Mati dalam Keadaan Tersenyum

Mati. Kesunyian tanah yang gelap pekat. Ia akan segera menghampiri kita. Cepat atau lambat.

Kenapa sih, blog ini sering sekali bicara soal mati. “Bukannya malah menyebabkan kita tidak bergairah hidup?”, ujar salah seorang rekan kerja. Bisa saja kita anggap, buat apa capai-capai bekerja, banting tulang, untuk mencukupi kebutuhan dunia, semisal bangun rumah layaknya istana, kalau kelak kita tahu kuburan adalah rumah kita. Ada orang yang berpikir demikian. Sehingga melupakan day after dead – nya. Sibuk dengan penumpukan harta dan menyiapkan modal akhirat dengan sekadarnya.

Tetapi ada analisis lain dalam memandang dan menyikapinya. Bisa jadi kita semakin bekerja keras, semangat berkobar, demi menuntaskan misi kemanusiaan di dunia. Kita beriman kepada kehidupan akhirat, maka kita niatkan semua pekerjaan dunia untuk menggapai keabadian setelahnya. Lebih dalam dan visioner. Dunia tak dilupakan, akhirat menjadi tujuan.

Sampailah pada perkataan agung dari Rasulullah:

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menyatakan,

إذا أصبحت فلا تنتظر المساء ، وإذا أمسيت فلا تنتظر الصباح ، وخذ من صحتك لمرضك ، ومن حياتك لموتك

Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sampai petang hari. Jika engkau berada di petang hari, jangan tunggu sampai pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari)

Dan di media manapun, sudah jarang orang mengingatkan tentang terminologi mati ini. Mereka sibuk dengan iklan-iklan kepuasan diri, dunia, aksesoris, dapur, rumah, pakaian, kecantikan, kegantengan, teknologi. Gambaran hidup yang foya-foya. Pertengkaran sepele di sinetron-sinetron. Hiburan-hiburan tak membangun. Lawakan dengan tawa yang dibuat-buat. Di TV, radio, internet apalagi. Berita yang berjibun, tak sempat verifikasi kebenarannya. Pencekok-an berita hoax yang mengarahkan opini publik. Mereka ingatkan terus soal dunia. Akhiratnya lupakan. Dunia akhirat-nya timpang. Tak balance.

Kalau adapun hanya sesekali. Mungkin di berita tentang kecelakaan atau tausiah pagi hari. Oleh karena itu, disini, ibarat blog ini sedang berkampanye. Mengejar dunia boleh saja. Tetapi jadikan itu hanya lompatan untuk ke negeri akhirat yang abadi kelak. Ingat, kematian adalah gerbang dua alam ini. Ketika sudah sampai, balik pun tak bisa. Kematian pasti menghampiri.

Jangan sampai ketika mati dan gerbang dunia telah di tutup, kita malah menangis. Penuh penyesalan. Kenapa selama hidup selalu berlalai-lalai. Dalam kelemahan aktivitas. Tidak lakukan perjuangan untuk kebaikan. Dan tidak terus mencari kebenaran. Malah sibuk meributkan sesama kesesatan. Dan sekarang, semuanya sudah sepi. Penuh pilu dan kepedihan siksaan. Kobaran api neraka telah di buka jendelanya.

Orang yang kita tinggalkan boleh menangis sehebat-hebatnya. Tetapi ketika kita mati nanti, jangan juga terisak sedih.

Alangkah indah, jika kita meninggal kelak. Kita dipikul oleh orang yang peduli kepada kita. Orang yang segan pada kita, karena kebaikan kita selama di dunia. Dan menjadi diri yang tersenyum ketika berjumpa dengan dua malaikat di liang lahat. Berteman dengan amal shalih hingga sangkakala ditiupkan. Senang, gembira, ceria, dan lega karena selama hidup telah berjuang maksimal untuk menaati perintah tuhan dan menjauhi larangannya. Bersabar hingga waktu tiba.

Alhamdulillah perjuangan telah usai, alhamdulillah telah kukerahkan semua energi untuk berjuang di jalan Allah, waktunya menuai hasil. Tenang karena aroma wangi surga telah tercium. Dan akan segera menempatinya, dalam waktu yang tidak lama lagi.

Semoga perkataan baiklah yang akan muncul setelah kita tiada. Tinggal nama. Dan anak cucu yang sholeh yang mendoakan orang tuanya. Tidak hanya menangis sesekali, kemudian mati ditinggal pergi.

