Hidup perjuangan. Hadapi! Bukan untuk lari.

Sedikit rempah-rempah untuk tuangan yang sempit.

Hidup adalah perjuangan. Tidak untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi. Tentu tidak mudah, tapi selalu ada jalan untuk yang bersungguh-sungguh. Apalagi kesungguh-sungguhan dengan keyakinan penuh pada Allah.

Dahulu sekali aku punya prinsip untuk lari dari kenyataan. Semisal, era sekarang adalah era digital. Penuh dengan penggunaan alat elektronik penyedia hiburan. Televisi layar lebar, home theatre, karaoke, diskotik, dan hiburan malam. Ada pula gadget beserta fitur game dan sosial media yang melenakan. Laptop juga tak kalah mendominasi.

Alasanku sedikit konyol, tetapi saat itu aku berusaha benarkan. Apa itu? Aku berprinsip, bila ada suatu term yang menyediakan kebobrokan lebih banyak daripada kebaikan, maka tinggalkan. Yuk coba kita tilik, lebih banyak mana jam tayang ceramah agama daripada sinetron, film vulgar, nyanyi-nyanyi, ala ala barat di televisi. Lebih banyak mana, “orang yang terpeleset nonton kesia-siaan di internet daripada mengambil saripati ilmunya. Lebih banyak mana main game dan terjerumus pada hoax sosialita daripada murajaah alqur’an dan hadistnya.

Darisitu aku berpikir, hapuskan hape dari hidup. Uninstal semua sosial media. Hapus youtube. Hingga non aktifkan google chrome. Sampai disitu aku tak tinggal diam. Aku terus memformulasikan untuk terus berpelas diri dari gadget. Sampai pada puncak aku buang hapeku barulah aku akan puas dengan kinerjaku. Itu artinya, aku telah seratus persen hilang dari dunia maya. Aku fokus pada dunia nyata dan akhirat kelak.

Tetapi akhir-akhir ini ritme mulai berubah. Nyatanya, dengan non aktif saja, saya masih sering kebobolan sesuatu yang buruk dan sia-sia dari internet.

Berawal dari situ, aku pikir, “seketat apapun kita mengurangi jam pakai hape” ia akan menjerumuskan ketika kita menghendakinya. Ibaratnya, setan bilang, lihat lah ini itu. Ketika kita bilang, “iya setan, aku patuh kepadamu” disitulah lemah kita. Disitulah kita diserang bertubi-tubi. Hingga perasaan jatuh pada jurang yang sama.

Tentu ini tak layak diceritakan. Umur sudah seperempat abad, masih saja berkutat pada memerangi hawa nafsu pribadi. Belum menemukan formulasi mengendalikan itu. Begitu terhina. Tetapi apalah daya. Setan selalu menggoda sampai kita mengikuti jalannya. Hingga ajal menjemput mereka pun akan terus menjerumuskan kita.

Maka dari itu, semua tidak pantas dihindari. Semua harus dihadapi. Dengan cara yang baik sesuai tuntunan rasulullah tentunya. Tidak perlu menantang duel dengan setan. Sama saja dengan term, “melawan setan dengan cara setan” sama buruknya. Hasilnya bakal tertipu oleh setan juga.

Maka dari itu, formulasi yang sekarang dikembangkan adalah konsep sabar dalam menerima ujian, sabar dalam menunaikan ibadah, sabar dalam menahan maksiat. Kesabaran akan mengantarkan pada kemengan. Sabar untuk tidak nonton anime di yutub. Sabar untuk tidak cek story line di WA dan IG. Sabar untuk mendahulukan sholat ketika adzan berkumandang. Sabar untuk sedikit tidak nyenyak istirahat ketika shubuh. Sabar dalam segala hal. Sabar dalam menuntun ilmu. Memperbanyak porsi membaca buku. Dsb.

Hidup ini perjuangan. Yuk kalahkan hawa nafsu yang ditunggangi setan. Untuk mempersiapkan akhirat. Dan memperkencang akidah. Dan juga jalan menuju surga Allah. Jalan yang lurus melalui iman dan islam.

Mari bersama-sama melebarkan sayap ukhuwah untuk saling bantu membantu dalam membangun building kebaikan.

Selamat malam.

Gresik, 13 Agustus 2017

Advertisements

One thought on “Hidup perjuangan. Hadapi! Bukan untuk lari.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s