Kenapa Harus Meninggalkan Pestisida?

Pestisida merupakan zat yang digunakan untuk mencegah, membunuh, atau mengendalikan hama tertentu yang dapat mengganggu proses produksi, transportasi, dan penyimpanan hasil pertanian. Lingkup pestisida dapat pula mengacu pada setiap zat yang digunakan untuk memodifikasi laju perontokan daun, penguatan buah, dan dan mengendalikan pertumbuhan tanaman.

Pestisida banyak digunakan para petani untuk meningkatkan produksi bahan pangan dengan jalan mengurangi potensi hama dan pengendalian pertumbuhan tanaman. Terdapat banyak macam jenis pestisida berdasarkan kegunaannya, antara lain:

  1. Herbisida: Gulma
  2. Fungisida: Jamur
  3. Insektisida: Serangga
  4. Moluskisida: Moluska
  5. Nematisida: Nematoda
  6. Mitisida: Tungau

Mekanisme kerjanya juga macam-macam. Misalnya kandungan zat pada pestisida jenis herbivora (fenoksi misalnya) dia menyerang jaringan meristem yang terus membelah tanpa terkendali. Sehingga transpor pada xylem dan floem untuk senantiasa memompa diluar batas sehingga menyebabkan kerusakan organ gulma secara keseluruhan. Biasanya herbisida cenderung selektif pada target yang dituju. Berdaun lebar atau tipis.

Berbeda dengan jenis insektisida / hama animalia lainnya, ia mengandung jenis organoklorin, organofosfat, atau karbamat (jenis asam karboksilat amina). Contoh organoklorin adalah diklorodifeniletana (DDT). Sistem kerja DDT adalah dengan mengganggu keseimbangan ion kalium-natrium dalam jaringan syaraf. Sehingga merusak organ tubuh secara keseluruhan. Sedangkan organofosfat dan karbamat bekerja dengan mengganggu asupan asetilkolin ke jaringan syaraf dan menyebabkan kematian mendadak pada hama.

Tapi tahukah anda, bahwa tidak semua pestisida itu kimiawi. Ada pula yang biokimia. Ada pula yang pure biologi. Misalnya bakteri Bacillus Thuringensis yang dapat memproduksi senyawa protein yang mematikan bagi serangga. Jenis fungi juga beberapa hidup sebagai parasit pada serangga dan dapat membuat serangga lebih memilih mengakhiri hidupnya daripada hidup dalam kerugian.

ilustrasi dari suarameredeka.com

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa 98% insektisida dan 95% herbisida terbuang ke lingkungan tanpa melakukan sebuah penanggulangan efektif terhadap hama (Miller. 2004). Ini menyebabkan ekologi sekitar areal pertanian berbasis pestisida menjadi tercemar. Mengingat pestisida bersifat persisten, dapat bertahan tanpa terdaur ulang dalam waktu yang lama. Terlebih, beberapa pestisida tidak dapat larut dalam air.

Jika sudah demikian, yang larut dalam air akan mencemari siklus dimana air lewat dan yang tidak larutpun akan menjadi debu dan tersendimentasi dalam tanah yang mempengaruhi keasaman, kelarutan zat anorganik, dan kejenuhan air permukaan. Tanah tidak lagi gembur dan subur. Kering kerontang, yang dikala kemarau kesulitan air dan di kala penghujan akan banjir. Tanah sudah jenuh oleh pestisida. Bakteri / jamur saja enggan untuk menguraikan pestisida buatan (sintesis) tersebut. Kalau bakteri tak mau hidup, bagaimana dengan tumbuhan yang bersimbiosis mutualisme dengan bakteri pengikat nitrogen. Asupan nutrisinya tak terpenuhi dan pertumbuhan abnormal akan terjadi dimana-mana. Sesi pupuk kimia akan dibahas di lain waktu.

Padahal kita tahu, setiap makhluk hidup selalu menjadi perantara aliran air. Bahkan tiap organisme susunan utamanya adalah air. Sehingga jika pestisida terakumulasi dalam air (sulit terurai / terhidrolisis) maka mimpi buruk bagi setiap organisme yang hidup. Herbivora memakan tanaman yang di dalamnya mengandung sejumlah pestisida kimiawi. Meminum pula air yang didalamnya terdapat beberapa pestisida. Herbivora dimakan oleh karnivora. Dan kesemuanya akan dimakan oleh omnivora. Itulah kita. Menjadi akumulator terbesar dalam strata piramida makanan.