“(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)”, masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. [An Nahl: 32]

Terlampir proses pencabutan ruh, semoga bermanfaat:

Detail cerita dibawah.

Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai, Ibnu Majah, serta yang selainnya, telah meriwayatkan dari hadits Al-Baro’ bin ‘Azib, bahwa suatu ketika para sahabat berada di pekuburan Baqi’ul Ghorqod. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi mereka. Beliau pun duduk. Sementara para sahabat duduk disekitarnya dengan tenang tanpa mengeluarkan suara, seakan-akan di atas kepala mereka ada burung. Beliau sedang menanti penggalian kubur seorang yang baru saja meninggal.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kepalanya dan mengucapkan:

أعوذ بِاللّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْر
“Aku berlindung kepada Allah dari adzab kubur.”

Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Setelah itu, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya bila seorang yang mukmin menghadap ke alam akhirat dan meninggalkan alam dunia, turun kepadanya sejumlah malaikat berwajah putih yang seolah-olah seperti matahari. Mereka membawa sebuah kain kafan dan minyak wangi dari surga. Mereka pun duduk di dekatnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat pencabut nyawa dan duduk di dekat kepalanya. Malaikat pencabut nyawa berkata:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطيبة، أخرجي إلي مغفرة من الله و رضوان
“Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau kepada keampunan dan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Maka nyawanya keluar dan mengalir seperti air yang mengucur dari mulut wadah. Lalu malaikat pencabut nyawa mengambilnya. Nyawanya tidak dibiarkan sekejap mata pun berada di tangan malaikat pencabut nyawa dan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah putih tadi. Kemudian mereka meletakkannya pada kain kafan dan minyak wangi surga yang telah mereka bawa. Maka nyawanya mengeluarkan aroma minyak wangi misik yang paling terbaik di muka bumi. Lalu mereka menyertainya untuk naik ke langit. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan para malaikat itu akan bertanya: “Siapakah nyawa yang baik ini?” Mereka menjawab: “Ini adalah Fulan bin Fulan”, dan disebutkan namanya yang paling terbaik ketika mereka memanggilnya di dunia.

Tatkala mereka telah sampai membawanya kelangit, mereka meminta agar pintu langit dibukakan untuknya. Maka dari setiap langit dia diiringi oleh para penjaganya sampai ke langit berikutnya. Demikianlah yang akan terjadi hingga dia sampai ke langit yang disana ada Allah. Maka Allah berfirman:

اكتبوا كتاب عبدي في عليين, و أعيدوه إلى الأرض, فإني منها خلقتهم, وفيها أعيدهم, و منها أخرجهم تارة أخرى
“Catatlah oleh kalian bahwa hambaku (ini) berada di surga ‘illiyyin, dan (sekarang) kembalikanlah dia ke muka bumi. Sungguh darinya Aku telah menciptakan mereka, dan padanya Aku akan mengembalikan mereka, serta darinya pula Aku akan mengeluarkan mereka sekali lagi”.

Kemudian nyawanya dikembalikan ke dalam jasadnya. Lalu datanglah dua orang malaikat kepadanya. Keduanya bertanya, siapa Rabbmu? Maka dia menjawab, Rabbku adalah Allah. Keduanya kembali bertanya, apa agamamu? Maka dia menjawab, agamaku adalah islam. Keduanya kembali bertanya, siapa orang yang telah diutus di tengah kalian ini? Maka dia menjawab, beliau adalah utusan Allah. Keduanya kembali bertanya, siapakah yang telah mengajarimu? Maka dia menjawab, aku membaca kitab Allah, beriman kepadanya dan membenarkannya.

Kemudian terdengarlah suara yang menyeru dari langit, “Hambaku ini telah benar. Bentangkanlah untuknya permadani dari surga dan bukakanlah sebuah pintu ke surga”.
Maka harum wangi surga pun menerpanya dan kuburnya diperluas sejauh mata memandang. Lalu datang kepadanya seorang yang bagus wajahnya, pakainnya, dan harum wanginya. Orang itu berkata, bergembiralah dengan segala yang akan menyenangkanmu. Ini adalah hari yang dahulu engkau telah dijanjikan. Maka si mukmin bertanya kepadanya, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa kebaikan.” Dia pun menjawab, “Aku adalah amalmu yang sholih.” Lalu si mukmin berkata, “Wahai Rabbku! Segerakanlah hari kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku”.

