Pelajaran syukur yang kesekian kali

Dahulu sekali aku pernah bermimpi jauh. Tetapi kadang langkah itu kadang terhenti oleh sejenak rasa pilu dalam hati. Pantaskah diri ini meminta pengharapan lagi pada tuhan? Sedangkan sudah sebanyak ini nikmat yg Tuhan berikan padaku.

Ini mungkin semacam dialektika cinta yg indah antara hamba dengan Pencipta. Dimana Dia bilang, berdoalah kepadaKu, niscaya akan aku kabulkan.

Cap sombong adalah kepada orang orang jarang berdoa, merasa bisa atas kekuatan dan kecerdasan pribadi. Doa adalah simbol ketidakberdayaan. Ia adalah harapan bagi sejumput asa. Dari sosok makhluk yanh serba terbatas.

Semakin banyak doa, semakin merunduk.

Tapi sering doa kadang bikin malu. Sudah menunaikan kewajiban apa aja kita, kok berani beraninya doa. Hak Tuhan tentang penciptaan manusia untuk ibadah kepadaNya saja, sudah kah?

Belum lagi soal bersyukur. Sudah sebanyak ini, nikmat yang Allah berikan. Masih kurang? Serakah amat.

Kadang, ketika aku bertemu dengan orang orang diluar sana. Wajah mereka polos. Bekerja dalam kekuatan hati, yang kadang ditolak oleh badan. Mereka terlihat lemas tergulai. Hanya secercah cita yang membangunkannya dari tidurnya. Berangkat mengendarai motor 15 Km untuk mencari nafkah. Sampai kerja, disodori seambrek masalah. Mereka bergegas menyambut meski badan terasa berat.

Downtime. Mereka berberak lambat. Dengan senyum yang murni dan suci. Mencoba menyembunyikan beban berat hidup mereka. Harus menghidupi anak dan istri dirumah. Sungguh itulah satu satunya faktor yang menggerakkan hati mereka. Anak yang ingin beli buku, susu, dan popok. Dapur rumah yang bagaimana pun harus tetap mengepul.

Tangan mereka, raut wajah mereka. Sangat periang. Aku kadang terharu. Umur mereka sudah tak seumur jagung. Semangat mereka terus menggelora. Seusai pulang kerja, masih harus melakukan pekerjaan rumah, membantu istri di dapur, bersantai bersama anak, nonton teve bareng, dan membersihkan rumah. Begadang lagi. Esok hari sangat capek. Dengan mata masih memerah dan berair, mereka menatap.

Ah, aku sudah melakukan apa saja untuk dunia ini? Apakah saya jadi beban bagi sekitar atau sudah kah saya bermanfaat.

Catatan sempit diantara penjual STMJ yang melegenda di kota Sunan ini.

Gresik 31 Juli 2017.

Advertisements

3 thoughts on “Pelajaran syukur yang kesekian kali

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s