Mungkin mimpi buruk ini bisa dibilang adalah perjalanan panjang. Efeknya memang tidak sekejapan mata. Tetapi resiko tetap ada. Dan kecenderungan penelitian mengatakan bahwa ibu hamil yang dekat dengan lahan pertanian berpestisida memiliki resiko mengandung anak autis (keterbatasan mental). Ingat kan, bagaimana cara kerja beberapa jenis pestisida kimiawi dibagian awal paragraf. Merusak jaringan syaraf dan dampaknya besar terhadap vertebrata.

Belum lagi ketika pestisida bersama air menguap di udara. Terhirup oleh makhluk hidup lain. Penggunaan pestisida diudara sangat berperan dalam polusi udara di daerah sekitar pertanian. Terlebih ketika cuaca panas dan angin berhembus kencang, semakin membuat racun pestisida menyebar kemana-mana.

Bahkan penelitian telah membuktikan bahwa semakin sering dipakai, hama akan lebih resisten terhadap pestisida tersebut. Sehingga dalam kurun waktu tertentu, pestisida harus senantiasa diperbaharui. Hal ini mengikuti adaptasi hama menghadapi ramuan pestisida sintesis yang mengancam hidup mereka.

Contoh terjadi peristiwa 52 Petani di Desa Malita, Devao del Sur, Filipina tahun 1996 yang keracunan akibat penggunaan jenis pestisida baru yang belum teridentifikasi. Lain lagi cerita di Peru, tahun 1999, sejumlah 24 anak muntah-muntah setelah makan bubur dan susu di sekolah. Salah satu diantaranya meninggal dunia keracunan insektisida jenis Parathion untuk membunuh anjing dan tikus. Insektisida itu terkandung pada susu (Quijano. 1999).

Di dalam negeri juga tak mau kalah. Kemarin (24/03/2017), seperti yang diberitakan harian republika, dua orang petani Indramayu meninggal di sawah dengan menenteng tangki pestisida. Polisi menduga kedua petani tersebut meninggal akibat keracunan pestisida. Dinas Pertanian Indramayu mencatat kejadian beruntun dalam 1 bulan terakhir menimpa 4 orang petani merupakan sesuatu yang serius.

Dampak ini adalah dampak yang paling harus kita waspadai karena menyangkut kelangsungan hidup manusia di bumi. Setidaknya terdapat 20.000 jenis pestisida yang mengandung 155 juta bahan aktif pembasmi hama (US Environment Protection Agency). 10% dari kesemua itu ironisnya bersifat karsinogenik. Menimbulkan kangker, tumor, dan pembelahan sel yang tidak terkendali. Gejala keracunan ringan biasanya ditandai dengan sakit kepala, mual, sakit dada, muntah-muntah, kudis, otot kram, dan keringat berlebihan. Akutnya dapat menyebabkan neurotoksin yang berakibat pada kelumpuhan dan kehilangan kesadaran / koma (PAN AP. 2001). WHO mencatat, dalam satu tahun, 25 juta orang di dunia terjangkit keracunan pestisida.

Yuk mari hidup sehat tanpa pestisida kimiawi. Produktivitas tak akan turun lebih dari 20% meskipun tanpa menggunakan pestisida kok. Pemahaman tentang pestisida adalah obat perlu diperbaiki. Pestisida adalah racun pembunuh hama. Berbahaya. Lebih baik dihindari. Apalagi mengoplos (mencampur) dengan jenis pestisida lain. Kalau pun terdesak, gunakan pestisida kimia secara bijak, tepat sasaran, tepat mutu, tepat jenis, tepat waktu penggunaan, tepat dosis, dan tepat cara penggunaan.

Atau gunakan metode alternatif yang bersifat biologis dan ramah lingkungan. Beralih dengan pertanian modern dengan kontrol ketat terhadap faktor kehidupan tanaman dan pengendalian hama secara terpadu. Hidroponik adalah salah satu opsi yang dapat dipilih.

Selamat berkebun.

Advertisements

2 thoughts on “Kenapa Harus Meninggalkan Pestisida?

  1. Dengan memakai pestisida organik, tanaman juga bertumbuh dengan sehat dan ekosistem tetap terjaga. Pernah baca di koran, bahkan pestisida organik sebenarnya juga bisa menghemat pengeluaran para petani ya..

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s