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Adapun bila seorang yang kafir meninggalkan alam dunia dan menghadap ke alam akhirat, turun kepadanya dari langit sejumlah malaikat yang berwajah hitam legam. Mereka membawa sebuah kain kafan yang buruk dan kasar. Mereka pun duduk di dekatnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat pencabut nyawa dan duduk di dekat kepalanya. Malaikat pencabut nyawa berkata,

“Wahai jiwa yang buruk, keluarlah engkau kepada kemurkaan dan kemarahan Allah”.

Maka nyawanya tercerai berai di dalam jasadnya. Kemudian malaikat pencabut nyawa merenggut nyawanya seperti mencabut besi pemanggang daging dari bulu domba yang basah. Setelah malaikat pencabut nyawa mengambilnya, tidak dibiarkan sekejap mata pun berada di tangannya dan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah hitam legam tadi. Lalu mereka meletakkannya pada kain kafan (yang telah mereka bawa) itu. Sehingga keluarlah dari nyawanya seperti bau yang sangat busuk di atas muka bumi.
Kemudian mereka naik bersamanya. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan para malaikat itu akan bertanya, siapakah nyawa yang buruk ini? Mereka menjawab: “Ini adalah Fulan bin Fulan” dan disebutkan namanya yang paling terburuk ketika mereka memanggilnya di dunia.

Kemudian mereka membawanya naik sampai ke langit dunia dan dimintakan agar pintu langit di bukakan untuknya. Namun pintu langit tidak dibukakan untuknya”.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat yang berbunyi,

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

“Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga sampai onta bisa masuk ke dalam lubang jarum.” (QS. Al-A’rof: 40)

Selanjutnya Allah Azza wa jalla berfirman,

“Catatlah oleh kalian bahwa ketetapannya berada di (neraka) Sijjiin, di bumi yang paling bawah”.

Setelah itu, nyawanya benar-benar dilemparkan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat yang berbunyi,

“Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, Maka dia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh”. (QS. Al Hajj: 31)

Demikianlah, nyawanya dikembalikan kedalam jasadnya. Maka dua orang malaikat mendatanginya lalu mendudukkannya. Keduanya bertanya, “Siapa Rabbmu?” Dia menjawab, “Hah.. hah..aku tidak tahu”. Keduanya kembali bertanya, “Siapa orang yang telah diutus ditengah kalian ini?” Dia menjawab, “Hah..hah..aku tidak tahu.” Kemudian terdengarlah suara yang menyeru dari langit, “Dia telah berdusta, bentangkanlah untuknya permadani dari api neraka dan bukakanlah sebuah pintu ke neraka.” Sehingga hawa panas dan racun neraka pun menerpanya dan kuburnya dipersempit sampai tulang-tulang rusuknya saling bergeser. Lalu datang kepadanya seorang yang buruk wajahnya, pakainnya, dan busuk baunya. Orang itu berkata, “Bergembiralah dengan segala yang akan memperburuk keadanmu. Ini adalah hari yang dahulu engkau telah dijanjikan.” Maka si kafir bertanya, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa keburukan.” Dia pun menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk.” Lalu si kafir berkata, “Wahai Rabbbku! Janganlah engkau datangkan hari kiamat”.

Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam kitabnya “Ahkamul Janaiz” (hal. 156-157) dan tahqiq beliau terhadap “Syarh Aqidah Thahawiyyah” (hal. 397-398).

Oiya postingan ini dibuat oleh karena inspirasi dari kematian tetangga seminggu lalu. Semoga Allah berkahi alam barzah hingga akhiratnya. Aamiin.

Beliau orang yang cukup dekat dengan saya. Mengenal betul. Dan mati mendadak karena gagal ginjal. Kita mungkin kurang bersyukur pada Allah karena Dia menciptakan organ yang tiap hari nyaring. Tanpa kenal lelah. Dan tanpa mengeluh pada si empunya yang tiap hari makan santan, gula, saus, dan aneka bumbu kimiawi yang hanya sedap di lidah tetapi keras di ginjal. Yuk banyak-banyakin syukur deh.

Selamat malam.

Gresik, 27 Agustus 2017

Advertisements

11 thoughts on “Mati dalam Keadaan Tersenyum

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s