskaki, sepatu, dasi, dan topi yang seragam. Ikat pinggang yang mudah mretel kepalanya. Dasi yang mudah putus tali karetnya.

Itulah sekelumit cerita indah ketika SD dulu. Oiya, aku juga pernah jadi petugas upacara. Membacakan doa bergantian dengan Viqqih. Selalu gerogi. Tetapi dengan melihat keteguhan hati teman teman pengerek bendera (Arif dan dikelilingi oleh 2 cewek), pembaca UUD 45 (Asror), pembaca pancasila, dan pemimpin upacara.

Cerita rumah remah remeh

Di rumah, banyak hal yang terjadi. Tentang berbaik tek-tekan yang memengapkan mata sebelah kiri. Harus ditutup selama tiga hari. Sementara menjadi bajak laut.

Tentang kelereng kalah gender. Dan main kelereng taruhan. Main karet taruhan hingga kalah ngamuk. Dan modal mesar yang jalah telak.

Tentang main bom-boman dari tanah bergumpal-gumpal. Pakai benteng yang tinggi lagi besar. Tentang kemenangan telak. Benteng lawan yang kecil dan diisi oleh banyak orang. Klilipen dan perut yang kesakitan dan tertumpah dalam kepecahan tangisan.

Telinga yang terisi kotoran. Salto. Dan renang ala ala bebek diatas ada tai sapi dan manusia. Tentang percobaan renang minggu pagi gagal oleh orang yang jago renang, kurus di kota. Tentang gudiken akibat mandi di air kali yang tercampur oleh gabah dan pengairan dari sawah. Panu yang meraja lela. Kami mau dan kami ceria dengan segalanya.

Tentang mencari ular dan menjinakkannya. Memutar kepala ular hingga teler. Ular hijau dan ular kayu. Burung dan ketapel.

Sepak bola sawah. Mencari ikan di kali. Dan mandi pagi sore ketika minggu di kali. Tentang rokok dari kertas merupakan permulaan kecanduan akan asap pembakaran itu.

Bulu tangkis yang berhenti ditengah jalan. Belakang rumah, rumah pak shodik, dan rumah mas iis. Mushan dan persahanatan dengan dam songo ngetan dan perumahan. Perkenalan dengan ari yang sekolah di rival Sdku, SD Tempeh Tengah 01. Mereka sengit dalam hal prestasi. Saling adu jotos dalam hal indeks prestasi. Kejayaannya sering didefinisikan sebagai siapa yang dapat menyetor nama peserta didik terbanyak di SMP favorit di Kota atau Kecamatan. Tentang tangan kanan sobek karena balap sepeda musuhan dengan tempeh tengah.

Tentang kecelakaan menuju mujur. Ketidak senangan ke kali mujur. Mulai pisah dengan teman-teman yang tidak sepaham. Paham idealisme dan melebur rusak dalam tatanan masyarakat era kini.

Tentang menonton TV minggu. Dragon ball, doraemon, mak lampir, poer rangers, pikachu, pocong 1 dan 2. Mumun dan jefri. Dan memisahkan diri dari TV.

Bagaimana pun juga itu semua adalah kisah yang ku alami. Aku tidak bisa menghapus segala kekonyolan yang pernah singgah dalam hidupku. Inilah aku sekarang dengan latar belakang dan masa lalu yang demikian. Tanpa semua itu, bisa jadi sekarang aku tak begiini.

Menyenangkan. Sederhana dan indah.

Tahun 2000 – 2006.

Advertisements

4 thoughts on “Sisa cerita waktu Sekolah Dasar

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s