Sudahkah Tanamanmu Layak Dilabeli Organik?

Beberapa tahun belakangan, Indonesia sedang hangat issue tentang sayur dan buah organik. Trend konsumsi bahan pangan organik meningkat pesat. Hal ini dipicu oleh paradigma masyarakat yang mulai sadar akan pentingnya kesehatan. Mereka bilang, sayur organik lebih menyehatkan. Bebas bahan kimia, pestisida kimia, pupuk kimia, dll.

Pemahaman ini tentu saja baik. Tetapi apakah benar, pertanian 100% organik lebih baik / lebih sehat daripada pertanian kimiawi? Dan apa saja syarat sayur dan buah dapat dilabeli organik 100%?

Karena tak jarang, petani licik memanfaatkan peluang pasar yang terbuka lebar ini. Mereka labeli produk mereka dengan cap organik dan mendapatkan laba yang berlipat ganda. Harga tinggi serta permintaan yang membludak. Padahal konsep pertanian mereka kadang tak menjamin 100% organik.

Bahkan pemain hidroponik pun serta merta menyebut pertanian mereka modern, penuh dengan kelebihan, dan ironisnya menggembar-gemborkan bahwa produk mereka organik. Benarkah demikian? Simak selengkapnya dalam serba-serbi metode pertanian.

Sebelum jauh membahas tentang organik, kimiawi, dan konvensional, ada baknya kita belajar dasar terminologi-terminologi dalam dunia pertanian.

Pupuk adalah zat kimia sintesis atau organik yang telah diketahui kandungan unsur di dalamnya dan digunakan untuk memperkaya unsur hara yang dibutuhkan tumbuhan. Pupuk dibutuhkan petani untuk mencukupi nutrisi (unsur makro dan mikro) yang dibutuhkan tanaman. Pasalnya, tanah yang terus menerus dipakai tentu mengalami penurunan kadar hara. Oleh karenanya, pupuk penting bagi kelangsungan sustainability dalam dunia pertanian.

Pestisida adalah zat kimia sintetis atau organik yang digunakan oleh petani untuk membasmi atau mencegah kehadiran hama dan gulma. Hama adalah hewan yang akan merusak tumbuhan ketika semai, bibit, atau dewasa. Sedangkan gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan karena dapat mengurangi hasil panen pertanian. Pestisida sangat penting kegunaannya bagi para petani untuk meningkatkan hasil panennya. Baca juga selengkapnya tentang mengapa perlu meninggalkan pestisida kimiawi.

Konsep pertanian dapat dibagi menjadi dua bagian berdasarkan pupuk dan pestisida yang digunakan, yaitu konsep organik dan kimiawi (sintesis pabrik kimia). Organik dengan segala sesuatu menggunakan alur yang disediakan alam, melalui aktivitas organisme, berorientasi pada keseimbangan rantai makanan, keanekaragaman hayati, dan pemanfaatan energi alam. Sedangkan kimiawi berbasis sintesis buatan dipabrik-pabrik kimiawi.

Terminologi organik ini bukan mengacu pada tumbuhan yang makan zat organik. Sehingga disebut-sebut mereka lebih menyehatkan.

Pertanian organik sangat luas dimensinya. Label organik sangat mahal harganya. Mengandung pemaknaan yang sangat dalam. Organik berarti alamiah. Semua proses pertaniannya menggunakan alur dan jalur yang telah disediakan alam. Garis besarnya sebagai berikut:

·         Pupuk kompos

Pupuk yang digunakan adalah pupuk hayati. Pada dasarnya tanaman tidak dapat mencerna bahan organik (senyawa CxHy). Mereka adalah makhluk hidup yang makan bahan anorganik (ion-ion dan mineral dalam air) dan mengubahnya menjadi energi biomassa berupa karbohidrat dan CO2. Sehingga bahan organik seperti kotoran ayam, kotoran kambing, kotoran sapi, dedak, sampah organik tidak langsung dapat dimakan oleh tanaman. Lantas siapa yang memakan? Ia adalah mikroba pengurai yang hidupnya mengubah senyawa organik menjadi anorganik. Ia makhluk kecil, tetapi manfaatnya telah dapat menyeimbangkan rantai makanan seluruh makhluk hidup di dunia ini. Itu semua alamiah. Baca juga selengkapnya tentang pupuk hijau.

