Rangkaian Mimpiku

Suatu hari, saya memiliki sebuah impian yang ingin sekali saya wujudkan segera. Semakin hari, usia makin menua. Batas hidup manusia, mati, semakin dekat. Seolah menggugah dan mengejar saya untuk segera mewujudkan cita-cita yang menurut saya mulia ini. Berikut untaian mimpi-mimpi itu.

Melakukan aksi sosial membantu pemerataan pendidikan. Mencakup segala aspek. Baik berupa fasilitas sekolah terutama mengembangkan ruang baca di daerah terpencil yang masih belum memiliki perpustakaan yang memadai.

Kriteria perpustakaan yang kurang adalah:

  1. Tidak ada ruangan khusus perpustakaan / ruangan tak menarik
  2. Tidak ada sarana prasarana perpustakaan, seperti: rak buku, buku, dan tempat baca
  3. Fasilitas perpustakaan tak menarik, tak terawat, berdebu, kotor, buku lusuh, rusak
  4. Bukunya kurang dan tidak menarik

Memeratakan alat sekolah bagi sekolahan terutama untuk anak dahulu. Apa tujuan anak dulu menjadi sasaran? Untuk menumbuhkan kesadaran anak bersekolah dan juga mendorong keluarga untuk menyekolahkan anak-anaknya. Kebanyakan di daerah terpencil kesulitan untuk dapat baju seragam sekolah, sepatu, kaus kaki, topi, dasi dan perlengkapan lain. Banyak diantara mereka beralasan kurang mampu untuk membeli peralatan sekolah. Kalaupun mereka sekolah, kadang seragamnya berbeda, ada yang pramuka ada yang merah putih, ada yang memakai sandal, ada pula yang bahkan tak memakai seragam karena tak punya salinan untuk dipakai esok hari.

Di sisi lain, di perkotaan terutama di Jawa sini, banyak pakaian seragam sekolah tak dipakai dan tersimpan di lemari saja. Belum lagi buku, buku disini setiap kali ganti kurikulum yang tak jelas tetek bengeknya mesti digeletakkan begitu saja. Habis masa sekolah hanya menjadi kiloan di timbangan untuk dirongsokkan. Padahal jauh disana, di pedalaman negeri sana, banyak yang membutuhkan buku tersebut. Miris sekali melihatnya. Daripada rusak karena tak dipakai mending disalurkan ke anak lain di pelosok nusantara yang belum menikmati kerennya seragam sekolah dan apiknya buku disini. Bagaimanapun kondisinya, akan tetap bermanfaat.

Bahkan yang paling menyakitkan ketika para pelajar hura hura di jalan merayakan kelulusannya dengan mencorat-coret seragam sekolahnya. Merusak seragam dan membuangnya ke tempat sampah. Sungguh miris sekali melihat di suatu sudut negeri masih kerepotan menggunakan seragam, malah disini dirusak dan dicorat coret.

Berangkat dari beberapa alasan itu, saya bermimpi bisa menjadi pelopor untuk menyalurkan pakaian, buku, dan alat sekolah ke pedalaman negeri yang masih belum bisa merasakan manisnya pendidikan dan pemerataan pendidikan.

Menimbun Harta Secukupnya Saja

Buat apa menumpuk banyak uang hanya untuk kepuasan pribadi, menimbun pundi-pundi uang. Mending secukupnnya saja, misal masih bisa bertahan hidup 30 hari lagi ya sudah cukuplah. Selebihnya salurkan guna kebermanfaatan. Toh hidup ini terbatas. Kita tak mungkin bawa harta kita ke liang lahat. Berikan bantuan saja pada orang lain di luar sana yang lebih membutuhkan.

Nantinya juga program ini dapat dijadikan organisasi sosial yang mewadahi orang untuk dapat menyisihkan sebagian uangnya untuk didonasikan dan disalurkan untuk keperluan pembangunan pendidikan. Misalnya ada anak yang tak mau sekolah karena letak sekolah yang jauh dan tak ada angkutan umum. Segelintir orang mau berkorban mengeluarkan gajinya untuk membeli mobil dan mengangkut anak sekolah tersebut. Kita bisa mendanai bensinya atau bahkan membeli angkutan umumnya. Dan biar warga sekitar nanti yang membiayai sendiri bensinnya serta ongkos bagi supirnya. Jadi mereka bisa berkembang sendiri, kita tak memberikan dana tunai tapi memberikan wadah agar mereka berkembang sendiri, meningkatkan tingkat pendidikan sendiri. Disini kita akan menfasilitasi saja, membantu meringankan suatu yang tak bisa ditanggungnya dengan kondisinya yang seperti itu.