·         Pengendalian hama secara biologis

Hama, gulma, dan penyakit tanaman diatasi dengan bahan alami atau predatornya. Belalang, ulat, serangga, dan kupu-kupu dimakan oleh katak dan bunglon. Katak, bunglon, dan tikus dimakan oleh ular. Ular mati dimakan mikroba pengurai atau fungi. Keseimbangan rantai makanan dan piramida makhluk hidup sangat bermanfaat bagi keanekaragaman hayati dan keseimbangan lingkungan.

Dapat juga menggunakan senyawa alami larutan bawang putih, bawang merah, tembakau untuk membasmi hama serangga. Melalui rekayasa alamiah berupa pertanian ala tumpang sari, rotasi tanaman, pengaturan kepadatan tanaman, variasi tanaman, dan periode penanaman untuk mengentas gulma dan hama. Pembalikan tanah, matun (red: cabut gulma oleh buruh tani), pemotongan, dan pemberian mulsa juga dapat dilakukan untuk memberantas gulma. Dapat menyuburkan tanah.

·         Pengolahan tanah mekanis

Membrujul (membalik tanah) sawah ketika hendak ditanami adalah siasat untuk meningkatkan kesuburan dan kegemburan tanah. Juga dapat mengatur kadar air dan pemberian unsur hara.

·         Pengikat unsur-unsur alami

Pemanfaatan proses biologi mikroorganisme juga dapat dilakukan untuk mempertahankan kesuburan dan keberadaan unsur makro mikro penting dalam tanah. Memanfaatkan mikoriza jenis leguminosae untuk membantu mengikat nitrogen (fiksasi nitrogen) pada akar tumbuhan. Dan bakteri nitrosomonas untuk nitrifikasi, juga bakteri denitrifikasi, dan dekomposter untuk amonifikasi. Simbiosis tanaman dan bakteri/fungi juga dapat membantu penyuplaian nutrisi nitrogen, fosfor, dan unsur mikro lain. pH dapat dikontrol dengan kapur atau sulfur.

·         Pemuliaan tanaman tanpa rekayasa genetika

Kegiatan pengembangan bibit unggul dan tangguh dapat dilakukan dengan cara pemuliaan tanaman. Susunan genetik tanaman diubah melalui kawin silang dan benih hibrida unggul dalam ranah penangkaran dan pemeliharaan tertentu. Tanpa rekayasa genetika tentunya. Mutasi dalam pembelahan kromosom dan insert DNA modern lainnya.

Tidak serta merta pupuk kompos dan pestisida nabati sudah dapat dikatakan pertanian organik. Harus dipastikan lebih dalam lagi terlebih terkait wawasan lingkungan yang diusung dalam konsep pertaniannya. Tentang keanekaragaman hayati, keseimbangan rantai makanan, pemanfaatan tenaga alamiah (hewan ternak / mikrohidro) dan tanpa rekayasa genetika.

Lantas, apakah yang organik lebih menyehatkan daripada kimiawi? Jawabannya belum tentu. Organik sebenarnya lebih condong kepada ramah lingkungan. Tidak mencemari tanah, air, dan polusi udara.

Secara kandungan gizi, bisa jadi sama dengan pertanian yang mengusung konsep pupuk buatan. Karena pada dasarnya, tanaman mengonsumsi unsur hara tertentu (makro dan mikro yang anorganik). Bukan makan zat organik. Mau tani pupuk organik atau pupuk buatan, tanaman tetap makan zat anorganik.

Tabel perbandingan organik dan kimiawi

Perbandingan organik vs konvensional
Dokumen pribadi

Note: Tentang nutrisi apa saja yang dibutuhkan tanaman.

 

Bahkan tanaman yang mengonsumsi pupuk buatan dengan kadar yang tepat sesuai dosis kebutuhan tanaman, dapat menghasilkan tanaman dengan kualitas luar biasa, cepat panen, dan hasil berat.

Tetapi tentu saja dosis penggunaan pupuk buatan dan pestisida kimia harus dibatasi dan digunakan sewajarnya karena dapat meracuni tanaman. Dan residu pestisida kimia yang mengendap dalam tanaman akan berbahaya bagi herbivora dan manusia. Karena sebenarnya yang paling berbahaya adalah pestisida kimiawi. Ia dapat merusak alam dan segala isinya. Baca selengkapnya mengapa harus meninggalkan pestisida kimia?

Selanjutnya di Hafidhmind: Tanaman Hidroponikmu

Semoga bermanfaat.

Selamat malam.

Gresik, 21 Oktober 2017, 22:45 WIB

 

Advertisements

One thought on “Sudahkah Tanamanmu Layak Dilabeli Organik?

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s