Dan itu akan indah sekali jika terwujud. Dan sepertinya tak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari orang lain yang dapat menjalankan sekaligus menjadi partner saya. Tanpa berserikat, tak akan bisa. Bisa pun mungkin akan berdampak kecil dan tak mampu berkembang pesat. Iya kan?

So, siapa pun yang tertarik, monggo bekerja sama demi terwujudnya Indonesia yang lebih maju dalam segala bidang melalui jalan utama yaitu perbaikan pendidikan. Karena saya yakin, negara tak akan maju kalau tingkat pendidikannya rendah.

Semoga dapat terwujud segera. Saya masih berumur 20 tahun. Di umur 21 tahun setidaknya sudah ada bukti kongkret saya mulai membangun untuk mewujudkannya.

Aamiin.

Advertisements

2 thoughts on “Rangkaian Mimpiku

  1. keren hafidh… sedikit berbagi pengalaman. pertama kuliah, saya sedikit kaget dengan biaya hidup murah di daerah sby. karena kondisi pendidikan di daerah saya, sekolah saya yang notabene termasuk sekolah dengan fasilitas paling banyak (bukan paling lengkap), masih saja merasa berbeda ketika hidup di jawa.
    Ini sedikit ulasan tentang kondisi pendidikan di Sorong.

    1. Sorong termasuk kota dengan tingkat pendidikan lengkap selain Jayapura dan Manokwari. Terkait transportasi, tergolong mudah dan murah. Bahkan lebih murah dari pada angkot di Sby, anti macet, dan nyaman. Angkot, salah satu kebanggaan orang Sorong. Jadi, masalah transportasi, mungkin sudah memenuhi dalam sistem pendidikan di Sorong. Tapi mungkin berbeda dengan yang tinggal di daerah pegunungan. Yang jalannya masih jarang di aspal. sehingga distribusi barang masih sedikit sulit disana. Ini point permasalahan pertama.

    2. Karena distribusi masih sulit di kota2 yang jalannya masih belum bagus, akibatnya, barang jadi mahal. Baju mahal, buku mahal, sepatu mahal, intinya serba mahal.

    3. Karena buku mahal, akibatnya jarang ada murid yang punya buku pelajaran, hanya beberapa gelintir, yang mungkin orang tuanya cukup berpunya. Ini juga masih terjadi di Sorong hingga saat ini. Akhirnya murid2nya lebih memilih untuk foto copy buku milik gurunya. Tapi jangan berfikir juga kalo foto copy disana murah. Jaman saya SMA dulu, foto copy sekitar 250 rupiah per lembar. itu jaman dulu, antara tahun 2009-2012. Entah sekarang, mungkin sudah mencapai 500 rupiah. Ini yang dibutuhkan selain transportasi yang mudah, FOTO COPY yang “berkeprisiswaan”. hahaha.

    4. Kalo di kampus, kita mikir “gak ada handbook, ebook pun jadi”. Tapi masalahnya adalah, disana ngenet mahal. jaman saya SMA (lagi), 1 jam harganya 10 rb. itu 1 jam, dan jaman saya SMA. entah sekarang udah berapa. jelas beda banget sama di jawa, yang setiap jam bisa kita lihat anan2 SD keluar masuk warnet untuk main game.
    Ini yang jadi kebutuhan dalam sistem pendidikan di Papua. “Ngenet dengan harga merakyat”.

    5. Kondisi Lab. Jangan kaget kalo nemu orang Sorong (baca:saya) yang bingung bahkan shock melihat alat2 lab. Disana, mungkin beberapa sekola sudah punya fasilitas lab. Tapi setiap kali praktikum, hanya sang guru yang menggunakan. Cz, alatnya cuma satu. Muridnya, jadi penonton.

    6. Kualitas guru. Gak jarang guru biologi juga jadi guru fisika. jadinya, ngajarnya fisika kebiologi-biologian. Atau guru MTK ngerangkep jadi guru BK, akhirnya murid2 gak ada yang berani curhat. Bahkan, sering karena guru itu gak terlalu punya kompetensi di bidang yang “didobelinya”, endingnya sang guru hanya bercerita tentang hikayat, legenda dan kisah hidupnya. Kalau saja SPd dari PT besar di daerah Jawa, mau bekerja disana, mungkin murid2nya gak gaptek juga gaplab (gagap laboratorium).

    1. Oke, makasih banyak ya, akan jadi pertimbangan dan bahan motivasi bagiku dan nantinya juga orang yang berpemikiran sepertiku untuk bisa membantu memeratakan pendidikan di negeri ini, miris banget lihat kesenjangan Jawa dan pulau lain di nusantara. Huhuh, semoga cepet terealisasi, aamiin 🙂

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s